Jumat, 13 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Serba Serbi Ramadhan

Bagaimana Astronot Berpuasa di Luar Angkasa?

Liaa - Friday, 13 March 2026 | 09:46 AM

Background
Bagaimana Astronot Berpuasa di Luar Angkasa?

Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama bulan ini, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun bagaimana jika seseorang berada di luar angkasa, di mana konsep siang dan malam tidak sama seperti di Bumi?

Pertanyaan ini bukan sekadar teori. Beberapa astronot Muslim memang pernah bertugas di luar angkasa saat bulan Ramadhan. Kondisi ini menimbulkan tantangan unik dalam menjalankan ibadah puasa.


Salah satu tempat utama manusia bekerja di orbit Bumi adalah International Space Station (ISS). Stasiun luar angkasa ini mengorbit Bumi dengan kecepatan sekitar 28.000 kilometer per jam.

Karena bergerak sangat cepat mengelilingi Bumi, para astronot di ISS dapat melihat matahari terbit dan terbenam sekitar 16 kali dalam satu hari.



Hal ini tentu membuat penentuan waktu puasa menjadi sangat berbeda dibandingkan di Bumi.


*Tantangan Puasa di Luar Angkasa*

Berpuasa di luar angkasa menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi waktu, kesehatan, maupun kondisi lingkungan.

1. Siklus Siang dan Malam yang Sangat Cepat



Di Bumi, puasa biasanya berlangsung sekitar 12–16 jam tergantung lokasi. Namun di orbit Bumi, siklus siang dan malam terjadi setiap sekitar 90 menit.

Jika mengikuti matahari secara langsung, maka waktu puasa akan berubah-ubah secara ekstrem, yang tentu tidak praktis bagi astronot.

Karena itu, para ulama menyarankan penggunaan waktu di Bumi sebagai acuan.


2. Kondisi Tubuh di Lingkungan Mikrogravitasi



Di luar angkasa, tubuh manusia berada dalam kondisi mikrogravitasi, yaitu keadaan hampir tanpa gravitasi.

Dalam kajian Space Medicine, diketahui bahwa kondisi ini dapat menyebabkan:

•perubahan distribusi cairan tubuh

•penurunan massa otot

•perubahan metabolisme



Karena itu, kesehatan astronot menjadi prioritas utama selama misi luar angkasa.

Jika puasa berisiko mengganggu kesehatan atau kinerja misi, maka astronot diperbolehkan menunda puasa dan menggantinya setelah kembali ke Bumi.


*Panduan Ulama untuk Astronot Muslim*

Beberapa negara dengan mayoritas Muslim telah menyusun panduan khusus mengenai ibadah di luar angkasa.



Salah satu panduan terkenal dikeluarkan oleh Malaysian National Fatwa Council ketika astronot Malaysia Sheikh Muszaphar Shukor melakukan perjalanan ke luar angkasa pada tahun 2007 menggunakan pesawat Soyuz TMA-11.

Panduan tersebut menjelaskan beberapa prinsip utama:

1.Waktu puasa mengikuti zona waktu tempat peluncuran atau lokasi di Bumi.

2 Jika puasa terlalu sulit dilakukan, astronot boleh menunda puasa.

3.Puasa dapat diganti setelah kembali ke Bumi.



Panduan ini menunjukkan fleksibilitas dalam hukum Islam untuk menjaga keselamatan dan kesehatan.


*Cara Astronot Mengatur Waktu Puasa*

Dalam praktiknya, astronot Muslim biasanya menggunakan waktu di Bumi sebagai referensi.

Misalnya:



••waktu negara asal

••waktu lokasi peluncuran

••atau waktu Mecca, kota suci umat Islam

Dengan cara ini, mereka tetap dapat menjalankan puasa dengan jadwal yang lebih stabil.




*Makan dan Minum di Luar Angkasa*

Selain soal waktu puasa, cara makan di luar angkasa juga berbeda dari di Bumi.

Di kondisi tanpa gravitasi:

•makanan tidak bisa diletakkan begitu saja di meja

•cairan akan melayang di udara



•remah makanan dapat berbahaya bagi peralatan

Karena itu makanan astronot biasanya dikemas dalam bentuk khusus seperti:

•makanan kering beku

•pasta dalam kemasan

•minuman dalam kantong tertutup



Semua makanan dirancang agar aman dikonsumsi di lingkungan mikrogravitasi.


*Ibadah Lain di Luar Angkasa*

Selain puasa, ibadah lain seperti salat juga membutuhkan penyesuaian.

Para astronot Muslim biasanya menghadap ke arah Kaaba di Mecca, namun jika hal itu sulit dilakukan karena posisi stasiun luar angkasa terus berubah, maka mereka cukup menghadap ke arah mana pun yang memungkinkan.



Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi ekstrem seperti di luar angkasa, ibadah dapat disesuaikan dengan kemampuan manusia.