Minggu, 6 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Ternyata Begini Sejarah Panjang Croissant Sebelum Populer di Dunia

Tata - Wednesday, 02 September 2026 | 10:00 AM

Background
Ternyata Begini Sejarah Panjang Croissant Sebelum Populer di Dunia

Ternyata Begini Sejarah Panjang Croissant Sebelum Populer di Dunia

Siapa sih yang nggak kenal croissant? Roti berbentuk bulan sabit yang kalau digigit teksturnya renyah di luar tapi lembut banget di dalam ini sudah jadi "status symbol" buat kaum urban yang hobi nongkrong di coffee shop. Mau pagi, siang, atau sore, rasanya belum afdal kalau minum latte tanpa ditemani sepotong croissant hangat yang aromanya mentega banget. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran kalau makanan yang identik banget sama Prancis ini sebenarnya punya sejarah yang jauh lebih rumit dan nggak se-Prancis yang kita kira?

Banyak orang menganggap croissant lahir di bawah bayang-bayang Menara Eiffel. Padahal, kalau kita mau jujur-jujuran dan bongkar buku sejarah, croissant itu aslinya "imigran". Ia adalah perantau yang sukses mengubah identitasnya setelah menetap di Paris. Ceritanya bukan cuma soal resep tepung dan mentega, tapi soal perang, legenda heroik, hingga selera ningrat yang bikin lidah kita semua ketagihan sampai sekarang.

Bukan dari Paris, Tapi dari Wina

Mari kita luruskan satu hal: leluhur croissant sebenarnya berasal dari Austria, tepatnya dari kota Wina. Namanya adalah Kipferl. Bentuknya memang mirip bulan sabit, tapi teksturnya beda jauh. Kipferl lebih mirip roti biasa yang padat, bukan lapisan-lapisan tipis yang rapuh seperti croissant modern yang sering kita lihat di media sosial. Kipferl sudah ada sejak abad ke-13 dan biasanya disajikan sebagai makanan manis di momen-momen tertentu.

Lalu, gimana ceritanya roti dari Austria ini bisa sampai ke Prancis? Di sinilah mitos dan sejarah mulai bercampur jadi satu. Ada legenda populer yang menyebutkan kalau bentuk bulan sabit ini diciptakan sebagai bentuk selebrasi atas kemenangan tentara Austria melawan Kekaisaran Ottoman (Turki) dalam Pertempuran Wina tahun 1683. Katanya nih, para pembuat roti di Wina adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Saat tentara Ottoman mencoba menyusup ke dalam kota lewat terowongan bawah tanah di tengah malam, para tukang roti yang sudah bangun lebih awal untuk bekerja mendengar suara berisik dari bawah tanah. Mereka segera membunyikan alarm dan menggagalkan serangan itu.

Sebagai bentuk penghargaan, mereka membuat roti berbentuk bulan sabit—simbol dari bendera Ottoman—seolah-olah mereka sedang "memakan" musuh mereka. Kedengarannya heroik banget, kan? Meskipun banyak sejarawan yang skeptis sama cerita ini, legenda ini tetap jadi bumbu penyedap yang bikin sejarah croissant terasa lebih dramatis.



Marie Antoinette dan "Ekspor" Budaya Makan

Nah, gerbang masuknya croissant ke Prancis sering dikaitkan dengan sosok ikonik Marie Antoinette. Putri dari Austria ini menikah dengan Raja Louis XVI dan harus pindah ke Prancis. Namanya juga anak rantau, Marie sering merasa kangen rumah alias homesick. Salah satu hal yang paling dia kangenin adalah Kipferl dari tanah kelahirannya.

Singkat cerita, dia meminta koki istana untuk membuatkan roti favoritnya itu. Karena selera ratu adalah segalanya, roti tersebut akhirnya mulai populer di kalangan bangsawan Prancis. Dari lingkungan istana yang kaku, tren makan roti bulan sabit ini perlahan menyebar ke masyarakat luas. Tapi tunggu dulu, saat itu namanya masih Kipferl, belum berubah jadi croissant yang kita kenal sekarang.

Sentuhan Ajaib August Zang

Transformasi croissant menjadi fenomena global sebenarnya baru benar-benar terjadi pada abad ke-19 berkat seorang pengusaha Austria bernama August Zang. Sekitar tahun 1838 atau 1839, Zang membuka toko roti bernama Boulangerie Viennoise di Paris. Dia memperkenalkan teknik pembuatan roti Wina yang lebih canggih ke masyarakat Prancis.

Toko Zang meledak! Orang Paris jatuh cinta sama tekstur roti yang ditawarkan. Di sinilah istilah "croissant" (yang berarti bulan sabit dalam bahasa Prancis) mulai dipatenkan secara resmi oleh lidah lokal. Namun, perlu dicatat bahwa croissant versi August Zang ini masih menggunakan adonan roti biasa (brioche), bukan adonan puff pastry yang berlapis-lapis.

Baru pada awal abad ke-20, para tukang roti Prancis melakukan inovasi gila-gilaan. Mereka mengganti adonan roti biasa dengan teknik pâte feuilletée alias teknik melipat adonan dengan mentega berulang-ulang sampai terbentuk lapisan-lapisan tipis yang disebut laminasi. Inilah titik balik di mana croissant resmi menjadi "Prancis banget". Kejeniusan orang Prancis dalam mengolah mentega inilah yang bikin croissant punya tekstur flaky yang kalau digigit remahannya berantakan ke mana-mana tapi bikin bahagia.



Evolusi Tanpa Batas: Dari Croffle sampai Cromboloni

Kalau kita melihat ke belakang, perjalanan croissant itu luar biasa panjang. Dari roti "perlawanan" di Wina, jadi camilan ratu yang galau, sampai jadi mahakarya kuliner di Paris. Tapi inovasi nggak berhenti di situ. Di zaman sekarang, croissant sudah mengalami modifikasi yang mungkin bikin para pembuat roti zaman dulu geleng-geleng kepala.

Beberapa tahun lalu kita sempat heboh sama Croffle (Croissant Waffle), perpaduan adonan croissant yang dipanggang di mesin waffle. Belum lagi tren Cromboloni yang viral di TikTok dan bikin orang rela antre berjam-jam cuma buat ngerasain sensasi croissant berbentuk bulat dengan isian krim melimpah. Belum lagi variasi gurih seperti croissant isi telur asin, rendang, sampai ayam geprek.

Opini jujur saya, meskipun banyak purist kuliner yang menganggap inovasi ini "merusak" pakem, sebenarnya inilah yang bikin croissant tetap hidup. Dia bukan cuma fosil sejarah yang ada di buku, tapi kuliner yang terus bernapas mengikuti zaman. Croissant membuktikan bahwa sesuatu yang klasik pun bisa tetap relevan kalau mau beradaptasi.

Jadi, lain kali kalau kamu lagi asyik menyobek lapisan croissant di kafe favoritmu, ingatlah kalau di balik kerenyahan itu ada sejarah ribuan kilometer dan ratusan tahun yang dilewati. Dari terowongan bawah tanah di Wina sampai ke piring cantikmu hari ini. Croissant bukan sekadar roti, dia adalah bukti kalau kolaborasi antarbudaya bisa menghasilkan sesuatu yang sangat lezat. Selamat ngopi dan jangan lupa lap remahannya!