Kenapa Makanan di Pesawat Terasa Hambar? Bukan Salah Koki, Ini Penjelasan Ilmiahnya
RAU - Tuesday, 30 June 2026 | 03:17 PM


Hampir semua orang yang pernah bepergian dengan pesawat memiliki pengalaman yang sama.
Saat pramugari membagikan makanan, tampilannya terlihat cukup menggugah selera. Namun setelah dicicipi, rasanya sering kali dianggap kurang gurih, kurang manis, bahkan cenderung hambar.
Tak sedikit yang kemudian menyimpulkan bahwa makanan pesawat memang tidak enak.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Para ilmuwan menemukan bahwa yang berubah bukan hanya makanannya, tetapi juga cara tubuh kita merasakan makanan.
Dengan kata lain, lidah dan hidung kita bekerja sedikit berbeda ketika berada di dalam kabin pesawat.
Kabin Pesawat Bukan Lingkungan yang Normal
Meski terasa nyaman, kondisi di dalam pesawat sebenarnya sangat berbeda dibandingkan di permukaan bumi.
Saat pesawat mengudara di ketinggian sekitar 10–12 kilometer, tekanan udara di luar sangat rendah. Kabin memang diberi tekanan buatan agar penumpang tetap bisa bernapas dengan nyaman, tetapi tekanannya tetap lebih rendah dibandingkan di permukaan laut.
Selain itu, kelembapan udara di dalam kabin biasanya hanya sekitar 10–20 persen, jauh lebih rendah daripada kelembapan di rumah yang umumnya berkisar 40–60 persen.
Udara yang kering inilah yang mulai memengaruhi indra penciuman.
Saat Hidung Kurang Peka, Lidah Ikut Terpengaruh
Apa yang kita sebut sebagai "rasa" ternyata bukan hanya berasal dari lidah.
Sebagian besar pengalaman menikmati makanan justru dibantu oleh indra penciuman.
Ketika udara kabin sangat kering, selaput lendir di hidung menjadi lebih kering sehingga kemampuan mencium aroma makanan ikut menurun.
Akibatnya, makanan yang sebenarnya memiliki rasa normal akan terasa kurang kuat.
Penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi penerbangan, sensitivitas terhadap rasa manis dan asin dapat menurun hingga sekitar 30 persen.
Inilah alasan mengapa makanan favorit di darat bisa terasa biasa saja saat dinikmati di pesawat.
Bukan Berarti Maskapai Tidak Bisa Memasak
Banyak orang mengira maskapai menyajikan makanan yang hambar karena ingin menghemat biaya.
Padahal, perusahaan katering penerbangan justru menghadapi tantangan yang lebih rumit.
Menu yang disiapkan di dapur harus tetap terasa enak setelah:
dimasak beberapa jam sebelumnya,
didinginkan,
diangkut ke pesawat,
dipanaskan kembali sebelum disajikan,
lalu dimakan dalam kondisi tekanan udara dan kelembapan yang berbeda.
Karena itu, chef yang merancang menu penerbangan sering kali menambahkan bumbu, rempah, atau bahan beraroma kuat agar rasanya tetap seimbang ketika disantap di udara.
Kenapa Jus Tomat Justru Terasa Lebih Enak?
Ada satu fakta unik yang sudah lama menarik perhatian peneliti.
Banyak penumpang yang tidak pernah memesan jus tomat di darat, tetapi menikmatinya saat berada di pesawat.
Fenomena ini bukan kebetulan.
Menurut penelitian dari Fraunhofer Institute di Jerman, kondisi kabin membuat rasa manis berkurang, sementara cita rasa umami—rasa gurih alami—justru menjadi lebih menonjol.
Karena jus tomat kaya akan rasa umami, minuman ini terasa lebih lezat ketika diminum di ketinggian.
Suara Mesin Pesawat Juga Berpengaruh
Bukan hanya lidah dan hidung.
Telinga ternyata ikut memengaruhi pengalaman makan.
Penelitian dari para ilmuwan di University of Oxford menunjukkan bahwa suara bising mesin pesawat dapat mengurangi kemampuan seseorang merasakan rasa manis, tetapi membuat sensasi gurih lebih dominan.
Artinya, lingkungan sekitar ikut memengaruhi cara otak menafsirkan rasa makanan.
Apakah Semua Orang Mengalaminya?
Sebagian besar penumpang akan mengalami penurunan sensitivitas rasa, tetapi tingkatnya tidak selalu sama.
Beberapa faktor yang ikut memengaruhi antara lain:
usia,
kondisi kesehatan,
pilek atau hidung tersumbat,
kebiasaan merokok,
serta kelelahan selama perjalanan.
Karena itu, ada orang yang tetap menikmati makanan pesawat, sementara yang lain merasa rasanya sangat hambar.
Bagaimana Maskapai Mengatasinya?
Maskapai penerbangan terus berinovasi agar makanan tetap menggugah selera.
Beberapa cara yang dilakukan antara lain:
menggunakan rempah-rempah yang lebih kaya aroma;
menambahkan bahan dengan rasa umami alami, seperti tomat, jamur, atau keju;
memilih menu yang tetap lezat meski dipanaskan kembali;
mengurangi makanan yang mudah kehilangan tekstur.
Bahkan, beberapa maskapai bekerja sama dengan chef terkenal untuk merancang menu khusus yang disesuaikan dengan kondisi kabin.
Jika suatu hari Anda merasa makanan di pesawat kurang enak, jangan buru-buru menyalahkan kokinya.
Bisa jadi, justru lidah dan hidung Anda yang sedang bekerja dengan cara berbeda.
Tekanan udara, kelembapan kabin, dan bahkan suara mesin pesawat membuat kemampuan mengecap rasa berubah untuk sementara.
Itulah sebabnya, menikmati makanan di pesawat bukan sekadar soal resep, tetapi juga soal bagaimana tubuh manusia beradaptasi di ketinggian ribuan meter.
Next News

Mengapa Kita Sering Mengecek Ponsel Begitu Bangun Tidur? Ini Alasan Psikologisnya
14 hours ago

Mengapa Karakter Kartun Sering Terlihat Memiliki Mata yang Besar? Ini Alasannya
2 hours ago

Mengapa Kita Masih Suka Menonton Kartun Meski Sudah Dewasa? Ini Alasannya
2 hours ago

Apa Itu Digital Eye Strain dan Bagaimana Cara Mencegahnya?
4 hours ago

Apa Penyebab Sariawan yang Muncul Berulang Kali? Kenali Pemicu dan Kapan Harus Diperiksa
4 hours ago

Alat Dapur Tradisional yang Ternyata Masih Relevan hingga Sekarang
4 hours ago

Mengapa Matcha Terus Menjadi Tren di Kalangan Anak Muda? Ini Alasannya
4 hours ago

Suka Berbicara? Ini Jurusan Kuliah yang Bisa Kamu Pertimbangkan
4 hours ago

Pernah Merasa Waktu Berjalan Lambat? Ini yang Mungkin Terjadi di Otak
4 hours ago

Mengenal Pohon Karet, Tanaman Penghasil Getah yang Banyak Dimanfaatkan dalam Kehidupan
4 hours ago





