Jumat, 28 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Regional & Nasional

Wakil Bupati Tapsel Motivasi 817 Mahasiswa Baru: Jangan Pernah Berhenti Belajar dan Berjuang All Out

RAU - Friday, 28 August 2026 | 09:22 AM

Background
Wakil Bupati Tapsel Motivasi 817 Mahasiswa Baru: Jangan Pernah Berhenti Belajar dan Berjuang All Out

TAPANULI SELATAN

Wakil Bupati Tapanuli Selatan H. Jafar Syahbuddin Ritonga, M.BA., D.B.A., memberikan motivasi kepada 817 mahasiswa baru Universitas Aufa Royhan dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan PKKMB yang berlangsung pada 26–29 Agustus 2026 tersebut diikuti mahasiswa dari delapan program studi, yakni S1 Keperawatan, S1 Kebidanan, S1 Farmasi, S1 Kesehatan Masyarakat, D3 Kebidanan, D3 Teknologi Bank Darah, S1 Desain Fashion, dan S1 Kewirausahaan.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati yang hadir mewakili Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu, S.E., Ak., M.M., C.A. mengajak mahasiswa baru mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan tidak pernah berhenti belajar.

Persiapkan kapasitas intelektualmu, Empat tahun S1, dua tahun S2, empat tahun S3. Sepuluh tahun lagi siapkan dirimu," ujar Jafar di hadapan para mahasiswa.



Ia kemudian menceritakan perjalanan pendidikannya sebagai contoh bahwa proses belajar tidak boleh berhenti meskipun seseorang telah bekerja atau menduduki jabatan tertentu.

Jafar menyampaikan bahwa dirinya menyelesaikan pendidikan S1 Sarjana Ekonomi di Universitas Sumatera Utara pada 1992. Setelah itu, pada 1993 ia melanjutkan pendidikan MBA (Master of Business Administration) di Cleveland State University, Amerika Serikat.

Setelah sempat berkarier sebagai wiraswasta, ia kembali melanjutkan pendidikan pada 2011 melalui program DBA (Doctor of Business Administration) di University Science Malaysia, Penang, Malaysia. Ia menyebut dirinya sebagai salah satu penyandang gelar DBA pertama di Sumatera Utara.

Menurutnya, pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang telah memperoleh gelar atau jabatan.

"Jangan jabatan Wakil Bupati membuat saya berhenti belajar. Belajar itu long lasting education, tidak pernah berhenti," katanya.



Jafar juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menyelesaikan jenjang Lektor Kepala dan menargetkan dalam dua tahun ke depan dapat menyelesaikan berbagai persyaratan akademik untuk meraih gelar profesor.

Ia menekankan, mahasiswa harus memiliki kemampuan belajar yang kuat karena tantangan kehidupan ke depan semakin kompleks dan tidak selalu dapat diprediksi.

"Kalau sekarang baru membaca satu halaman sudah pusing, bagaimana menatap masa depan? Ketika saya kuliah di Amerika, satu malam saya bisa menghabiskan waktu membaca 50 halaman buku dalam bahasa Inggris," ungkapnya.


Selain pentingnya pendidikan, Jafar menyampaikan bahwa pengalaman juga merupakan bagian dari proses belajar. Ia mencontohkan pengalamannya ketika menghadapi pandemi Covid-19 pada 2020 di Pondok Pesantren Darul Mursyid yang didirikannya.



Saat itu, kata Jafar, Covid-19 merupakan penyakit baru sehingga belum banyak referensi yang dapat dijadikan acuan dalam mengambil keputusan. Karena itu, ia memilih mempelajari berbagai informasi, mengikuti perkembangan dan menunggu arahan pemerintah sebelum mengambil kebijakan.

"Dari mana belajar itu? Tidak harus dari buku. Bisa dari pengalaman. Apalagi hari ini kalian hidup di tengah media sosial dan teknologi yang tidak terbatas. Banyak cara untuk belajar," katanya.

Pengalaman serupa, lanjutnya, kembali dihadapi ketika dirinya bersama Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu dilantik pada Maret 2025 dan beberapa bulan kemudian Kabupaten Tapanuli Selatan dilanda bencana besar pada November 2025.

Menurut Jafar, bencana tersebut berdampak pada 14 dari 15 kecamatan di Tapanuli Selatan. Pemerintah daerah kemudian melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari menjaga ketersediaan bahan pangan, mengoordinasikan bantuan, hingga memastikan kondisi masyarakat tetap kondusif.

"Kami tidak pernah menangani bencana sebelumnya. Saya belum pernah menjadi birokrat. Tetapi kami sadar, karena tidak punya pengalaman, kami harus belajar bagaimana mitigasi dan mengelola bencana," ujarnya.



Ia menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa seseorang tidak boleh membatasi diri hanya berdasarkan latar belakang pendidikan.

Jafar juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada pemikiran bahwa ilmu yang dipelajari hanya dapat digunakan pada satu bidang tertentu.

"Jangan keilmuan membatasi kalian. Jangan nanti bilang, 'Saya sarjana keperawatan, Pak, saya hanya tahu menyuntik.' Tidak bisa begitu. Kalian tidak tahu nanti akan ditempatkan menjadi apa," tegasnya.

Ia mencontohkan dirinya yang berlatar belakang ekonomi dan manajemen, namun ketika menjadi Wakil Bupati harus mempelajari berbagai persoalan, termasuk kesehatan, pertanian, peternakan, pemerintahan dan penanggulangan bencana.

Menurutnya, ketika seseorang telah menerima amanah, maka ia memiliki tanggung jawab untuk mempelajari persoalan yang dihadapi masyarakat.



"Jangan saya bilang, 'Saya doktor bisnis, jadi saya tidak tahu bagaimana mengurus kesehatan.' Tidak bisa. Masyarakat sudah memilih saya menjadi Wakil Bupati. Mereka meminta kami menyelesaikan persoalan mereka. Otomatis saya harus belajar," katanya.


Dalam memberikan motivasi kepada mahasiswa baru, Jafar menekankan tiga prinsip penting yang perlu ditanamkan sejak dini, yakni tidak pernah berhenti belajar, tidak membatasi diri pada satu keilmuan, serta bekerja dan berjuang secara total.

Ia meminta mahasiswa tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

"Sekali nyemplung harus basah. Jangan setengah hati. Berjuanglah all out, sepenuh hati, sepenuh tenaga dan sepenuh pikiran," ujarnya.



Ia menggunakan perumpamaan sederhana tentang seseorang yang ingin mengambil buah mangga. Jika tidak mampu memanjat pohon, dapat menggunakan tangga. Jika masih tidak bisa, dapat mencari cara lain. Bahkan, katanya, jika seluruh cara belum berhasil, pohon tersebut dapat ditebang.

"Intinya jangan kebanyakan alasan dan jangan pernah putus asa. Kalau belum berhasil, cari cara lain. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan," katanya.

Jafar mengatakan prinsip tersebut juga diterapkannya bersama Bupati Tapanuli Selatan dalam menjalankan pemerintahan, termasuk dalam upaya memulihkan kondisi daerah setelah bencana.

Ia menyebut pemerintah daerah terus berupaya mendorong pemulihan ekonomi, penanganan kemiskinan, penurunan stunting serta pembangunan kembali rumah masyarakat yang terdampak bencana.

Lebih lanjut, Jafar mengingatkan mahasiswa bahwa perkembangan teknologi telah membuat dunia semakin terbuka dan tanpa batas. Informasi dari suatu negara dapat diketahui masyarakat di belahan dunia lain dalam hitungan detik.



Karena itu, menurutnya, kompetensi menjadi hal yang sangat penting bagi generasi muda.

"Dunia kita semakin lama semakin cepat berubah. Yang diperlukan hari ini adalah kompetensi. Orang tidak lagi hanya melihat dari mana kewarganegaraannya, tetapi apa kompetensinya," ujarnya.

Ia berharap mahasiswa baru Universitas Aufa Royhan dapat memanfaatkan masa perkuliahan untuk membangun kompetensi, karakter, kepemimpinan dan keberanian menghadapi tantangan.

"Belajarlah mulai dari buaian sampai liang lahat. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan mudah menyerah dan ketika sudah memilih jalan, jalani dengan all out," pungkasnya.

Kegiatan PKKMB tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Aufa Royhan Prof. Dr. Anto, SKM., M.Kes., MM., Wakil Rektor III Dr. Ns. Sukhri Herianto Ritonga, M.Kep., Ketua Yayasan Dr. Henniyati Harahap, SKM., M.Kes., moderator Bd. Nur Aliyah Rangkuti, M.KM., serta jajaran akademika dan panitia PKKMB Universitas Aufa Royhan.



Tags