Batasi Gula Sejak Dini, Efeknya Bisa Terasa hingga Dewasa dan Pengaruhi Risiko Penyakit
RAU - Wednesday, 02 September 2026 | 10:51 AM


Selama ini, perhatian terhadap konsumsi gula pada anak biasanya dikaitkan dengan masalah seperti gigi berlubang, berat badan berlebih, atau kebiasaan makan yang kurang sehat. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan gula pada masa awal kehidupan mungkin memiliki dampak yang jauh lebih panjang.
Penelitian tersebut memanfaatkan kondisi unik di Inggris setelah Perang Dunia II, ketika konsumsi gula masyarakat masih dibatasi melalui kebijakan penjatahan makanan. Ketika pembatasan tersebut berakhir pada 1953, konsumsi gula meningkat secara signifikan.
Situasi tersebut memberikan kesempatan bagi peneliti untuk membandingkan kelompok orang yang lahir pada periode berbeda dan mengalami tingkat paparan gula yang tidak sama pada awal kehidupannya.
1. Masa Awal Kehidupan Menjadi Fokus Penelitian
Periode sekitar 1.000 hari pertama kehidupan, yang mencakup masa kehamilan hingga usia sekitar dua tahun, merupakan fase penting dalam perkembangan anak.
Pada periode tersebut, organ tubuh, metabolisme, sistem kekebalan, serta berbagai fungsi biologis berkembang dengan sangat cepat. Karena itu, nutrisi yang diterima selama fase tersebut menjadi salah satu perhatian penting dalam penelitian kesehatan.
Peneliti kemudian ingin melihat apakah perbedaan paparan gula pada periode awal tersebut berkaitan dengan kondisi kesehatan ketika seseorang sudah berusia dewasa.
2. Memanfaatkan Sejarah Penjatahan Gula di Inggris
Untuk meneliti dampak nutrisi selama puluhan tahun, tentu tidak mungkin dilakukan dengan memberikan perlakuan tertentu kepada bayi lalu menunggu hingga mereka tua.
Karena itu, para peneliti memanfaatkan peristiwa sejarah di Inggris. Selama masa penjatahan setelah Perang Dunia II, konsumsi gula masyarakat dibatasi.
Ketika kebijakan tersebut dihentikan pada September 1953, konsumsi gula meningkat tajam. Akibatnya, orang yang lahir dalam periode yang berdekatan dapat mengalami perbedaan paparan gula selama masa awal kehidupannya.
Penelitian yang diterbitkan pada 2026 tersebut kemudian menganalisis data puluhan ribu orang yang lahir di Inggris antara 1951 dan 1956.
3. Risiko Beberapa Jenis Kanker Lebih Rendah
Dalam analisis peneliti, kelompok yang mengalami pembatasan gula pada awal kehidupan menunjukkan tingkat kejadian beberapa jenis kanker yang lebih rendah ketika dewasa.
Jenis kanker yang disebut dalam penelitian antara lain kanker hati, paru-paru, prostat, payudara, dan rektum.
Perbedaan paling besar dalam analisis tersebut terlihat pada kanker hati, sedangkan hubungan paling kecil ditemukan pada kanker payudara.
Meski demikian, hasil ini perlu dibaca secara hati-hati. Penelitian tersebut tidak berarti bahwa mengurangi gula sejak bayi secara otomatis membuat seseorang terbebas dari kanker.
Risiko kanker dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik, lingkungan, berat badan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan pola makan secara keseluruhan.
4. Dikaitkan dengan Penuaan Biologis
Penelitian tersebut tidak hanya melihat penyakit, tetapi juga indikator penuaan biologis.
Salah satu indikator yang diperhatikan adalah telomer, bagian pelindung di ujung kromosom yang umumnya semakin pendek seiring bertambahnya usia.
Orang yang mengalami paparan gula lebih rendah pada awal kehidupan dalam penelitian tersebut memiliki telomer yang lebih panjang. Peneliti memperkirakan perbedaan tersebut berkaitan dengan perlambatan penuaan biologis sekitar dua tahun.
Namun, hasil seperti ini tetap perlu dipahami sebagai temuan penelitian, bukan berarti seseorang dapat menghentikan proses penuaan hanya dengan mengurangi gula.
5. Pengaruhnya Bisa Terlihat pada Pola Makan Saat Dewasa
Salah satu temuan yang menarik adalah hubungan antara paparan gula pada masa awal kehidupan dan kebiasaan makan ketika seseorang sudah dewasa.
Kelompok yang mengalami pembatasan gula saat kecil dilaporkan masih mengonsumsi lebih sedikit gula ketika dewasa. Pola makan mereka juga cenderung lebih beragam dan sehat.
Hal tersebut mendukung gagasan bahwa pengalaman makan sejak usia dini dapat ikut membentuk preferensi rasa.
Anak yang terbiasa dengan makanan dan minuman sangat manis mungkin akan lebih terbiasa mencari rasa manis. Sebaliknya, paparan terhadap berbagai makanan dengan rasa yang lebih alami dapat membantu anak mengenal lebih banyak variasi rasa.
6. Bukan Berarti Anak Harus Bebas Gula Sepenuhnya
Temuan penelitian ini bukan berarti orang tua harus menghilangkan seluruh sumber gula dari makanan anak.
Yang lebih penting adalah memperhatikan jenis makanan, jumlah gula tambahan, dan pola makan secara keseluruhan.
Makanan bergizi seperti buah, sayuran, sumber protein, biji-bijian, dan makanan lain yang sesuai kebutuhan anak tetap perlu menjadi bagian utama pola makan.
Orang tua juga dapat membatasi makanan dan minuman dengan gula tambahan yang tinggi, terutama produk yang tidak memberikan banyak zat gizi selain kalori.
7. Mengapa 1.000 Hari Pertama Penting?
Masa 1.000 hari pertama sering menjadi perhatian dalam kesehatan anak karena tubuh mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Nutrisi pada periode ini berperan dalam pertumbuhan, perkembangan otak, pembentukan sistem metabolisme, serta perkembangan berbagai sistem tubuh.
Karena itu, kebiasaan makan yang dibangun sejak dini tidak hanya berkaitan dengan kondisi anak saat ini, tetapi juga berpotensi berhubungan dengan kesehatan di masa mendatang.
Gula Sejak Dini dan Kesehatan Jangka Panjang
Penelitian tentang pembatasan gula pada awal kehidupan memberikan perspektif baru mengenai pentingnya pola makan sejak usia dini.
Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara rendahnya paparan gula pada masa awal kehidupan dengan beberapa indikator kesehatan yang lebih baik ketika dewasa, termasuk risiko sejumlah kanker, penanda penuaan biologis, dan pola makan.
Namun, kesehatan seseorang ketika dewasa tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Pola makan sepanjang hidup, aktivitas fisik, kualitas tidur, lingkungan, faktor genetik, dan kebiasaan lainnya tetap memiliki peranan penting.
Karena itu, pesan yang paling relevan bukanlah "anak tidak boleh makan gula sama sekali", melainkan membangun kebiasaan makan yang sehat sejak dini dan tidak membiasakan anak mengonsumsi makanan atau minuman dengan gula tambahan secara berlebihan.
Next News

Pelangi Muncul Setelah Hujan, Tapi Mengapa Bentuknya Melengkung?
11 hours ago

Bawang Dipotong Bikin Menangis, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Mata?
11 hours ago

Mengapa Rasa Pedas Bisa Membuat Tubuh Terasa Panas?
11 hours ago

Telur Rebus Bisa Punya Lingkaran Hijau, Apakah Masih Aman Dimakan?
11 hours ago

Awan Gelap Belum Tentu Hujan, Ini yang Sebenarnya Terjadi
11 hours ago

Kenapa Wortel Berwarna Oranye? Ternyata Ada Cerita di Baliknya
20 hours ago

Kenapa Telur Goreng Bisa Punya Pinggiran Renyah dan Bagian Tengah Lembut? Ternyata Ini Rahasianya
20 hours ago

Pernah Bertanya Kenapa Telur Mudah Pecah, Tapi Tidak Saat Berada di Dalam Tubuh Ayam?
21 hours ago

Kenapa Ada Telur yang Cangkangnya Putih dan Ada yang Cokelat? Ternyata Bukan Soal Kualitas
21 hours ago

Telur Direbus Terlalu Lama, Kenapa Kuningnya Bisa Berubah Warna? Ternyata Ini Penyebabnya
21 hours ago





