7 Ciri Anak yang Terlalu Dimanjakan, Bukan Cuma Soal Sering Dituruti
RAU - Tuesday, 22 September 2026 | 07:39 PM


Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Memberikan perhatian, memenuhi kebutuhan, bahkan membuat anak bahagia merupakan bagian dari kasih sayang. Namun, ketika hampir semua keinginan anak selalu dituruti tanpa aturan dan batasan yang jelas, pola pengasuhan tersebut berpotensi membuat anak terlalu bergantung pada orang lain.
Memanjakan anak bukan hanya berkaitan dengan banyaknya mainan, makanan, atau fasilitas yang diberikan. Hal yang lebih penting adalah apakah anak tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar mandiri, memahami batasan, menerima penolakan, dan bertanggung jawab.
Berikut beberapa perilaku yang dapat terlihat pada anak yang terbiasa terlalu dimanjakan:
1. Sulit menerima kata "tidak"
Anak mungkin terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan sehingga merasa kecewa atau marah ketika permintaannya ditolak. Ia dapat terus meminta atau berusaha memaksakan keinginannya.
2. Mudah merasa kurang
Meskipun memiliki berbagai hal yang dibutuhkan, anak tetap dapat terus menginginkan sesuatu yang baru. Kebiasaan tersebut dapat membuat anak kurang menghargai apa yang sudah dimilikinya.
3. Cenderung mementingkan diri sendiri
Anak dapat lebih fokus pada keinginan pribadi dan berharap mendapatkan perlakuan khusus. Ia mungkin juga kesulitan memahami kebutuhan atau perasaan orang lain.
4. Sulit menerima kekalahan
Kalah dalam permainan atau tidak mendapatkan hasil yang diharapkan merupakan pengalaman yang perlu dipelajari anak. Namun, anak yang terbiasa selalu dituruti dapat lebih mudah marah, menyalahkan orang lain, atau sulit menerima kenyataan.
5. Enggan melakukan tugas sederhana
Tugas seperti merapikan mainan, menyikat gigi, membereskan barang sendiri, atau membantu pekerjaan ringan bisa terasa berat jika anak terbiasa selalu dilayani.
6. Mudah menunjukkan perilaku agresif
Pola asuh yang terlalu permisif dan minim batasan dapat membuat anak kurang mendapatkan kesempatan untuk belajar mengelola emosi. Ketika menghadapi konflik atau frustrasi, sebagian anak dapat merespons dengan perilaku agresif.
7. Cenderung impulsif
Anak perlu belajar menunggu, menunda keinginan, dan mengendalikan dorongan. Jika hampir semua permintaan langsung dipenuhi, kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut menjadi lebih sedikit.
Pada akhirnya, memberikan kasih sayang kepada anak bukan berarti harus memenuhi semua keinginannya. Anak juga membutuhkan aturan yang konsisten, tanggung jawab yang sesuai usia, serta kesempatan untuk menghadapi rasa kecewa agar kemampuan mengatur emosi dan kemandiriannya berkembang.
Next News

Kebiasaan Menggoyangkan Kaki Saat Duduk, Apakah Ada Penyebabnya?
11 hours ago

Mengapa Sebagian Orang Menyukai Pete, Sementara yang Lain Tidak Tahan Aromanya?
11 hours ago

Mitos atau Fakta, Pete Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah?
11 hours ago

Mengapa Pelangi Sering Terlihat di Dekat Air Terjun? Ini Penjelasan Ilmiahnya
11 hours ago

Pelangi Terlihat Berbeda bagi Setiap Orang, Benarkah Demikian?
11 hours ago

Mitos atau Fakta, Pelangi Selalu Memiliki Tujuh Warna? Ini Penjelasan Ilmiahnya
11 hours ago

Kenapa Rasa Manis Teh Berubah Saat Minumannya Sudah Dingin? Ini Penjelasannya
11 hours ago

Mengapa Buah yang Belum Matang Sering Terasa Lebih Asam? Ini Penjelasannya
11 hours ago

Mengapa Permen Terasa Sangat Manis, tetapi Buah Tidak Selalu Demikian? Ini Penyebabnya
11 hours ago

Mengapa Buah yang Matang Terasa Lebih Manis daripada Buah Mentah? Ini Penjelasannya
11 hours ago





