Minggu, 15 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Ekonomi & Bisnis

RI Peringkat 2 Negara Paling Rentan Penipuan Digital Dunia

RAU - Sunday, 15 February 2026 | 07:51 AM

Background
RI Peringkat 2 Negara Paling Rentan Penipuan Digital Dunia

Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat kerentanan penipuan digital tertinggi kedua di dunia berdasarkan laporan Global Fraud Index 2025 yang dirilis oleh perusahaan teknologi asal Inggris, Sumsub.

Dalam laporan tersebut, Pakistan menempati posisi pertama dengan skor 7,48 dari skala 0–10, menjadikannya negara paling rentan terhadap aktivitas penipuan digital.

Sementara itu, Indonesia berada di peringkat kedua dengan skor 6,53.

Skor yang tinggi dalam indeks ini bukan sekadar angka. Ia mencerminkan kombinasi antara:

Tingginya intensitas aktivitas penipuan digital

Lemahnya sistem intervensi dan perlindungan konsumen

Besarnya dampak finansial yang dirasakan masyarakat.

Penipuan digital yang dimaksud mencakup phishing, social engineering, scam investasi, penyalahgunaan data pribadi, hingga penipuan melalui e-commerce dan aplikasi pesan.


Data dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan ratusan ribu laporan penipuan keuangan digital dalam setahun terakhir, dengan total kerugian masyarakat mencapai triliunan rupiah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman bukan lagi sekadar potensi, melainkan sudah menjadi realitas yang meluas.



🌍 Peta Kerentanan Penipuan Digital Dunia 2025

Dari skala 0–10,semakin tinggi angkanya, semakin besar risiko masyarakat menjadi korban penipuan digital.

Peringkat 1 – Pakistan (7,48)

Negara dengan tingkat aktivitas fraud tertinggi dalam laporan.

Tingginya kasus dan rendahnya intervensi memperbesar risiko warga terhadap penipuan berbasis digital.


Peringkat 2 – Indonesia (6,53)

Kasus penipuan digital meningkat tajam.

Modus yang paling sering terjadi:

Telepon mengatasnamakan bank

Link phishing palsu

Investasi bodong

Penipuan belanja online

Kerugian finansial besar dan tingkat literasi digital yang belum merata menjadi faktor penting.


Laporan tersebut juga menyoroti bahwa kawasan Asia menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan fraud tercepat di dunia.

Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

Lonjakan transaksi digital pasca pandemi

Pertumbuhan fintech dan e-commerce yang sangat cepat

Kurangnya edukasi keamanan digital

Pemanfaatan teknologi AI oleh pelaku kejahatan

Kombinasi ini membuat masyarakat lebih rentan jika tidak dibarengi penguatan regulasi dan literasi digital.


Kerentanan terhadap penipuan digital bukan hanya persoalan uang yang hilang. Dampaknya meluas pada:

-Turunnya kepercayaan terhadap sistem keuangan digital

-Kekhawatiran masyarakat dalam bertransaksi online

-Tekanan psikologis bagi korban

-Beban penegakan hukum yang meningkat

Jika tidak ditangani secara sistematis, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi digital nasional.