Angpao Saat Imlek: Makna dan Filosofi di Balik Amplop Merah
Tata - Wednesday, 11 February 2026 | 06:02 AM


Tradisi angpao—atau dalam bahasa Mandarin disebut hongbao—berakar dari kebudayaan Tiongkok kuno. Secara harfiah, hong berarti merah dan bao berarti bungkus atau amplop. Warna merah dalam budaya Tionghoa melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, serta penolak energi negatif.
Menurut catatan sejarah yang dirujuk dalam studi budaya Tiongkok oleh China Folklore Society, tradisi ini berasal dari legenda tentang makhluk bernama "Sui" yang dipercaya mengganggu anak-anak saat malam pergantian tahun.
Orang tua kemudian memberikan koin yang dibungkus kain merah untuk melindungi anak dari gangguan tersebut. Tradisi ini berkembang menjadi pemberian uang dalam amplop merah sebagai simbol perlindungan dan doa keselamatan.
Dalam perspektif antropologi budaya, angpao bukan sekadar memberi uang, tetapi bentuk simbolik dari menurunkan berkah antar generasi. Orang yang sudah menikah atau lebih tua biasanya memberikan angpao kepada anak-anak atau yang belum menikah. Ini mencerminkan struktur sosial dalam budaya Tionghoa yang menekankan penghormatan pada hierarki keluarga dan nilai filial piety (bakti kepada orang tua), sebagaimana dijelaskan dalam kajian Confucian ethics oleh para akademisi East Asian Studies.
Jumlah uang dalam angpao pun memiliki makna numerologis. Angka genap lebih disukai karena dianggap membawa keseimbangan, sementara angka 4 sering dihindari karena pelafalannya dalam bahasa Mandarin menyerupai kata "kematian". Sebaliknya, angka 8 dianggap membawa keberuntungan karena bunyinya mirip dengan kata "kemakmuran".
Seiring perkembangan zaman, tradisi angpao juga beradaptasi. Di era digital, muncul e-angpao melalui aplikasi pembayaran elektronik di Tiongkok dan negara-negara dengan populasi Tionghoa besar.
Namun, secara budaya, makna simboliknya tetap sama: berbagi rezeki dan menyampaikan doa baik di awal tahun.
Di Indonesia, tradisi angpao telah menjadi bagian dari keragaman budaya nasional.
Perayaan Imlek yang diakui sebagai hari libur nasional sejak 2002 semakin memperkuat eksistensi praktik ini sebagai ekspresi kebudayaan yang hidup dan dinamis.
Secara sosiologis, praktik berbagi dalam angpao juga memperkuat kohesi sosial keluarga. Studi dalam jurnal Journal of Ritual Studies menyebutkan bahwa ritual pemberian simbolik seperti ini membantu memperkuat identitas kelompok dan rasa kebersamaan dalam komunitas.
Dengan demikian, angpao bukan sekadar amplop berisi uang. Ia adalah simbol harapan, perlindungan, keberuntungan, serta pengingat akan pentingnya hubungan keluarga.
Next News

Kenapa Tubuh Terasa Lebih Sakit Saat Malam Hari? Ini Penjelasan Ilmiahnya
7 hours ago

Kenapa Air Laut Asin Tapi Air Hujan Tidak?
7 hours ago

Bersepeda vs Lari: Mana Lebih Baik untuk Kesehatan?
7 hours ago

Vitamin D3: Fungsi, Sumber, dan Perannya bagi Kesehatan Tubuh
7 hours ago

Tomat, Si Merah Yang Baik Untuk Jantung Hingga Kulit
7 hours ago

Viral Ajakan Setop Pakai ChatGPT, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
10 hours ago

Suka Singkong Rebus? Hindari 3 Makanan Ini Saat Mengonsumsinya
10 hours ago

Cara Sehat Atasi Keinginan Makan Manis dengan 11 Camilan Bergizi
11 hours ago

Fakta Mengejutkan, Ikan Asal RI Unggul Kandungan Omega-3 Dunia
11 hours ago

Resep Praktis Bubur Sumsum 100 Gram Tepung Beras, Tekstur Lembut dan Mulus
11 hours ago





