Sabtu, 8 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Merasa Sehat? Jangan Abaikan Skrining Kanker

Tata - Saturday, 08 August 2026 | 09:25 AM

Background
Merasa Sehat? Jangan Abaikan Skrining Kanker

Merasa Sehat Bukan Berarti Bebas Risiko Kanker: Kenapa Skrining Itu Bukan Cuma Buat Orang Sakit

Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja pulang dari gym, otot masih terasa kencang, dan di tanganmu ada botol tumbler berisi green smoothie yang rasanya, jujur saja, lebih mirip rumput blender daripada minuman enak. Kamu merasa sangat bugar. Kamu merasa tak terkalahkan. Di pikiranmu, penyakit berat seperti kanker itu urusan nanti, urusan orang tua, atau urusan mereka yang hobi makan gorengan tiap detik tanpa diimbangi olahraga. Pokoknya, selama badan nggak ada yang sakit, berarti semua aman-aman saja, kan?

Eits, tunggu dulu. Justru di sinilah letak jebakan betmennya.

Jujurly, kita sering kali punya mindset kalau ke dokter itu cuma kalau sudah ada keluhan. Kalau nggak demam, nggak nyeri, atau nggak ada benjolan yang mengganggu, ya ngapain ke rumah sakit? Tapi masalahnya, kanker itu bukan tipe tamu yang ngetok pintu keras-keras sambil bawa speaker toa. Dia lebih mirip "silent killer" atau mata-mata kelas kakap yang menyusup pelan, diam, dan nggak memberikan tanda apa pun sampai akhirnya dia merasa sudah cukup kuat untuk mengacaukan sistem tubuh kita.

Kenapa "Merasa Sehat" Itu Bisa Menipu?

Banyak dari kita yang terjebak dalam bias kognitif. Kita merasa kalau gaya hidup sudah lumayan oke—jarang begadang (kecuali kalau ada series baru di Netflix), rajin minum air putih, dan sesekali ikut lari 5K—berarti tubuh kita otomatis punya perisai anti-kanker. Padahal, kanker itu penyakit yang multifaktorial. Ada faktor genetika, paparan polusi yang tiap hari kita hirup di jalanan Jakarta atau kota besar lainnya, hingga mutasi sel yang kadang terjadi secara acak begitu saja tanpa permisi.

Masalahnya, pada stadium awal, kanker sering kali tidak menimbulkan gejala sama sekali. Sel-sel abnormal itu bisa tumbuh perlahan tanpa membuatmu merasa pusing atau mual. Ketika akhirnya gejala itu muncul—entah itu rasa sakit yang tajam, penurunan berat badan yang drastis, atau kelelahan yang nggak hilang-hilang—biasanya kanker tersebut sudah masuk ke stadium yang lebih lanjut. Di sinilah skrining masuk sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Skrining bukan untuk mencari "penyakit" bagi mereka yang sakit, tapi untuk memastikan mereka yang merasa sehat memang benar-benar bersih dari ancaman yang belum terlihat.



Skrining Itu Investasi, Bukan Beban

Sering kali kita mendengar alasan: "Duh, skrining kan mahal," atau "Gue takut kalau hasilnya malah aneh-aneh." Oke, mari kita bedah satu-satu dengan logika sederhana ala anak muda jaman sekarang.

Pertama, soal harga. Memang, beberapa prosedur skrining seperti mammografi, pap smear, atau kolonoskopi butuh biaya. Tapi coba bandingkan dengan biaya pengobatan kanker stadium tiga atau empat. Biaya kemoterapi, radiasi, operasi, hingga obat-obatan pendukung itu berkali-kali lipat lebih mahal. Belum lagi kerugian waktu, energi, dan mental yang terkuras. Skrining itu ibarat kita bayar asuransi atau beli casing HP yang mahal; lebih baik keluar duit dikit di depan daripada nyesel pas layarnya retak seribu, kan?

Kedua, soal rasa takut. Ini yang paling sering bikin orang maju-mundur cantik. "Mending gue nggak tahu daripada gue tahu terus kepikiran." Padahal, logika ini sangat berbahaya. Menghindari pemeriksaan nggak akan membuat sel kanker itu hilang. Justru dengan mengetahui lebih awal, peluang untuk sembuh total itu sangat besar. Kanker stadium satu jauh lebih mudah ditangani daripada kanker yang sudah menyebar kemana-mana. Jadi, tahu lebih awal itu sebenarnya adalah sebuah privilege, sebuah kesempatan kedua untuk tetap hidup sehat.

Apa Saja Sih yang Perlu Diskrining?

Nggak perlu bingung mau mulai dari mana. Kamu nggak harus melakukan semua tes dalam satu waktu sampai dompet kering. Sesuaikan dengan faktor risiko dan usia. Untuk perempuan, misalnya, melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) itu gratis dan bisa dilakukan tiap bulan sambil mandi. Kalau sudah aktif secara seksual, pap smear atau tes DNA HPV itu hukumnya wajib untuk mencegah kanker serviks.

Untuk yang punya riwayat keluarga pengidap kanker, kamu harus lebih waspada. Jangan malu untuk konsultasi ke dokter dan bilang, "Dok, bokap atau nyokap saya ada riwayat ini, tes apa yang sebaiknya saya ambil?" Jangan merasa tabu. Di era informasi seperti sekarang, kepedulian terhadap kesehatan organ dalam itu jauh lebih keren daripada sekadar rutin skincare-an tapi paru-paru atau ususnya nggak pernah diperhatiin.



Selain itu, untuk para perokok (baik aktif maupun pasif), skrining paru-paru juga penting. Dan buat kita yang hobi makan makanan olahan atau daging merah berlebih, pemeriksaan usus besar alias kolonoskopi (meski kedengarannya menakutkan) sebenarnya adalah langkah preventif yang sangat efektif di usia tertentu.

Mengubah Stigma: Sehat Itu Bukan Keberuntungan, Tapi Upaya

Kita harus mulai mengubah narasi di kepala kita. Skrining bukan berarti kita "mengundang" penyakit. Skrining adalah bentuk self-love yang paling nyata. Kamu menghargai tubuhmu yang sudah bekerja keras 24 jam sehari dengan memastikan nggak ada "bug" berbahaya di dalam sistemnya.

Jangan tunggu sampai ada benjolan yang sakit. Jangan tunggu sampai batukmu nggak sembuh-sembuh tiga bulan. Jangan tunggu sampai ada perdarahan yang nggak wajar. Jadikan skrining sebagai bagian dari gaya hidup, sama seperti kamu melakukan servis rutin untuk motormu atau upgrade storage iCloud-mu.

Dunia ini terlalu indah untuk dilewatkan hanya karena kita takut melakukan pengecekan kesehatan selama 15 sampai 30 menit. Jadi, yuk, sempatkan waktu untuk skrining. Bilang ke diri sendiri: "Gue sehat, dan gue mau tetap sehat untuk waktu yang lama." Karena pada akhirnya, mencegah bukan cuma lebih baik daripada mengobati, tapi juga jauh lebih murah dan nggak bikin stres berkepanjangan.

Jadi, kapan terakhir kali kamu cek kesehatan secara menyeluruh? Kalau jawabannya "nggak pernah" atau "lupa", mungkin ini saat yang tepat untuk buka aplikasi rumah sakit dan booking jadwal. Jangan kasih kendor, kesehatanmu itu aset paling berharga yang kamu punya!