Sabtu, 5 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenali 6 Faktor yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Usus Besar

RAU - Saturday, 05 September 2026 | 01:21 PM

Background
Kenali 6 Faktor yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Usus Besar

Kanker usus besar atau kanker kolorektal menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Risiko penyakit ini dapat meningkat seiring bertambahnya usia, meskipun kanker kolorektal juga dapat terjadi pada kelompok usia yang lebih muda.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa kanker kolorektal termasuk salah satu kanker dengan jumlah kasus dan kematian yang tinggi secara global.

Penyebab kanker usus besar sendiri tidak selalu dapat ditentukan dari satu faktor. Namun, sejumlah kondisi dan kebiasaan diketahui dapat meningkatkan risikonya.

Beberapa di antaranya tidak dapat diubah, seperti usia dan riwayat keluarga. Sementara itu, ada pula faktor yang berkaitan dengan gaya hidup dan masih dapat diperhatikan.

Berikut beberapa faktor yang perlu diketahui.



1. Berat badan berlebih

Kelebihan berat badan atau obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal. Karena itu, menjaga berat badan dalam kisaran yang sehat sesuai kondisi masing-masing dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup dapat membantu menjaga kesehatan metabolisme sekaligus mendukung pengelolaan berat badan.

2. Diabetes tipe 2

Orang yang mengalami diabetes tipe 2 diketahui memiliki risiko kanker kolorektal yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut.

Salah satu dugaan yang diteliti berkaitan dengan perubahan kadar insulin dan proses metabolisme yang terjadi pada diabetes. Karena itu, menjaga kadar gula darah tetap terkontrol menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

3. Terlalu banyak mengonsumsi daging merah dan daging olahan

Pola makan yang banyak mengandung daging merah, seperti daging sapi, babi, dan domba, serta daging olahan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.



Cara memasak juga menjadi perhatian. Pengolahan daging menggunakan suhu yang sangat tinggi, terutama hingga gosong, dapat menghasilkan senyawa tertentu yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan jika paparannya berlangsung terus-menerus.

Karena itu, pola makan sebaiknya dibuat lebih beragam dengan memasukkan buah, sayuran, biji-bijian utuh, dan sumber makanan bergizi lainnya.

4. Pola makan rendah serat

Asupan serat yang rendah juga menjadi salah satu hal yang banyak dibahas dalam kaitannya dengan kesehatan usus.

Serat dapat diperoleh dari berbagai makanan, seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.

Mengonsumsi makanan yang beragam dan kaya serat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga mendukung kesehatan sistem pencernaan.



5. Kebiasaan merokok

Merokok tidak hanya berkaitan dengan penyakit paru-paru. Kandungan dalam produk tembakau juga dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal.

Kebiasaan merokok juga berhubungan dengan kemungkinan terbentuknya polip pada usus, yang pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi kanker.

Berhenti merokok menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi berbagai risiko kesehatan yang berkaitan dengan tembakau.

6. Konsumsi alkohol

Konsumsi alkohol juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal. Risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh jumlah dan pola konsumsi.

Karena alkohol juga memiliki kaitan dengan berbagai masalah kesehatan lainnya, semakin sedikit konsumsi alkohol umumnya semakin baik untuk kesehatan.



Tidak Semua Faktor Bisa Dikendalikan

Penting untuk dipahami bahwa seseorang yang memiliki faktor risiko tidak otomatis akan mengalami kanker usus besar. Sebaliknya, orang tanpa faktor risiko tertentu tetap dapat mengalami penyakit tersebut.

Usia, riwayat keluarga, serta beberapa kondisi genetik merupakan contoh faktor yang tidak dapat diubah.

Karena itu, perhatian terhadap gaya hidup sebaiknya berjalan bersama dengan pemeriksaan kesehatan dan skrining sesuai usia serta tingkat risiko masing-masing.

Mengenali faktor risiko bukan berarti harus merasa takut. Justru, informasi tersebut dapat membantu seseorang mengambil langkah yang lebih baik untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.