Disambut Hangat Dubes RI di Uzbekistan, Perjalanan Kakek-Nenek Keliling Dunia Penuh Kisah Persahabatan
RAU - Friday, 30 October 2026 | 06:57 PM


Kakek-Nenek Keliling Dunia Disambut Hangat Dubes RI di Uzbekistan, Perjalanan Penuh Cerita Persahabatan
Perjalanan keliling dunia menggunakan kendaraan pribadi membawa pengalaman membanggakan bagi pasangan asal Aceh, T. Faisal Laksamana (65) dan dr. Indriati (61). Setibanya di Tashkent, ibu kota Uzbekistan, keduanya mendapat sambutan hangat dari Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Uzbekistan, Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A.
Sambutan tersebut menjadi momen istimewa setelah pasangan yang dikenal sebagai Kakek-Nenek Keliling Dunia itu melewati sejumlah negara di Asia Tenggara dan Asia Tengah, termasuk China, Kazakhstan, serta Kyrgyzstan.
Pasangan yang kini berdomisili di Padangsidimpuan, Sumatera Utara, tersebut mengaku bahagia karena dapat bersilaturahmi langsung dengan perwakilan Indonesia di luar negeri.
Merasa Terhormat Diterima di KBRI Tashkent
Kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tashkent menjadi salah satu agenda penting selama mereka berada di Uzbekistan.
Faisal dan Indriati mengungkapkan rasa terima kasih atas keramahan Dubes RI beserta seluruh jajaran kedutaan yang telah menerima kedatangan mereka.
"Kami merasa sangat tersanjung dan bahagia dapat diterima dengan begitu ramah. Terima kasih banyak, Ibu Dubes. Semoga segala kebaikan Ibu mendapat balasan terbaik dari Allah SWT," ungkap Faisal dan Indriati kepada ANTARA, Rabu.
Bagi keduanya, pertemuan tersebut bukan sekadar kunjungan resmi, tetapi juga menjadi pengalaman membanggakan sebagai warga Indonesia yang sedang menjalani perjalanan panjang melintasi berbagai negara.
Menghadapi Tantangan Sebelum Tiba di Uzbekistan
Sebelum mencapai Tashkent, Faisal dan Indriati telah melewati sejumlah pengalaman yang tidak mudah.
Salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah perjalanan di Kyrgyzstan serta proses pemeriksaan di perbatasan Uzbekistan yang berlangsung lebih dari lima jam.
Lamanya pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari tantangan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi lintas negara. Setiap wilayah memiliki prosedur dan ketentuan yang harus dipenuhi sebelum pelancong dapat melanjutkan perjalanan.
Meski demikian, berbagai hambatan tersebut tidak membuat keduanya kehilangan semangat untuk meneruskan ekspedisi.
Keramahan Warga Uzbekistan Mengobati Kelelahan
Di balik tantangan perjalanan, Faisal dan Indriati justru menemukan banyak pengalaman menyenangkan dari masyarakat setempat.
Salah satu momen berkesan terjadi ketika keduanya selesai menunaikan salat Asar di sebuah masjid. Petugas masjid menyambut mereka dengan ramah dan bahkan menyediakan makanan.
Tidak hanya itu, seorang warga Uzbekistan juga mengajak pasangan tersebut berkunjung ke kebun anggur miliknya. Mereka kemudian diberikan buah anggur untuk bekal melanjutkan perjalanan.
Perhatian sederhana tersebut memberikan kesan mendalam bagi Faisal dan Indriati. Mereka merasakan bahwa keramahan dan kepedulian dapat ditemukan meskipun berada jauh dari negara sendiri.
Bertemu Sesama Warga Indonesia di Tashkent
Kehangatan perjalanan juga semakin terasa ketika Faisal dan Indriati bertemu dengan sesama warga Indonesia yang tinggal di Uzbekistan.
Mereka berkenalan dengan Danu dan istrinya, warga asal Bangka Belitung yang tergabung dalam komunitas Campervan Indonesia Bangka Belitung.
Pasangan tersebut menyambut Faisal dan Indriati dengan menjamu mereka makan malam. Bahkan, Danu dan istrinya menawarkan tempat menginap selama keduanya berada di Tashkent.
Selain itu, Faisal dan Indriati juga berkesempatan bersilaturahmi dengan Khamdun, seorang warga Indonesia yang telah lama menetap di ibu kota Uzbekistan tersebut.
Pertemuan dengan sesama orang Indonesia menjadi pengalaman yang sangat berarti. Di tengah perjalanan jauh, mereka kembali merasakan kehangatan persaudaraan meskipun berada ribuan kilometer dari Tanah Air.
Perjalanan yang Mengajarkan Arti Persahabatan
Ekspedisi The Great Overland Journey bukan hanya tentang menempuh jarak panjang menggunakan kendaraan pribadi. Perjalanan tersebut juga mempertemukan Faisal dan Indriati dengan berbagai kebudayaan, kebiasaan, serta masyarakat dari negara yang mereka kunjungi.
Pengalaman di Uzbekistan memperlihatkan bahwa perjalanan tidak selalu diukur dari banyaknya tempat yang berhasil didatangi. Sambutan hangat, bantuan sederhana, dan pertemuan dengan orang-orang baik justru dapat menjadi kenangan yang paling berharga.
Bagi pasangan yang kini tinggal di Padangsidimpuan itu, setiap tantangan merupakan bagian dari pembelajaran, sedangkan setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk membangun hubungan baru.
Kisah Kakek-Nenek Keliling Dunia tersebut sekaligus menunjukkan bahwa semangat menjelajah tidak harus berhenti karena bertambahnya usia. Dengan keberanian dan persiapan, mereka terus mewujudkan impian sekaligus membawa nama Indonesia dalam perjalanan lintas negara.
Next News

Anggaran BPBD Madina Rp489 Juta, Dana Bencana Tersedia Rp5,6 Miliar
in 4 hours

Pemkab Aceh Selatan Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir Selama 14 Hari
2 hours ago

Prakiraan Cuaca di Sumatera Utara Sabtu 31 Oktober 2026: Mayoritas Hujan Ringan, 7 Wilayah Berawan
6 hours ago

Jelajahi Padang Tandus China-Kazakhstan, Kakek-Nenek Keliling Dunia Cicipi Steak Daging Kuda di Almaty
20 hours ago

Suhu China Turun hingga 4 Derajat Celsius, Kakek-Nenek Keliling Dunia Tetap Lanjutkan Ekspedisi
20 hours ago

Lewati Puluhan Terowongan Pegunungan China, Kakek-Nenek Keliling Dunia Tiba di Chengdu
20 hours ago

Masuk China dengan Mobil Sendiri, Kakek-Nenek Keliling Dunia Hadapi Pemeriksaan Ketat di Perbatasan
20 hours ago

Tertahan Tiga Hari di Perbatasan Malaysia, Kakek-Nenek Keliling Dunia Hadapi Masalah Dokumen Kendaraan
20 hours ago

Filter Oli Sulit Ditemukan di Thailand, Kakek-Nenek Keliling Dunia Hadapi Tantangan Menuju Laos
20 hours ago

Setelah Hampir Sebulan Menunggu, Kakek-Nenek Keliling Dunia Akhirnya Terima Mobil Ekspedisi di Malaysia
20 hours ago





