Minggu, 20 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Anak Suka Memukul? Ini 6 Cara Orang Tua Menghadapinya dengan Tepat

RAU - Sunday, 20 September 2026 | 07:54 AM

Background
Anak Suka Memukul? Ini 6 Cara Orang Tua Menghadapinya dengan Tepat

Melihat anak memukul orang lain tentu dapat membuat orang tua khawatir. Terlebih jika perilaku tersebut mulai berulang dan muncul setiap kali anak merasa marah, kecewa, atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Pada usia tertentu, memukul dapat menjadi bentuk luapan emosi karena kemampuan anak untuk mengungkapkan perasaan melalui kata-kata masih berkembang. Anak masih belajar memahami rasa marah dan frustrasi sekaligus mengendalikan dorongan untuk bertindak secara spontan.

Karena itu, orang tua perlu memberikan respons yang tepat. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan ketika anak memiliki kebiasaan memukul.

1. Hentikan dengan tenang dan tegas

Saat anak memukul, orang tua perlu segera menghentikan perilaku tersebut dan memberikan batas yang jelas. Katakan secara singkat bahwa memukul bukan tindakan yang diperbolehkan.

Hindari membentak, mengancam, atau mempermalukan anak. Sikap tenang membantu anak melihat bahwa masalah dapat dihadapi tanpa menggunakan kekerasan.



2. Jangan membalas dengan kekerasan

Membalas pukulan anak dengan pukulan tidak mengajarkan cara mengelola emosi dengan baik. Sebaliknya, anak dapat menangkap contoh bahwa kekerasan merupakan cara untuk menyelesaikan masalah.

Orang tua merupakan salah satu contoh utama bagi anak. Karena itu, penting menunjukkan cara menghadapi kemarahan dengan komunikasi dan tindakan yang tidak menggunakan kekerasan.

3. Bantu anak mengenali emosinya

Setelah kondisi mulai tenang, ajak anak memahami apa yang sedang dirasakannya. Jelaskan bahwa marah, kecewa, atau frustrasi merupakan emosi yang wajar, tetapi memukul bukan cara yang tepat untuk melampiaskannya.

Orang tua dapat membantu dengan menyebutkan nama emosinya. Misalnya, "Kamu sedang marah karena mainannya diambil. Kalau tidak suka, kamu bisa bilang kepada Mama, bukan memukul."

4. Ajarkan pilihan lain selain memukul

Sekadar mengatakan "jangan memukul" belum tentu membuat anak mengetahui apa yang harus dilakukan saat emosi muncul. Karena itu, orang tua juga perlu mengajarkan alternatif yang sesuai dengan usia anak.



Anak dapat diarahkan untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, meminta bantuan, menjauh sebentar dari situasi yang membuatnya kesal, atau melakukan aktivitas sederhana untuk menenangkan diri.

5. Berikan pujian saat anak berhasil mengendalikan diri

Orang tua tidak hanya perlu memberikan perhatian ketika anak melakukan kesalahan. Ketika anak berhasil menghadapi rasa marah tanpa memukul, perilaku tersebut juga perlu diapresiasi.

Pujian sederhana seperti, "Kamu tadi marah, tapi kamu memilih bicara. Itu bagus," dapat membantu anak memahami bahwa mengungkapkan emosi dengan cara yang tepat merupakan perilaku yang diharapkan.

6. Kenali situasi yang memicu anak memukul

Perhatikan kapan perilaku tersebut biasanya muncul. Anak mungkin lebih mudah memukul ketika merasa lelah, lapar, mainannya diambil, kalah saat bermain, diminta berhenti bermain, berebut dengan saudara, atau sedang mencari perhatian.

Dengan mengetahui pemicunya, orang tua dapat mengantisipasi situasi dan membantu anak mempersiapkan respons yang lebih tepat. Aturan mengenai memukul juga perlu diterapkan secara konsisten agar anak memahami batas yang berlaku.



Jika perilaku agresif terjadi sangat sering, semakin berat, menyebabkan cedera, atau sulit dikendalikan meski sudah diberikan pendampingan secara konsisten, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.