Mengapa Bawang Bikin Bau Badan? Ini Penyebab dan Cara Menguranginya
Tata - Tuesday, 04 August 2026 | 04:40 PM


Dilema Bawang: Alasan Kenapa Kenikmatan di Lidah Malah Berakhir Jadi Musibah di Ketiak
Pernah nggak sih kamu lagi asyik nge-date atau lagi meeting penting, tiba-tiba merasa ada yang aneh sama aroma tubuh sendiri? Bukan bau matahari habis naik ojek online, tapi lebih ke aroma tajam yang mirip-mirip dapur warung nasi goreng. Kalau iya, coba ingat-ingat lagi menu makan siangmu tadi. Jangan-jangan, kamu baru saja kalap menyantap sambal bawang atau makanan yang penuh dengan cacahan bawang putih.
Jujur aja, sebagai orang Indonesia, hidup tanpa bawang itu rasanya hambar banget. Bawang merah, bawang putih, sampai bawang bombay adalah kunci dari segala kelezatan hakiki. Mau bikin tumisan? Pakai bawang. Mau makan bakso? Gak afdol kalau nggak pakai taburan bawang goreng yang melimpah. Tapi ya itu risikonya, ada harga mahal yang harus dibayar setelah sesi makan yang nikmat itu berakhir: bau badan yang aduhai tajamnya.
Biang Kerok Bernama Senyawa Sulfur
Pertanyaannya, kenapa sih benda sekecil bawang bisa punya efek yang sebegitu dahsyatnya ke aroma tubuh kita? Ternyata, ini semua bukan karena klenik atau sekadar sugesti. Ada penjelasan ilmiah yang sebenarnya cukup masuk akal, meski menyebalkan. Di dalam bawang, terutama bawang putih, terdapat senyawa bernama allicin. Nah, pas kita kunyah atau cincang itu bawang, allicin ini bakal berubah jadi senyawa sulfur organik.
Sulfur inilah yang jadi tersangka utamanya. Kalau kamu pernah lewat di daerah belerang atau kawah gunung berapi, baunya kan khas banget tuh, agak-agak mirip telur busuk tapi versi lebih "sopannya". Nah, sulfur dalam bawang ini punya karakteristik yang mirip. Masalahnya, tubuh kita itu nggak bisa langsung memproses atau membuang sulfur ini lewat jalur pencernaan biasa secepat kilat. Dia punya cara mainnya sendiri.
Perjalanan Panjang dari Lidah ke Pori-pori
Ini bagian yang paling bikin geleng-geleng kepala. Setelah kamu menelan itu bawang, senyawa sulfurnya nggak cuma diam manis di perut. Dia bakal diserap masuk ke aliran darah. Bayangin aja, sulfur itu sekarang lagi "jalan-jalan" keliling tubuh kamu lewat pembuluh darah. Karena dia sudah ada di dalam darah, otomatis dia bakal mampir ke organ-organ lain, termasuk paru-paru dan kelenjar keringat.
Inilah alasan kenapa kalau habis makan bawang banyak banget, mulut kamu tetep bau meski udah sikat gigi sampai gusi berdarah atau kumur-kumur pakai obat kumur paling pedas sedunia. Baunya itu bukan cuma nempel di gigi atau lidah, tapi keluar dari paru-paru lewat napasmu. Begitu juga dengan keringat. Saat kamu mulai merasa gerah, keringat yang keluar dari pori-pori itu sudah "terkontaminasi" sama senyawa sulfur tadi. Jadi jangan heran kalau ketiak tiba-tiba mengeluarkan aroma mirip bumbu dapur. Itu murni karena proses kimiawi di dalam tubuh, bukan karena kamu kurang bersih mandinya.
Kenapa Setiap Orang Baunya Beda-beda?
Pasti kamu pernah punya temen yang makan bawang sebakul tapi badannya tetep wangi parfum mahal. Sementara kamu baru makan sambal sedikit aja, baunya udah kayak habis marathon di pasar induk. Dunia memang kadang nggak adil, ya? Tapi tenang, ini ada penjelasannya. Setiap orang punya metabolisme yang berbeda-beda. Ada orang yang tubuhnya sangat efisien membuang sisa-sisa sulfur, ada juga yang prosesnya lambat banget.
Selain itu, jenis bakteri yang ada di kulit kita juga berpengaruh. Bau badan itu sebenarnya hasil kerja sama antara keringat dan bakteri. Kalau bakteri di kulitmu tipenya "rajin" mengolah sulfur tadi, ya aromanya bakal makin tajam. Jadi, kalau kamu termasuk tim yang gampang bau bawang, mungkin memang metabolisme kamu lagi ngajak bercanda atau memang genetikmu menyuruhmu untuk lebih bijak mengonsumsi bawang.
Terus, Harus Gimana? Musuhan Sama Bawang?
Ya nggak gitu juga konsepnya. Menghindari bawang di masakan Indonesia itu hampir mustahil, kecuali kamu mau makan makanan rumah sakit terus-terusan. Ada beberapa cara "hack" yang bisa dicoba biar aroma tubuh tetap aman terkendali. Pertama, perbanyak minum air putih setelah makan bawang. Air putih bakal ngebantu ginjal dan sistem pencernaan buat melarutkan sisa-sisa senyawa sulfur itu lebih cepat.
Kedua, coba konsumsi buah-buahan seperti apel atau minum susu setelah makan yang "berbawang". Katanya sih, enzim dalam apel atau lemak dalam susu bisa membantu menetralkan bau sulfur sebelum dia sempat "kabur" ke aliran darah. Atau kalau mau cara yang lebih gaya, minum teh hijau juga oke banget karena kandungan polifenolnya bisa ngurangin bau tajam bawang di mulut.
Intinya, makan bawang itu nikmat, tapi kesadaran diri itu jauh lebih penting. Kalau tahu besok ada acara penting atau mau ketemu gebetan pertama kali, mungkin ada baiknya nahan diri dulu dari godaan ayam geprek sambal bawang level maksimal. Jangan sampai momen romantis kamu buyar gara-gara dia mengira lagi ngobrol sama penjual bawang di pasar tradisional.
Kita semua setuju kalau bawang adalah "soulmate" dari makanan enak. Namun, seperti hubungan pada umumnya, kita perlu tahu batasan biar nggak saling menyakiti, terutama menyakiti hidung orang-orang di sekitar kita. Stay wangi, stay kenyang!
Next News

Amalan Pembuka Rezeki Menurut Islam
14 hours ago

Keutamaan Sholat Tepat Waktu: Bentuk Ketaatan dan Cara Mendekatkan Diri kepada Allah
14 hours ago

10 Tips Meningkatkan Penjualan Online agar Bisnis Makin Dikenal dan Omzet Bertambah
17 hours ago

7 Penyebab Kulit Kepala Berminyak yang Bikin Rambut Cepat Lepek
6 hours ago

7 Jenis Susu yang Baik untuk Tulang, Pilih yang Tepat agar Tulang Tetap Kuat
6 hours ago

Mengapa Pisang Dapat Membantu Melancarkan BAB? Ini Penjelasan Ilmiahnya
6 hours ago

Cara Menjaga Kesehatan Usus agar Daya Tahan Tubuh Tetap Optimal
7 hours ago

4 Dampak Paparan Sinar Matahari Berlebihan pada Kulit dan Cara Melindunginya
7 hours ago

5 Manfaat Daun Katuk untuk Kesehatan, Tak Hanya Membantu Melancarkan ASI
7 hours ago

Cara Mengenali Kuku Sehat: Jangan Abaikan Perubahan Warna, Bentuk, dan Teksturnya
7 hours ago





