Bahaya Memberikan Gadget pada Anak untuk Mengatasi Tangisan
Nanda - Tuesday, 10 February 2026 | 09:36 AM


Di banyak keluarga modern, pemandangan anak berhenti menangis setelah diberi ponsel atau tablet sudah menjadi hal yang lumrah. Entah itu untuk menonton video, bermain gim, atau sekadar menggeser layar, gadget kerap dijadikan "penyelamat instan" saat anak rewel di rumah, restoran, hingga tempat umum.
Namun, para ahli tumbuh kembang anak mengingatkan bahwa ketenangan yang dihasilkan gadget bersifat semu. Tangisan memang berhenti, tetapi proses belajar emosi anak justru terhenti.
Anak Tidak Belajar Mengelola Emosi
Menangis adalah cara alami anak mengekspresikan rasa lelah, lapar, kecewa, atau butuh perhatian. Ketika setiap tangisan langsung "ditukar" dengan layar, anak tidak diberi kesempatan untuk mengenali dan mengelola emosinya sendiri.
Dalam jangka panjang, anak bisa tumbuh dengan ketergantungan pada stimulus eksternal untuk menenangkan diri. Alih-alih belajar mengungkapkan perasaan dengan kata-kata atau isyarat, anak belajar bahwa emosi tidak perlu dipahami, cukup dialihkan.
Risiko Ketergantungan Sejak Dini
Otak anak, terutama di usia balita, sangat responsif terhadap rangsangan visual dan suara. Layar gadget dirancang dengan warna cerah, gerakan cepat, dan suara menarik yang memicu pelepasan dopamin zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang.
Ketika gadget digunakan berulang kali sebagai alat penenang, otak anak mulai mengasosiasikan ketenangan dengan layar. Inilah yang menjadi awal kecanduan gadget, bahkan sebelum anak mampu berbicara dengan lancar.
Mengganggu Perkembangan Otak dan Konsentrasi
Masa kanak-kanak adalah periode emas perkembangan otak. Pada fase ini, anak membutuhkan interaksi nyata: sentuhan, tatapan mata, percakapan, dan permainan fisik.
Penggunaan gadget berlebihan, terutama untuk menenangkan tangisan, mengurangi kesempatan anak mendapatkan stimulasi yang sehat. Beberapa penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa paparan layar berlebih pada usia dini berkaitan dengan:
- Kesulitan fokus
- Keterlambatan bicara
- Masalah perhatian di usia sekolah
Hubungan Emosional dengan Orang Tua Bisa Melemah
Saat anak menangis dan orang tua langsung memberikan gadget, interaksi emosional yang seharusnya terjadi justru terputus. Anak tidak mendapatkan respons empatik seperti pelukan, suara menenangkan, atau perhatian penuh.
Padahal, momen inilah yang penting untuk membangun ikatan emosional (bonding) antara anak dan orang tua. Jika terlalu sering digantikan oleh layar, anak bisa merasa bahwa gadget lebih "hadir" daripada manusia di sekitarnya.
Membentuk Pola Asuh yang Kurang Sehat
Tanpa disadari, penggunaan gadget sebagai alat penenang membentuk kebiasaan pola asuh yang reaktif, bukan responsif. Anak belajar bahwa menangis akan selalu berujung pada gadget, sementara orang tua terbiasa mencari jalan pintas untuk menghentikan rewel.
Pola ini berisiko terbawa hingga anak lebih besar, di mana gadget digunakan sebagai:
- Alat tawar-menawar
- Hadiah
- Pelarian dari emosi negatif
Alternatif yang Lebih Sehat
Para ahli parenting menyarankan pendekatan yang lebih manusiawi dan edukatif. Menggendong, berbicara lembut, mengalihkan dengan permainan fisik sederhana, atau sekadar mendampingi anak hingga emosinya mereda terbukti lebih efektif dalam jangka panjang.
Cara ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran, tetapi membantu anak belajar bahwa emosi adalah hal wajar yang bisa dihadapi, bukan dihindari.
Penting dipahami bahwa gadget bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Namun, fungsinya perlu ditempatkan secara tepat dan terkontrol, sesuai usia dan kebutuhan anak.
Menggunakan gadget untuk menghentikan tangisan bukan hanya soal durasi layar, tetapi soal kesempatan belajar emosi yang hilang.
Menangis mungkin melelahkan bagi orang tua, tetapi itu adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Ketika orang tua hadir secara emosional, anak belajar merasa aman, dipahami, dan mampu mengelola perasaannya sendiri.
Ketenangan sesaat dari layar bisa digantikan dengan dampak jangka panjang yang jauh lebih berharga: anak yang sehat secara emosional dan mental.
Next News

Saran Menu Sehat Padat Gizi Selama Ramadan agar Tubuh Tetap Bugar
in 5 hours

Mitos dan Fakta Kesehatan Saat Bulan Puasa yang Perlu Diketahui
in 5 hours

Jamu: Warisan Pengobatan Tradisional Indonesia yang Diakui Ilmu Pengetahuan
in 5 hours

Kandungan Dada Ayam Sebagai Sumber Protein Favorit yang Lebih dari Sekadar Rendah Lemak
in 5 hours

Ikan dengan Kandungan Omega-3 Tertinggi: Rahasia Nutrisi Penting untuk Otak dan Jantung
in 5 hours

Mengupas Tuntas Manfaat Berpuasa: Dari Kesehatan Tubuh hingga Ketenangan Jiwa
in 4 hours

Dari Mana Asal Tisu? Fakta di Balik Benda Sepele yang Dipakai Setiap Hari
in 4 hours

Asal Usul Pizza, Dari Makanan Rakyat Italia hingga Menjadi Kuliner Mendunia
in 4 hours

Apakah Semua Mineral Itu Sama? Ini Fakta yang Jarang Diketahui Tentang Mineral dalam Kehidupan Sehari-hari
in 4 hours

Benarkah Kerokan Efektif Mengatasi Masuk Angin? Ini Penjelasan Ilmiahnya
19 hours ago





