Mau Beli Suplemen Kolagen? 6 Hal Ini Wajib Diperhatikan Sebelum Membeli
RAU - Tuesday, 22 September 2026 | 08:06 PM


Kolagen merupakan salah satu protein penting yang terdapat di dalam tubuh. Protein struktural ini menjadi bagian dari berbagai jaringan, seperti kulit, tendon, tulang rawan, tulang, rambut, dan kuku. Seiring bertambahnya usia, produksi kolagen alami tubuh dapat mengalami penurunan.
Penurunan tersebut sering dikaitkan dengan perubahan pada kulit. Kulit dapat menjadi lebih kering, elastisitas berkurang, dan garis-garis halus mulai tampak. Kondisi inilah yang membuat sebagian orang tertarik menggunakan suplemen kolagen sebagai bagian dari upaya menjaga penampilan dan kesehatan tubuh.
Meski demikian, memilih suplemen kolagen tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan merek, harga, atau klaim yang terlihat menarik pada kemasan. Ada sejumlah hal yang perlu diperiksa sebelum membeli.
1. Kenali sumber kolagennya
Kolagen dalam suplemen dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk sapi, ayam, ikan, maupun babi. Karena itu, penting untuk membaca label dengan teliti sebelum membeli.
Bagi seseorang yang memiliki alergi terhadap ikan atau makanan laut, misalnya, produk dengan bahan dasar ikan atau yang dikenal sebagai marine collagen perlu diperhatikan. Selain alergi, konsumen juga dapat memiliki pertimbangan lain terkait sumber bahan, seperti preferensi makanan atau kebutuhan terhadap produk dengan sertifikasi tertentu.
2. Jangan asal menentukan dosis
Tidak ada satu dosis kolagen yang berlaku untuk semua orang dan semua tujuan. Jumlah yang digunakan dapat berbeda tergantung jenis produk, bentuk kolagen, serta tujuan konsumsi.
Sejumlah penelitian terhadap hydrolyzed collagen peptides menggunakan dosis dalam rentang tertentu dan menunjukkan hasil yang beragam. Karena itu, jumlah yang tertera pada kemasan sebaiknya diperhatikan dan tidak perlu mengonsumsi dalam jumlah berlebihan dengan harapan mendapatkan hasil lebih cepat.
Jika suplemen digunakan untuk tujuan tertentu, seperti mendukung kesehatan kulit, sendi, atau aktivitas fisik, kebutuhan seseorang juga dapat berbeda. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan apakah suplemen memang diperlukan dan bagaimana penggunaannya.
3. Perhatikan bentuk kolagennya
Pada label produk, konsumen mungkin menemukan istilah seperti hydrolyzed collagen atau collagen peptides. Istilah tersebut merujuk pada kolagen yang telah dipecah menjadi peptida berukuran lebih kecil melalui proses hidrolisis.
Bentuk ini banyak digunakan dalam produk suplemen karena lebih mudah ditangani dalam proses pencernaan dan penyerapan dibandingkan kolagen dalam bentuk protein yang belum dihidrolisis.
Meski begitu, istilah "peptida" pada kemasan bukan berarti produk tersebut otomatis memberikan hasil luar biasa. Tetap perhatikan jumlah kolagen yang terkandung dan keseluruhan komposisi produk.
4. Periksa kandungan tambahan
Sebagian produk kolagen tidak hanya mengandung kolagen. Produsen dapat menambahkan berbagai zat lain, misalnya vitamin C atau asam hialuronat.
Vitamin C sendiri memiliki peran penting dalam proses pembentukan kolagen di dalam tubuh. Sementara itu, asam hialuronat berkaitan dengan kemampuan jaringan mempertahankan air dan sering digunakan dalam produk yang ditujukan untuk mendukung kelembapan kulit.
Namun, banyaknya bahan tambahan tidak selalu berarti produk tersebut lebih baik. Justru semakin panjang daftar kandungannya, semakin penting untuk mengetahui fungsi masing-masing bahan dan apakah benar-benar dibutuhkan.
5. Jangan mudah percaya klaim anti-aging yang berlebihan
Kemasan suplemen terkadang menggunakan klaim yang sangat menarik, seperti mampu membuat kulit terlihat jauh lebih muda dalam waktu singkat. Klaim semacam ini sebaiknya tidak langsung dipercaya.
Suplemen kolagen bukanlah produk yang dapat menghentikan proses penuaan. Hasil penelitian mengenai manfaat kolagen juga dapat berbeda tergantung kondisi, dosis, lama penggunaan, dan karakteristik orang yang mengonsumsinya.
Karena itu, pilih produk dengan informasi yang jelas mengenai kandungan dan penggunaannya. Semakin realistis klaim yang ditawarkan, semakin mudah konsumen menilai produk berdasarkan informasi yang tersedia.
6. Jangan mengabaikan bahan tambahan lainnya
Selain bahan utama, perhatikan pula gula, pemanis, perasa, pewarna, pengawet, dan bahan tambahan lainnya yang terdapat dalam produk.
Tidak semua bahan tambahan otomatis berbahaya. Namun, seseorang yang memiliki sensitivitas tertentu atau mudah mengalami gangguan pencernaan mungkin perlu lebih berhati-hati terhadap komposisi produk.
Membandingkan beberapa produk berdasarkan daftar bahan dapat membantu konsumen mengetahui mana yang sesuai dengan kebutuhannya. Jangan hanya melihat tampilan kemasan atau popularitas suatu merek.
Pada akhirnya, suplemen kolagen sebaiknya dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti pola hidup sehat. Asupan protein yang cukup, konsumsi makanan bergizi, tidur yang memadai, aktivitas fisik, serta perlindungan kulit dari paparan sinar ultraviolet tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan kulit.
Next News

Kebanyakan Main HP Jangan Dianggap Sepele, Ini Dampaknya pada Tubuh
in 6 hours

Protein Anak Tak Harus Mahal, Ini Cara Memenuhi Nutrisi dengan Anggaran Terbatas
in 6 hours

Kekurangan Zat Besi pada Anak, Ini Dampaknya bagi Otak dan Tumbuh Kembang
in 6 hours

Berat Badan Berlebih Bisa Membebani Lutut, Kenali Risiko Osteoartritis
in 6 hours

7 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Membantu Hidup Lebih Terarah dan Produktif
in 5 hours

7 Ciri Anak yang Terlalu Dimanjakan, Bukan Cuma Soal Sering Dituruti
in 5 hours

6 Ciri-Ciri Anjing Rabies yang Perlu Diwaspadai, Jangan Sembarangan Mendekat
in 5 hours

Kapan Waktu Terbaik Minum Susu? Ternyata Tidak Harus Malam Hari
in 5 hours

Anak Digigit Nyamuk, Bentol dan Gatal? Begini Cara Meredakannya
in 5 hours

Kucing Menjilati Sesamanya Tak Selalu Tanda Kasih Sayang
7 hours ago





