Studi Ungkap Menikah di Usia 28–32 Tahun Berisiko Lebih Rendah Mengalami Perceraian
Laila - Wednesday, 10 June 2026 | 10:53 AM


Studi Ungkap Menikah di Usia 28–32 Tahun Berisiko Lebih Rendah Mengalami Perceraian
Banyak orang meyakini bahwa tidak ada usia yang benar-benar ideal untuk menikah. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa usia saat seseorang menikah dapat memengaruhi tingkat keberlangsungan rumah tangga. Salah satu temuan yang cukup menarik datang dari penelitian yang menyebutkan bahwa pasangan yang menikah pada rentang usia 28 hingga 32 tahun memiliki risiko perceraian yang lebih rendah dibanding kelompok usia lainnya.
Penelitian yang dilakukan oleh sosiolog Nicholas H. Wolfinger dari University of Utah menganalisis data ribuan pasangan di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa risiko perceraian cenderung menurun seiring bertambahnya usia hingga mencapai titik terendah pada rentang usia 28–32 tahun. Setelah melewati usia tersebut, risiko perceraian kembali mengalami peningkatan secara bertahap.
Para peneliti menyebut rentang usia tersebut sebagai "Goldilocks Zone" atau usia yang dianggap paling ideal untuk memasuki jenjang pernikahan. Pada usia akhir 20-an hingga awal 30-an, seseorang umumnya telah memiliki tingkat kematangan emosional yang lebih baik, kestabilan finansial yang lebih kuat, serta pemahaman yang lebih jelas mengenai tujuan hidup dan pasangan yang diinginkan.
Sebaliknya, pasangan yang menikah terlalu muda sering kali masih berada dalam fase pencarian jati diri, pengembangan karier, maupun proses pendewasaan emosional. Kondisi ini dapat meningkatkan potensi konflik dalam rumah tangga ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa usia bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan sebuah pernikahan. Kesiapan mental, kemampuan berkomunikasi, komitmen, serta kesamaan visi antara pasangan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan langgeng. Bahkan, seseorang yang menikah di luar rentang usia tersebut tetap memiliki peluang besar untuk menjalani pernikahan yang bahagia apabila memiliki kesiapan yang matang.
Pada akhirnya, penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi mereka yang sedang merencanakan pernikahan. Namun, yang terpenting bukanlah mengejar angka usia tertentu, melainkan memastikan bahwa kedua pasangan telah siap secara emosional, finansial, dan psikologis untuk menjalani kehidupan bersama dalam jangka panjang.
Next News

Rasa Diterima Ternyata Tidak Datang Begitu Saja, Ini Cara Membangunnya
5 hours ago

Bahaya Konsumsi Gula Berlebihan: Manis di Lidah, Risiko bagi Kesehatan
in 6 hours

8 Janji Allah dalam Al-Qur'an yang Menenangkan Hati Saat Menghadapi Ujian Hidup
in 6 hours

Mengenal Angin Duduk: Kondisi Serius yang Kerap Disalahartikan sebagai Masuk Angin
6 hours ago

Benarkah Otak Lebih Aktif Saat Tidur? Ini Penjelasan Ilmiahnya
in 4 hours

Korek Api Ternyata Ditemukan Secara Tak Sengaja, Berawal dari Kesalahan Seorang Apoteker
in 4 hours

Sejarah Tahu di Indonesia, Berawal dari Tiongkok hingga Melahirkan Tahu Sumedang yang Legendaris
in 4 hours

Benarkah Asam Jawa Bisa Mengikat Mikroplastik? Ini Penjelasan Ilmiahnya
in 4 hours

Shanay-Timpishka, Sungai Hampir Mendidih di Hutan Amazon yang Bukan Berasal dari Gunung Berapi
in 4 hours

Benarkah Tidur 5 Jam Sudah Cukup? Ini Fakta yang Perlu Diketahui
in 4 hours





