Kekurangan Zat Besi pada Anak, Ini Dampaknya bagi Otak dan Tumbuh Kembang
RAU - Tuesday, 22 September 2026 | 08:26 PM


Zat besi menjadi salah satu nutrisi penting yang perlu diperhatikan dalam pola makan anak. Mineral ini tidak hanya berhubungan dengan pembentukan darah, tetapi juga memiliki peran dalam mendukung fungsi tubuh, termasuk proses yang berkaitan dengan perkembangan otak.
Salah satu fungsi utama zat besi adalah membantu pembentukan hemoglobin. Hemoglobin merupakan protein di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke berbagai jaringan tubuh. Ketika tubuh kekurangan zat besi, produksi hemoglobin dapat terganggu dan pada kondisi tertentu menyebabkan anemia defisiensi besi.
Masalah tersebut terkadang tidak langsung terlihat oleh orang tua. Gejalanya dapat berkembang secara bertahap sehingga kekurangan zat besi bisa berlangsung sebelum diketahui. Padahal, kebutuhan zat besi pada masa pertumbuhan perlu diperhatikan karena anak sedang mengalami perkembangan fisik dan kognitif yang pesat.
Dokter Spesialis Anak Ria Yoanita menjelaskan bahwa kecukupan zat besi berkaitan dengan aktivitas, kemampuan belajar, serta perkembangan anak sesuai dengan usianya. Pasalnya, oksigen yang dibawa hemoglobin dibutuhkan oleh berbagai organ, termasuk otak.
Bisa Memengaruhi Aktivitas dan Belajar
Ketika kadar zat besi tidak mencukupi, anak yang mengalami anemia dapat menunjukkan berbagai keluhan. Anak bisa tampak lebih mudah lelah, kurang bertenaga, pucat, atau mengalami penurunan konsentrasi. Namun, gejala dapat berbeda pada setiap anak dan tidak semua anak dengan kekurangan zat besi akan menunjukkan tanda yang jelas sejak awal.
Dalam jangka panjang, kekurangan zat besi yang tidak ditangani juga perlu mendapat perhatian karena masa kanak-kanak merupakan periode penting bagi perkembangan otak dan kemampuan belajar.
Karena itu, memenuhi kebutuhan zat besi bukan hanya bertujuan mencegah anemia. Asupan nutrisi yang memadai juga menjadi bagian dari upaya mendukung anak agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari dan berkembang sesuai tahapan usianya.
Sumber Zat Besi Bisa Didapat dari Makanan
Orang tua dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi anak dengan menyediakan makanan yang beragam dan bergizi seimbang. Beberapa makanan yang mengandung zat besi antara lain daging merah, ikan, telur, serta berbagai jenis sayuran hijau.
Sumber zat besi dari makanan hewani umumnya lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi yang berasal dari sumber nabati. Meski demikian, keduanya tetap dapat menjadi bagian dari pola makan anak selama diberikan secara beragam dan sesuai kebutuhan.
Selain memperhatikan jenis makanan, kombinasi makanan juga penting. Pola makan yang bervariasi membantu anak memperoleh bukan hanya zat besi, tetapi juga protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang dibutuhkan selama masa pertumbuhan.
Perhatikan Kebutuhan Sesuai Usia
Kebutuhan nutrisi anak tidak selalu sama. Jumlah zat besi yang dibutuhkan dapat berubah sesuai usia, tahap pertumbuhan, pola makan, serta kondisi kesehatan anak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan suplemen zat besi tanpa mengetahui apakah anak memang membutuhkannya. Suplemen atau terapi zat besi, terutama pada anak, sebaiknya diberikan berdasarkan anjuran dokter karena kelebihan zat besi juga dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Jika anak menunjukkan tanda seperti mudah lelah, terlihat pucat, kurang aktif, sulit berkonsentrasi, atau memiliki pola makan yang sangat terbatas, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penilaian yang tepat.
Susu Bisa Menjadi Bagian dari Pola Makan
Susu dapat menjadi salah satu bagian dari pola makan anak, terutama jika produk tersebut memberikan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan. Beberapa produk susu juga telah diperkaya dengan zat besi dan berbagai vitamin serta mineral lainnya.
Namun, susu sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya sumber nutrisi anak. Makanan utama yang beragam tetap penting agar kebutuhan berbagai zat gizi dapat terpenuhi.
Saat memilih produk susu atau makanan kemasan, orang tua juga dianjurkan membaca informasi nilai gizi dan daftar bahan. Dengan begitu, kandungan nutrisi, termasuk zat besi dan gula tambahan, dapat menjadi pertimbangan sebelum produk diberikan kepada anak.
Pola Makan Beragam Tetap Menjadi Kunci
Memenuhi kebutuhan zat besi sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari pola makan sehari-hari, bukan hanya ketika anak mulai menunjukkan tanda kekurangan nutrisi.
Orang tua dapat membiasakan anak mengonsumsi makanan dengan sumber protein yang beragam, sayuran, buah, serta makanan pokok sesuai kebutuhan. Kebiasaan makan yang bervariasi juga membantu anak mendapatkan nutrisi lain yang tidak kalah penting untuk pertumbuhan.
Selain makanan, orang tua perlu memperhatikan kondisi kesehatan anak secara keseluruhan. Anak yang mengalami masalah penyerapan zat gizi, memiliki pola makan sangat terbatas, atau mengalami kondisi medis tertentu mungkin membutuhkan perhatian lebih dari tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, kekurangan zat besi pada anak merupakan kondisi yang perlu dicegah dan dikenali sedini mungkin. Memberikan makanan bergizi seimbang, memperhatikan kebutuhan sesuai usia, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul tanda yang mengkhawatirkan dapat membantu menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Next News

Nanas Terasa Gatal di Mulut? Ternyata Ada Zat Alami yang Menjadi Penyebabnya
9 hours ago

Pulang Kerja Tapi Pikiran Masih di Kantor, Kenapa Hal Ini Bisa Terjadi?
9 hours ago

Tomat Disimpan Dekat Buah Lain Bisa Cepat Matang, Ini Alasannya
9 hours ago

Tomat Jangan Selalu Masuk Kulkas, Cara Menyimpannya Bisa Memengaruhi Rasanya
9 hours ago

Kenapa Alpukat Bisa Terasa Pahit? Ada Beberapa Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya
9 hours ago

Sering Diolah Jadi Tumisan, Jagung Muda Ternyata Punya Kandungan yang Menarik
9 hours ago

Menyelami Makna Malam dalam Kehidupan, Saat Sunyi Memberi Ruang untuk Berpikir
9 hours ago

6 Tanda Pasangan Mungkin Belum Serius Menjalani Hubungan, Jangan Abaikan Sikapnya
in 3 hours

6 Tanda Anak Merasa Nyaman dan Aman Bersama Orang Tua, Bisa Dilihat dari Kebiasaannya
9 hours ago

7 Tanda Pria Dewasa Masih Kesulitan Mengelola Emosi, Bukan Sekadar Soal Usia
in 3 hours





