Jumat, 13 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bahaya Kolesterol! Jangan Campur Gulai Kambing dengan Durian

Tata - Thursday, 12 February 2026 | 07:40 PM

Background
Bahaya Kolesterol! Jangan Campur Gulai Kambing dengan Durian

Gulai Kambing Ketemu Durian: Duet Maut yang Bikin Pak Menkes Geleng-Geleng Kepala

Siapa sih yang nggak tergoda kalau di depan mata sudah tersaji semangkuk gulai kambing yang kuahnya kental, kuning kemerahan, dan aromanya menusuk hidung dengan sopan? Belum lagi kalau setelah itu, ada piring berisi buah durian yang dagingnya tebal, legit, dan aromanya menguasai seluruh ruangan. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, ini adalah definisi surga dunia. Tapi, bagi Menteri Kesehatan kita, Budi Gunadi Sadikin, kombinasi ini lebih mirip seperti undangan terbuka untuk masuk ke ruang IGD.

Belakangan ini, isu soal bahaya mengombinasikan gulai kambing dan durian kembali mencuat setelah Pak Menkes memberikan peringatan santai tapi menusuk. Intinya satu: jangan nekat. Memang sih, makan itu hak asasi setiap lambung, tapi kalau ujung-ujungnya bikin tensi melonjak ke langit ketujuh, ya urusannya jadi panjang. Fenomena "duet maut" ini sebenarnya bukan hal baru dalam obrolan warung kopi, tapi kalau sudah level menteri yang bicara, tandanya alarm waspada sudah harus dinyalakan keras-keras.

Mari kita bedah pelan-pelan kenapa dua sejoli kuliner ini dianggap begitu berbahaya oleh otoritas kesehatan. Pertama, mari bicara soal gulai kambing. Daging kambing itu sendiri sebenarnya punya reputasi yang agak "berlebihan" soal kolesterol, padahal kalau dibandingkan daging sapi, lemaknya seringkali lebih rendah. Masalahnya bukan di kambingnya, tapi di santan kental dan bumbu rempah yang diguyur ke sana. Begitu jadi gulai, dia berubah jadi bom lemak jenuh yang siap bikin pembuluh darah kaget.

Lalu, masuklah si "Raja Buah" alias durian. Durian itu unik. Dia bukan sekadar buah yang manis, tapi juga mengandung gas, tinggi kalori, dan punya kandungan yang kalau diolah di dalam perut bisa memberikan efek hangat yang luar biasa. Bayangkan, perut kamu baru saja bekerja keras memproses lemak jenuh dari gulai kambing yang berat, tiba-tiba disiram lagi dengan durian yang punya kandungan gula tinggi dan efek termogenik (meningkatkan suhu tubuh). Hasilnya? Ya, seperti memasukkan bensin ke dalam api yang sedang menyala.

Jujurly, kita ini sering kali punya mentalitas "aji mumpung" kalau soal makanan. Mumpung lagi ada hajatan, mumpung lagi musim durian, atau mumpung lagi dibayarin kantor. Kita sering abai kalau tubuh kita punya batas toleransi. Pak Menkes bukannya mau jadi "party pooper" atau perusak suasana makan enak kita, tapi beliau cuma ingin mengingatkan bahwa kombinasi ini bisa memicu kenaikan tekanan darah secara mendadak atau yang biasa kita kenal dengan hipertensi. Bagi mereka yang punya riwayat penyakit jantung atau kolesterol tinggi, kombinasi ini benar-benar seperti bermain api di tengah ladang minyak.

Kenapa Tubuh Kita Bisa "Ngambek" Kalau Dikasih Duet Ini?

Secara medis, saat kita mengonsumsi makanan tinggi lemak seperti gulai kambing, tubuh butuh energi besar dan waktu lama untuk mencernanya. Darah akan terkonsentrasi di area pencernaan. Nah, kalau setelah itu kita makan durian yang kaya akan karbohidrat sederhana dan alkohol alami (dalam kadar kecil hasil fermentasi), metabolisme tubuh akan dipaksa bekerja dua kali lipat lebih keras. Jantung harus memompa darah lebih cepat untuk mengimbangi beban kerja ini. Itulah kenapa banyak orang merasa pusing, tengkuk terasa berat, atau jantung berdebar kencang setelah melahap keduanya.

Ada juga istilah "food coma" yang levelnya sudah bukan sekadar mengantuk biasa lagi, tapi badan terasa lemas tak berdaya karena semua energi tersedot habis buat urusan perut. Masalahnya, kalau kondisi fisik lagi nggak fit, pusing-pusing itu bisa berlanjut jadi stroke ringan atau serangan jantung. Nggak lucu kan kalau judul berita di grup WhatsApp keluarga berubah jadi "Akibat Gulai dan Durian, Si Anu Masuk Rumah Sakit"?

Namun, namanya juga orang Indonesia, kalau belum kejadian biasanya masih santai. Ada saja pembelaannya, seperti "Ah, yang penting minum air hangat" atau "Nanti juga dinetralisir pakai timun." Padahal, timun dua potong nggak akan sanggup melawan gempuran kolesterol dari satu mangkuk gulai dan tiga biji durian medan yang legit itu. Itu seperti mencoba memadamkan kebakaran hutan pakai semprotan burung.

Lalu, Gimana Caranya Tetap Bisa Menikmati Hidup Tanpa Masuk UGD?

Sebenarnya kuncinya cuma satu: tahu diri. Kita nggak harus jadi ekstrem dengan sama sekali nggak menyentuh gulai kambing atau durian seumur hidup. Hidup terlalu singkat buat nggak makan enak, Gengs. Tapi, kuncinya adalah jeda dan porsi. Kalau siang ini kamu sudah habis-habisan makan gulai kambing di pesta pernikahan mantan, ya jangan sorenya langsung sikat durian di pinggir jalan. Berikan waktu buat tubuhmu buat bernapas, minimal kasih jeda satu atau dua hari.

Selain itu, perbanyak minum air putih dan kalau bisa, imbangi dengan aktivitas fisik. Jangan habis makan berat langsung rebahan sambil scroll TikTok sampai pagi. Itu namanya menimbun penyakit dengan gaya. Pak Menkes juga sering menyarankan agar kita lebih rajin cek kesehatan secara rutin. Jadi, kita tahu batas aman tekanan darah dan kolesterol kita ada di angka berapa sebelum memutuskan buat "cheating day" yang ugal-ugalan.

Kesimpulannya, peringatan dari Menkes soal kombinasi gulai kambing dan durian ini adalah pengingat bahwa kesehatan itu mahal harganya, jauh lebih mahal daripada harga satu buah durian Musang King sekalipun. Menikmati kuliner itu boleh banget, tapi jangan sampai lidah yang dimanjakan malah bikin jantung yang menderita. Mari kita jadi generasi yang nggak cuma jago cari tempat makan viral, tapi juga jago menjaga badan supaya tetap awet sampai tua. Karena pada akhirnya, kesehatan kita adalah investasi paling berharga, melebihi saldo e-wallet yang sering habis buat beli promo makanan di aplikasi ojol.

Stay healthy, makan bijak, dan ingat: gulai kambing itu jodohnya nasi hangat dan emping, bukan durian yang bikin pusing!