Rabu, 25 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Serba Serbi Ramadhan

Takjil: Makna Yang Bergeser Dari Asalnya

RAU - Friday, 20 February 2026 | 01:36 AM

Background
Takjil: Makna Yang Bergeser Dari Asalnya

ARTI KATA TAKJIL

Kata "takjil" berasal dari bahasa Arab 'ajjala–yu'ajjilu–ta'jīlan yang berarti menyegerakan atau mempercepat.

Dalam konteks puasa, istilah ini merujuk pada anjuran untuk menyegerakan berbuka ketika waktu magrib tiba, sebagaimana diajarkan dalam Islam.

Menurut literatur keislaman yang dirujuk oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, menyegerakan berbuka merupakan sunnah yang dianjurkan.

Secara bahasa, takjil bukan berarti makanan, melainkan tindakan mempercepat berbuka.



PERGESERAN MAKNA TAKJIL

Di Indonesia, kata "takjil" mengalami penyempitan makna. Masyarakat menggunakan istilah ini untuk menyebut makanan ringan atau kudapan pembuka puasa seperti:

Kolak, Es buah, Kurma,Gorengan dan lainnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takjil didefinisikan sebagai makanan untuk membatalkan puasa.

Fenomena ini disebut pergeseran makna (semantic shift), yaitu ketika kata asing yang diserap mengalami perubahan arti sesuai konteks lokal.



TRADISI BERBURU TAKJIL DI INDONESIA

Seiring perkembangan kota dan budaya konsumsi, muncul tradisi "berburu takjil" di sore hari Ramadan. Pasar Ramadan dan pedagang musiman menjamur di berbagai daerah.

Tradisi ini memiliki dampak sosial dan ekonomi:

Menghidupkan usaha mikro,

Menciptakan interaksi sosial, dan



Menjadi bagian dari suasana khas Ramadan.

Takjil pun tidak lagi sekadar simbol menyegerakan berbuka, tetapi menjadi bagian dari identitas budaya Ramadan Indonesia.

TA'JIL DI NEGARA LAIN

Di negara-negara Arab, istilah takjil tetap mempertahankan makna aslinya sebagai tindakan menyegerakan berbuka. Makanan pembuka puasa biasanya disebut langsung dengan nama jenis makanannya, seperti kurma atau sup.

Perbedaan ini menunjukkan bagaimana bahasa agama beradaptasi dalam konteks budaya lokal.



Kesimpulan

Takjil secara bahasa berarti menyegerakan berbuka, tetapi di Indonesia maknanya bergeser menjadi makanan pembuka puasa. Pergeseran ini mencerminkan dinamika budaya dan bahasa dalam praktik keagamaan masyarakat Nusantara.