Sabtu, 5 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bawang Dipotong Bikin Menangis, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Mata?

Laila - Saturday, 05 September 2026 | 12:00 PM

Background
Bawang Dipotong Bikin Menangis, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Mata?

Drama di Balik Talenan: Kenapa Bawang Merah Bikin Kita Nangis Bombay?

Pernah nggak sih kamu lagi semangat-semangatnya mau masak nasi goreng atau sekadar bantuin Ibu di dapur, tapi baru tiga irisan bawang merah saja, air mata sudah bercucuran deras? Bukan karena teringat cicilan pinjol atau diputusin pacar pas lagi sayang-sayangnya, tapi murni karena serangan "gas beracun" dari si bulat kecil berwarna merah ini. Rasanya perih, mata merah, dan hidung pun mulai ikutan meler. Drama dapur ini sudah jadi rahasia umum, tapi pertanyaannya: kenapa sih bawang yang nggak punya perasaan ini bisa bikin kita nangis seheboh nonton drakor?

Jujurly, bawang merah itu sebenarnya punya mekanisme pertahanan diri yang cukup canggih. Bayangin aja, dia itu tumbuhan yang tumbuh di dalam tanah. Di sana, banyak banget musuh yang mau makan dia, mulai dari ulat, tikus, sampai jamur. Nah, supaya nggak gampang dimakan, bawang berevolusi jadi punya "senjata kimia". Jadi, saat kamu mengiris bawang, kamu sebenarnya lagi menghancurkan sel-sel di dalamnya dan memicu sebuah reaksi perang kimia yang luar biasa efisien.

Sains di Balik Air Mata: Bukan Sekadar Pedas

Mari kita bedah sedikit secara ilmiah tapi santai. Di dalam sel bawang, ada enzim yang namanya allinase. Enzim ini biasanya tersimpan rapi dan terpisah dari senyawa lain. Namun, begitu pisau tajam kamu merobek jaringan bawang, sel-sel itu pecah dan enzim allinase tadi bertemu dengan asam amino sulfoksida. Pertemuan ini menghasilkan sesuatu yang disebut asam sulfenat.

Nah, di sinilah keajaibannya (atau penderitaannya) dimulai. Ada satu enzim lagi bernama Lachrymatory Factor Synthase yang mengubah asam sulfenat tadi menjadi gas bernama syn-propanethial-S-oxide. Gas inilah yang terbang bebas ke udara dan akhirnya mendarat dengan manis di kornea mata kamu. Nama gasnya memang ribet, seribet hubungan yang nggak ada statusnya, tapi efeknya ke mata itu instan banget.

Begitu gas ini menyentuh lapisan air yang melumasi mata kita, dia mengalami reaksi kimia lagi dan berubah menjadi asam sulfat dalam dosis yang sangat kecil. Ya, kamu nggak salah baca, asam sulfat! Walaupun kadarnya sangat rendah, mata kita itu organ yang super sensitif. Begitu otak mendeteksi ada zat asing yang bersifat asam menyentuh mata, saraf di kornea langsung mengirim sinyal darurat ke otak: "Woi, ada serangan! Keluarin air mata sekarang buat bilas!"



Mata Merah dan Refleks yang Tak Terbendung

Air mata yang keluar saat kita mengiris bawang itu disebut sebagai air mata refleks. Beda banget sama air mata emosional yang keluar pas kamu lagi sedih. Air mata refleks ini tujuannya cuma satu: membersihkan permukaan mata dari zat iritan. Semakin banyak gas yang dihasilkan bawang, semakin deras air mata yang keluar karena tubuh kita berusaha keras "mencuci" mata dari si asam sulfat mini tadi.

Lucunya, kadang kita malah makin bikin parah keadaannya. Karena merasa perih, reflek tangan kita langsung ngucek-ngucek mata. Padahal, tangan kita mungkin masih belepotan sari bawang. Akhirnya? Bukannya makin reda, yang ada malah mata makin merah dan perihnya nggak karuan. Itu ibaratnya kayak kamu lagi kebakaran, bukannya nyiram air, malah nyiram bensin. Zonk banget, kan?

Kenapa Ada Orang yang Lebih "Tahan Banting"?

Mungkin kamu pernah lihat temen atau chef di YouTube yang ngiris bawang sebaskom tapi matanya biasa aja, kayak nggak punya beban hidup. Apakah mereka punya kekuatan super? Nggak juga. Ketahanan setiap orang terhadap iritasi gas bawang itu beda-beda. Ada yang korneanya sensitif banget, ada yang lebih tangguh. Selain itu, jenis bawangnya juga berpengaruh. Bawang merah biasanya jauh lebih "galak" dibanding bawang bombay karena konsentrasi senyawanya lebih tinggi.

Selain itu, ketajaman pisau juga kunci. Pisau yang tumpul nggak bakal mengiris sel bawang dengan rapi, melainkan justru "menghancurkan" atau memar-memarkan selnya. Semakin banyak sel yang hancur karena pisau tumpul, semakin banyak gas kimia yang dilepaskan ke udara. Jadi, kalau mau minim drama, pastikan pisaumu setajam omongan tetangga.

Tips Biar Nggak Nangis Bombay Lagi

Banyak banget mitos dan tips yang beredar soal cara mengatasi drama bawang ini. Ada yang bilang harus gigit sendok, pakai kacamata renang (ya kalau nggak malu sih silakan), sampai ada yang bilang jangan sambil mikirin mantan. Tapi secara logis, ada beberapa cara yang beneran bisa dicoba:



  • Dinginkan Bawang: Masukkan bawang ke kulkas sekitar 15-30 menit sebelum dipotong. Suhu dingin bakal memperlambat reaksi kimia di dalam bawang, jadi gas yang keluar nggak akan seagresif biasanya.
  • Gunakan Pisau Super Tajam: Seperti yang dibahas tadi, pisau tajam bikin kerusakan sel lebih minim, jadi gas yang dilepaskan juga lebih sedikit.
  • Potong di Dekat Aliran Udara atau Kipas: Nyalakan kipas angin yang arahnya menjauh dari wajahmu. Tujuannya supaya gas yang keluar langsung tertiup angin dan nggak sempat mampir ke mata kamu.
  • Potong di Bawah Air atau Air Mengalir: Ini agak ekstrem sih, tapi air bisa menyerap gas itu sebelum sempat terbang ke mata. Cuma ya hati-hati tangan kepotong ya.
  • Jangan Potong Bagian Akar Dulu: Bagian akar bawang punya konsentrasi sulfur paling tinggi. Biarkan bagian akarnya utuh sampai potongan terakhir supaya gasnya nggak langsung meledak keluar.

Kesimpulan: Harga Kecil untuk Rasa yang Besar

Pada akhirnya, menangis gara-gara bawang adalah bagian dari ritual memasak yang harus kita terima dengan lapang dada. Meskipun perihnya minta ampun, kita semua tahu kalau masakan tanpa bawang itu rasanya bakal hambar kayak hidup tanpa tujuan. Bawang adalah koentji dari kelezatan masakan nusantara mulai dari soto, rendang, sampai tumis kangkung sederhana.

Jadi, kalau lain kali kamu nangis pas lagi di dapur, nggak usah malu. Bilang aja lagi melakukan eksperimen kimia tingkat tinggi yang menguras air mata. Anggap saja itu bentuk perjuangan demi menghasilkan sepiring makanan yang enak. Karena kadang, hal-hal yang bikin kita menangis di awal justru memberikan hasil yang paling manis—atau dalam kasus ini, paling gurih—di akhir cerita.

Tags