Sabtu, 30 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Sulfur: Si Kuning Beraroma Menyengat dari Kawah Ijen

Liaa - Saturday, 30 May 2026 | 03:50 PM

Background
Mengenal Sulfur: Si Kuning Beraroma Menyengat dari Kawah Ijen

Belerang: Si Kuning Bau Kentut yang Ternyata Jadi Penyelamat Hidup Kita

Pernahkah kamu main ke Kawah Ijen di Banyuwangi atau Gunung Papandayan di Garut? Kalau pernah, pasti hal pertama yang menyapa hidungmu bukanlah aroma kopi senja yang puitis, melainkan bau menyengat yang mirip telur busuk. Selamat datang di dunia belerang, atau kalau dalam bahasa keren tabel periodiknya disebut Sulfur. Si kuning ini memang punya reputasi buruk soal aroma, tapi jangan salah, tanpa dia, mungkin wajah kita nggak bakal semulus sekarang dan industri dunia bisa langsung mogok kerja.

Jujurly, belerang itu ibarat teman yang mulutnya agak pedas tapi hatinya baik banget. Dia nggak berusaha tampil wangi demi disukai orang, tapi diam-diam dia punya peran krusial dalam kehidupan sehari-hari. Dari urusan jerawat yang membandel sampai urusan korek api buat nyalain kompor, belerang adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sering kali kita benci baunya tapi kita butuh keberadaannya.

Skincare Low Budget yang Enggak Kaleng-Kaleng

Mari kita bicara soal hal yang paling dekat dengan kaum muda: penampilan. Kalau kamu pejuang jerawat atau acne warrior, pasti sudah nggak asing lagi dengan sabun batang berwarna kuning cerah yang harganya sangat bersahabat di kantong minimarket. Belerang itu sudah jadi primadona di dunia medis sejak zaman nenek moyang kita masih hobi main kelereng. Sifatnya yang antimikroba dan keratolitik bikin dia jago banget ngusir bakteri penyebab jerawat dan ngelupas sel kulit mati.

Meskipun sekarang banyak skincare canggih dengan kandungan Salicylic Acid atau Retinol yang harganya bisa bikin dompet nangis, belerang tetap punya tempat di hati masyarakat. Ada semacam rasa percaya yang tumbuh kalau "kalau baunya sudah bau belerang, berarti ini manjur." Efeknya yang bikin kulit kering memang agak menyebalkan, tapi buat yang punya kulit berminyak parah, belerang adalah kunci. Istilahnya, dia itu solusi "old school" yang belum terkalahkan oleh zaman.

Bukan Sekadar Bau, Tapi Tulang Punggung Industri

Tapi jangan kira belerang cuma urusan jerawat doang. Kalau kita bedah lebih dalam, belerang ini punya karier yang sangat mentereng di dunia industri. Sekitar 90 persen belerang di dunia itu ujung-ujungnya bakal diolah jadi asam sulfat. Nah, asam sulfat ini adalah "ibu" dari segala bahan kimia. Bayangkan saja, hampir semua benda yang kamu pegang sekarang kemungkinan besar pernah bersentuhan dengan asam sulfat dalam proses produksinya.



Mulai dari pupuk buat tanaman padi di sawah, deterjen buat nyuci baju mantan yang masih ketinggalan, sampai baterai mobil dan motor yang kamu pakai buat jalan-jalan. Bahkan, proses pemurnian minyak bumi agar bisa jadi bensin pun butuh bantuan si kuning ini. Jadi, secara teknis, peradaban modern kita ini berdiri di atas tumpukan belerang yang bau. Tanpa belerang, mungkin kita bakal kembali ke zaman batu, atau setidaknya hidup jadi jauh lebih sulit.

Vibe Estetik Kawah dan Perjuangan di Baliknya

Kalau kamu anak Instagram atau TikTok, pasti sering lihat foto-foto estetik di kawah gunung dengan asap putih mengepul. Kawah Ijen dengan Blue Fire-nya yang legendaris itu sebenarnya adalah "panggung pertunjukan" terbesar belerang di Indonesia. Api biru itu muncul karena adanya reaksi kimia pembakaran gas belerang yang bertemu dengan udara pada suhu tinggi. Cantik banget memang, apalagi kalau difoto pas jam-jam golden hour.

Tapi di balik foto-foto estetik itu, ada realitas yang cukup pahit. Di sana ada para penambang belerang yang setiap hari harus bertaruh nyawa. Mereka memikul beban belerang yang beratnya bisa mencapai 80 sampai 100 kilogram sekali jalan, mendaki tebing curam di tengah kepulan asap beracun yang bikin sesak napas. Bagi mereka, belerang bukan cuma elemen kimia di tabel periodik, tapi adalah piring nasi buat keluarga di rumah.

Melihat mereka, kita jadi sadar bahwa sesuatu yang kita anggap remeh atau kita keluhkan baunya, ternyata adalah sumber penghidupan bagi sebagian orang. Ada rasa hormat yang harus kita berikan setiap kali mencium aroma sulfur di pegunungan, karena di situlah keringat dan perjuangan manusia menyatu dengan alam.

Jadi, Masih Mau Benci Bau Belerang?

Belerang mengajarkan kita satu hal penting: jangan menilai sesuatu hanya dari "bungkus" atau baunya saja. Memang sih, bau belerang itu jauh dari kata romantis. Baunya nggak bakal bikin gebetan kamu makin nempel, yang ada malah menjauh. Tapi kalau diingat-ingat lagi manfaatnya yang segudang, rasanya sedikit bau menyengat itu adalah harga kecil yang pantas kita bayar.



Sebagai kesimpulan, belerang adalah elemen multifungsi yang unik. Dia bisa jadi obat, bisa jadi bahan peledak, bisa jadi nutrisi tumbuhan, dan bisa jadi objek wisata yang mendunia. Dia adalah bukti nyata bahwa alam menyediakan segala sesuatunya dengan lengkap, tinggal kitanya saja yang harus pintar-pintar mengolah dan menghargainya.

Lain kali kalau kamu mencium bau belerang saat lewat di dekat kawah atau pas pakai sabun jerawat, jangan tutup hidung sambil maki-maki. Coba senyum sedikit dan bilang dalam hati, "Makasih ya, si Kuning, tanpa kamu dunia mungkin nggak bakal se-asik ini." Karena pada akhirnya, hidup itu memang butuh sedikit bau-bau tantangan biar nggak hambar, kan?