Minggu, 8 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Serba Serbi Ramadhan

Masjid Al-Osmani Medan: Jejak Sejarah Islam & Kebudayaan Melayu yang Tegak Lebih dari 170 Tahun

RAU - Wednesday, 04 March 2026 | 05:03 AM

Background
Masjid Al-Osmani Medan: Jejak Sejarah Islam & Kebudayaan Melayu yang Tegak Lebih dari 170 Tahun

Masjid Al-Osmani, yang juga dikenal sebagai Masjid Labuhan karena lokasinya di Medan Labuhan, dibangun pada tahun 1854 oleh Sultan Osman Perkasa Alam, raja ketujuh Kesultanan Deli. Pada masa itu, Medan masih merupakan kota pesisir yang berkembang sebagai pelabuhan perdagangan penting di pesisir timur Sumatera.

Pada awal pembangunannya, masjid berukuran sekitar 16 x 16 meter ini memiliki struktur bangunan yang seluruhnya menggunakan kayu berkualitas. Masjid ini terletak di kawasan Pekan Labuhan, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Medan saat ini.

Masyarakat pun menyebutnya sebagai Masjid Labuhan. Keberadaan masjid tersebut menjadi bukti bahwa ajaran Islam telah tumbuh dan mengakar kuat di wilayah Medan jauh sebelum kota ini berkembang menjadi pusat perkebunan dan perdagangan modern

Pada masa pemerintahan putranya — Sultan Mahmud Perkasa Alam — bangunan Masjid Al-Osmani direnovasi secara besar-besaran antara 1870 hingga 1872. Arsitek dari Jerman bernama G. D. Langereis dilibatkan dalam pembaruan ini, menjadikan masjid bukan hanya permanen, tetapi juga lebih luas (sekitar 26 × 26 meter) dengan struktur yang kuat.

Renovasi tersebut mencerminkan perpaduan unik budaya dan arsitektur Melayu Deli sebagai basis utama, Arab & Timur Tengah pada motif gaya kubah dan ornamen, serta India & China pada pilar serta ornamen pintu.



Juga ada sentuhan desain Eropa pada detail kolom dan proporsi bangunan.

Warna kuning emas mendominasi fasad — melambangkan kejayaan Melayu — dipadu dengan hijau yang identik dengan Islam.

Selama lebih dari satu abad, Masjid Al-Osmani tetap aktif sebagai pusat ibadah Muslim di Medan. Selain salat harian dan Jumat, masjid ini dipakai untuk:

✔ Peringatan hari besar Islam (Idul Fitri, Idul Adha, dan lainnya)

✔ Kegiatan pendidikan agama dan pengajian



✔ Tradisi lokal seperti berbagi bubur pedas saat Ramadan

✔ Titik berkumpul jamaah sebelum berangkat haji dari wilayah utara Medan.

Arsitektur dan fungsinya yang kaya membuat masjid ini bukan hanya bangunan ibadah, tetapi juga pusat komunitas.

Tak jauh dari bangunan masjid, terdapat makam lima sultan Kesultanan Deli yang turut dimakamkan di kompleks ini. Di antaranya:

Tuanku Panglima Pasutan (Raja Deli IV),



Tuanku Panglima Gandar Wahid (Raja Deli V),

Sultan Amaluddin Perkasa Alam (Raja Deli VI),

Sultan Osman Perkasa Alam (pendiri), dan

Sultan Mahmud Perkasa Alam (renovator utama).

Keberadaan makam-makam ini menambah dimensi spiritual dan sejarah masjid sebagai pusat kekuasaan dan keagamaan Kesultanan Deli.



Karena memiliki sejarah dan nilai budaya yang tinggi, sebagai salah satu bangunan tertua di Medan, Masjid Al-Osmani telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Medan melalui keputusan Wali Kota Medan pada tahun 1989 dan diperkuat melalui Peraturan Daerah kota Medan pada tahun 2012.

Status ini membantu memastikan pelestarian bangunan bersejarah ini demi generasi masa depan.

Masjid ini memiliki peran penting dalam perkembangan agama Islam, sekaligus menjadi ikon identitas sejarah Islam dan Melayu di Medan.

Setelah lebih dari 170 tahun berdiri, Masjid Al-Osmani tetap menjadi bangunan tua yang berdiri megah. Ia adalah tempat di mana Kisah penguasa-penguasa Melayu bertemu dengan spiritualitas Islam, Arsitektur lokal bertemu gaya global,Peradaban dimulai dari kegiatan keagamaan, pendidikan, hingga sosial kemasyarakatan.

Di tengah hiruk pikuk kota modern, masjid ini tetap berdiri sebagai saksi bisu bagaimana Islam tumbuh dan berakar kuat di Medan jauh sebelum kota ini menjadi pusat ekonomi dan perdagangan.



Tags