Duh, Lagi Pusing atau Lagi Tensi? Alasan Kenapa Stres Bisa Bikin Tekanan Darah Naik
Tata - Thursday, 03 September 2026 | 09:25 AM


Lagi Pusing atau Lagi Tensi? Alasan Kenapa Stres Bisa Bikin Darah Berdesir Kencang
Pernah nggak sih kamu lagi asyik-asyiknya dikejar deadline, terus tiba-tiba merasa leher bagian belakang kaku banget? Atau pas lagi kena omel bos gara-gara typo sepele di laporan, rasanya jantung kayak lagi konser rock di dalam dada? Nah, kalau kamu iseng ngecek tensi di saat-saat penuh drama kayak gitu, jangan kaget kalau angkanya mendadak "meroket" ke zona merah. Fenomena ini bukan sihir, bukan juga karena kamu mendadak jadi pengidap hipertensi kronis dalam semalam. Ini adalah cara tubuh kita merespons kekacauan hidup yang kita sebut sebagai stres.
Masalahnya, banyak dari kita yang menganggap stres itu cuma urusan mental atau perasaan doang. Padahal, tubuh kita itu satu paket lengkap yang saling terhubung. Begitu otak kita ngerasa ada "ancaman"—pilihannya cuma dua: lawan atau kabur (fight or flight). Sayangnya, ancaman zaman sekarang bukan lagi harimau di tengah hutan, tapi notifikasi WhatsApp dari grup kantor di hari Minggu atau tagihan paylater yang mulai menghantui. Mari kita bedah kenapa stres harian ini bisa bikin tensi kamu naik turun kayak roller coaster.
Hormon-Hormon yang Lagi 'Party' di Dalam Tubuh
Bayangkan tubuh kamu adalah sebuah kota besar yang tenang. Tiba-tiba, ada alarm bahaya berbunyi karena otak (si pusat komando) mendeteksi adanya stres. Seketika itu juga, kelenjar adrenal kamu bakal memproduksi "pasukan khusus" bernama hormon adrenalin dan kortisol. Nah, hormon-hormon inilah biang keladi utamanya.
Adrenalin itu ibarat booster mesin. Tugasnya adalah mempercepat detak jantung supaya aliran darah ke otot-otot besar makin kencang. Logikanya, kalau kamu mau berantem atau lari dari masalah, kamu butuh tenaga ekstra, kan? Efek sampingnya, ya denyut nadi jadi lebih cepat dan tekanan darah otomatis naik. Sementara itu, si kortisol punya peran lain. Dia bakal mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi). Ibarat selang air yang kamu pencet ujungnya, tekanannya pasti bakal jadi lebih kuat dan kencang. Itulah gambaran sederhana kenapa tensi kamu berubah saat lagi pusing mikirin cicilan.
Efek Domino: Bukan Cuma Soal Marah-Marah
Banyak orang salah kaprah, mikirnya tensi naik itu cuma kalau kita lagi marah-marah sampai banting pintu. Padahal, stres yang sifatnya "silent" atau terpendam juga punya efek yang sama bahayanya. Misalnya, perasaan cemas yang nggak kunjung hilang atau rasa nggak aman (insecure) soal masa depan. Tubuh yang terus-terusan dalam kondisi siaga stres bakal bikin sistem saraf simpatik kita bekerja lembur tanpa henti.
Selain soal hormon tadi, stres biasanya membawa "teman-teman" nakal lainnya yang bikin tensi makin nggak karuan. Coba ingat-ingat, kalau lagi stres, biasanya pola hidup kita jadi berantakan, kan? Ada yang pelariannya ke kopi berkali-kali dalam sehari, ada yang jadi ngerokok lebih banyak, atau makan makanan asin dan berlemak (comfort food) buat nenangin diri. Hal-hal eksternal ini sebenarnya adalah faktor pengali yang bikin tekanan darah kamu makin susah buat diajak kompromi.
Fenomena 'White Coat Hypertension' yang Unik
Ada satu hal lucu sekaligus menyebalkan dalam dunia medis yang namanya White Coat Hypertension alias Hipertensi Jas Putih. Ini sering banget terjadi. Kamu merasa sehat-sehat saja di rumah, tapi begitu masuk ruang praktik dokter dan melihat orang pakai baju putih bawa alat tensi, tiba-tiba kamu deg-degan. Pas dicek, lho, kok tensinya 150/90? Padahal biasanya normal.
Ini adalah bukti nyata betapa cepatnya pikiran memengaruhi fisik. Rasa cemas di bawah alam sadar karena "takut didiagnosis sakit" malah memicu tubuh untuk menaikkan tensi saat itu juga. Jadi, kalau kamu merasa tensimu tinggi cuma pas di RS, mungkin kamu memang lagi stres sama suasana medisnya, bukan beneran punya darah tinggi yang permanen.
Kapan Kita Harus Mulai Panik?
Sebenarnya, lonjakan tensi gara-gara stres itu sifatnya sementara. Begitu masalah selesai atau kamu sudah bisa merasa rileks, biasanya angka tensi bakal turun lagi ke zona nyaman. Tubuh kita itu canggih, dia punya tombol "reset" alami. Namun, ceritanya bakal beda kalau stresnya bersifat kronis—alias tiap hari, tiap jam, dan nggak ada habisnya.
Kalau tubuh terus-terusan digempur hormon stres, pembuluh darah bisa mengalami kerusakan jangka panjang. Ini ibarat pipa yang terus-terusan dialiri air dengan tekanan super tinggi, lama-lama pipanya bisa pecah atau minimal jadi kaku. Inilah yang nantinya berujung pada hipertensi sungguhan yang butuh obat-obatan seumur hidup. Jadi, kalau kamu merasa stresmu sudah mulai bikin sakit kepala nggak hilang-hilang atau pandangan kabur, itu tandanya tubuhmu sudah kirim sinyal SOS.
Cara Ngademin Tensi Tanpa Harus Jadi Biksu
Kita nggak mungkin bisa menghilangkan stres 100% kecuali kita pindah ke planet lain atau tinggal di hutan tanpa sinyal internet. Tapi, kita bisa mengelola respons tubuh kita. Nggak perlu muluk-muluk harus meditasi berjam-jam kalau memang nggak sempat. Hal-hal simpel kayak latihan pernapasan (deep breathing) selama 5 menit pas lagi pusing-pusingnya itu ngefek banget buat nurunin sistem saraf yang lagi tegang.
Selain itu, kurang-kurangin deh yang namanya "doomscrolling" atau ngelihatin kesuksesan orang lain di sosmed pas mental lagi drop. Fokus ke hal-hal kecil yang bisa dikontrol. Ingat, tensi itu indikator kesehatan, bukan angka yang harus kamu kompetisikan. Kalau lagi tinggi, ya coba istirahat dulu, minum air putih, dan tidur lebih awal. Kadang, obat paling ampuh buat tensi yang naik gara-gara stres itu cuma satu: masa bodoh sama masalah yang emang nggak bisa kita selesaikan hari itu juga.
Kesimpulannya, stres dan tensi itu kayak pasangan yang nggak bisa dipisahkan tapi hobi berantem. Pikiran yang semrawut bakal bikin fisik ikut "ribut". Jadi, mulai sekarang, kalau mau tensi stabil, jangan cuma jaga asupan garam, tapi jaga juga asupan pikiran. Tetap waras, tetap santai, karena nggak ada deadline yang lebih berharga daripada kesehatan jantungmu sendiri.
Next News

Pelangi Muncul Setelah Hujan, Tapi Mengapa Bentuknya Melengkung?
3 hours ago

Bawang Dipotong Bikin Menangis, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Mata?
3 hours ago

Mengapa Rasa Pedas Bisa Membuat Tubuh Terasa Panas?
3 hours ago

Telur Rebus Bisa Punya Lingkaran Hijau, Apakah Masih Aman Dimakan?
3 hours ago

Awan Gelap Belum Tentu Hujan, Ini yang Sebenarnya Terjadi
3 hours ago

Kenapa Wortel Berwarna Oranye? Ternyata Ada Cerita di Baliknya
12 hours ago

Kenapa Telur Goreng Bisa Punya Pinggiran Renyah dan Bagian Tengah Lembut? Ternyata Ini Rahasianya
12 hours ago

Pernah Bertanya Kenapa Telur Mudah Pecah, Tapi Tidak Saat Berada di Dalam Tubuh Ayam?
12 hours ago

Kenapa Ada Telur yang Cangkangnya Putih dan Ada yang Cokelat? Ternyata Bukan Soal Kualitas
12 hours ago

Telur Direbus Terlalu Lama, Kenapa Kuningnya Bisa Berubah Warna? Ternyata Ini Penyebabnya
12 hours ago





