Kapan Mulai Digunakannya Sajadah?
Liaa - Sunday, 22 February 2026 | 09:48 AM


Dalam ajaran Islam, shalat dapat dilakukan di tempat yang bersih tanpa harus menggunakan alas khusus. Pada masa Nabi Muhammad, umat Muslim sering shalat langsung di atas tanah, pasir, atau tikar sederhana dari daun kurma.
Beberapa riwayat menyebutkan penggunaan khumrah (tikar kecil dari anyaman serat kurma) sebagai alas sujud. Artinya, fungsi awal sajadah adalah menjaga kebersihan dan kenyamanan saat beribadah.
Seiring meluasnya wilayah Islam pada masa Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, tradisi tekstil berkembang pesat.
Wilayah Persia, Anatolia, dan Asia Tengah terkenal dengan seni tenun dan karpetnya.
Di sinilah muncul konsep karpet doa (prayer rug) dengan desain khusus. Karpet tersebut biasanya memiliki motif lengkungan menyerupai mihrab (ceruk di masjid yang menunjukkan arah kiblat).
Beberapa pusat produksi karpet bersejarah antara lain:Persia, Anatolia,Konya.
Karpet Turki dan Persia bahkan menjadi komoditas perdagangan penting sejak abad ke-15.
Wilayah Persia (Iran modern) dikenal sebagai pusat seni karpet dunia sejak abad pertengahan.
1.Ciri khas sajadah Persia:
•Motif floral rumit (arabesque)
•Detail sangat halus dan kompleks
•Warna kaya seperti merah marun, biru tua, dan emas
•Tenunan padat dan berkualitas tinggi
Selain Persia,di wilayah Anatolia, khususnya kota Konya, berkembang tradisi karpet doa Turki sejak era Kesultanan Utsmaniyah.
2.Ciri khas sajadah Turki:
•Motif mihrab tegas dan geometris
•Warna kontras (merah bata, biru, krem)
•Desain lebih sederhana dibanding Persia
•Simbol tangan, lampu gantung, atau pohon kehidupan
Sajadah Turki dikenal lebih struktural dan berani dalam komposisi visual. Mihrab pada sajadah Turki biasanya sangat jelas dan dominan.
Motif sajadah umumnya mengandung unsur:
Mihrab (simbol arah kiblat),
Motif floral dan geometris, dan
Ornamen kaligrafi.
Menurut kajian dalam The Metropolitan Museum of Art, karpet doa Islam klasik tidak hanya berfungsi praktis, tetapi juga sebagai ekspresi seni spiritual dan identitas budaya.
Desain mihrab pada sajadah membantu pengguna memposisikan diri menghadap kiblat secara visual.
Bagaimana di Indonesia?
Di Indonesia, sajadah mulai dikenal luas seiring penyebaran Islam sejak abad ke-13 melalui jalur perdagangan.
Awalnya, masyarakat menggunakan tikar pandan atau anyaman lokal. Seiring waktu, sajadah berbahan beludru, katun, hingga rajut mulai diproduksi massal.
Kini, Indonesia tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga produsen sajadah dengan motif khas lokal.
Dan perkembangan modern di Indonesia,menghadirkan sajadah dengan:
Motif batik Nusantara, dengan
•Ornamen masjid khas Indonesia
•Warna pastel dan desain minimalis
•Bahan ringan seperti katun, beludru tipis, hingga sajadah travel.
Berbeda dengan Persia dan Turki yang menonjolkan tenunan karpet tebal, sajadah Indonesia lebih praktis dan menyesuaikan iklim tropis.
Sajadah bukan kewajiban dalam shalat, tetapi menjadi bagian penting dalam tradisi Islam. Berawal dari alas sederhana di masa Nabi Muhammad, sajadah berkembang menjadi karya seni tekstil bernilai tinggi di Persia dan Turki, lalu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hingga kini, sajadah tetap menjadi simbol kebersihan, kekhusyukan, dan identitas budaya umat Muslim.
Next News

Buka Puasa Pakai Es Batu: Antara Surga Dunia dan Protes Perut yang Kaget
2 hours ago

Maghrib Keburu di Kereta? Tenang, Ini 5 Takjil Aman dan Elegan
13 hours ago

Modal Receh, Cuan Nggak Receh: 6 Ide Jualan Ramadan yang Wajib Dicoba
a day ago





