Minggu, 22 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Seni Menggunakan Micin dengan Bijak pada Masakan

Liaa - Sunday, 22 February 2026 | 10:15 PM

Background
Seni Menggunakan Micin dengan Bijak pada Masakan

Dilema Micin: Antara Nikmat yang Nagih dan Kerongkongan yang Seret Pol-polan

Pernah nggak sih kamu lagi asyik-asyiknya makan bakso di pinggir jalan, terus pas suapan pertama, rasanya meledak banget di lidah? Gurihnya itu lho, kayak ada kembang api yang pecah di dalam mulut. Tapi selang sepuluh menit setelah mangkok kosong, tiba-tiba leher rasanya kayak baru saja digosok pakai amplas. Kering, haus yang nggak hilang-hilang meski sudah minum es teh manis dua gelas, sampai ada sensasi "ngambang" di kepala. Nah, selamat, kamu baru saja menjadi korban dari kemurahan hati si abang penjual yang menuangkan micin dengan semangat 45.

Di Indonesia, micin atau MSG (Monosodium Glutamat) sudah jadi semacam "nyawa" dalam masakan. Mau itu seblak, nasi goreng, sampai sayur lodeh buatan rumah, rasanya kayak ada yang kurang kalau kristal-kristal putih itu nggak ikutan nyemplung ke kuali. Kita bahkan punya istilah "Generasi Micin" untuk menggambarkan anak muda yang kelakuannya agak nyeleneh atau sulit konsentrasi. Tapi, masalahnya bukan pada micinnya itu sendiri, melainkan pada kebiasaan "tumpah" yang sering terjadi di dapur kita.

Sebenarnya, kalau kita mau jujur-juran, micin itu penyelamat bagi mereka yang nggak jago masak. Kamu nggak perlu pusing-pusing mikirin perbandingan kaldu tulang sapi yang direbus delapan jam atau teknik fermentasi yang rumit. Cukup sejumput micin, air tawar pun bisa berubah jadi kuah kaldu yang bikin merem-melek. Namun, di balik kemudahan itu, ada fenomena "over-micin" yang seringkali malah merusak esensi makanan itu sendiri.

Kenapa Sih Tangan Kita Suka Kelepasan?

Ada semacam teori nggak tertulis di kalangan pedagang makanan kaki lima: kalau masakan kurang enak, tambahin aja micinnya. Ini adalah jalan pintas menuju kepuasan pelanggan yang instan. Masalahnya, reseptor rasa di lidah kita itu punya batas toleransi. Kalau terus-menerus digempur rasa gurih yang ekstrem, lidah kita jadi "kebas". Akibatnya, masakan yang sebenarnya punya bumbu rempah yang kaya malah jadi terasa flat, karena yang menonjol cuma rasa gurih sintetis yang tajam banget.

Fenomena ini sering saya temukan di kedai-kedai yang menjual makanan kekinian. Mereka kadang lupa kalau bumbu itu soal keseimbangan (balance). Ada rasa manis, asin, asam, pedas, dan gurih (umami). Tapi sekarang, banyak yang cuma fokus di pedas yang levelnya nggak masuk akal dan gurih yang bikin lidah bergetar. Efeknya? Ya itu tadi, tenggorokan terasa kering atau istilah anak sekarang "seret". Ini adalah alarm dari tubuh kalau kadar natrium dalam sistem kita lagi melonjak drastis.



Kadang saya mikir, apakah kita sudah kehilangan kemampuan untuk menikmati rasa asli dari bahan makanan? Ikan yang segar sebenarnya sudah punya rasa manis alami. Sayur mayur yang dipetik langsung juga punya karakter rasa sendiri. Tapi karena sudah terbiasa dengan "bom" rasa dari micin, lidah kita jadi malas. Kita jadi kayak pecandu yang butuh dosis lebih tinggi setiap harinya supaya makanan terasa "ada rasanya".

Mitos Micin Bikin Bodoh vs Kenyataan Medis

Mari kita luruskan satu hal: micin itu nggak bikin kamu mendadak jadi nggak pintar. Itu cuma mitos yang sudah mendarah daging sejak zaman dulu, mungkin supaya anak-anak nggak jajan sembarangan. Secara ilmiah, MSG aman dikonsumsi asal dalam batas wajar. Badan kesehatan dunia pun sudah memberikan lampu hijau. Yang jadi masalah adalah "over consumption".

Terlalu banyak micin biasanya berbanding lurus dengan terlalu banyak konsumsi garam. Efeknya bukan cuma haus, tapi bisa bikin tekanan darah naik kalau dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang. Belum lagi buat mereka yang sensitif, ada yang namanya "Chinese Restaurant Syndrome"—meski istilah ini sekarang dianggap agak rasis—yang gejalanya meliputi pusing, berkeringat, sampai sesak napas ringan setelah makan makanan dengan kadar MSG yang ugal-ugalan.

Saya pribadi punya pengalaman makan di sebuah warteg yang kelihatannya bersih dan menjanjikan. Tapi setelah makan, rasanya otak saya kayak "nge-hang" sebentar. Hausnya bukan main, sampai-sampai air putih satu galon rasanya nggak cukup. Di situlah saya sadar kalau si ibu warteg mungkin baru saja memenangkan lotre micin dan merayakannya dengan menuangkan separuh bungkus ke dalam sayur nangkanya.

Seni Menggunakan Micin dengan Bijak

Bukan berarti kita harus anti-micin dan jadi penganut hidup sehat yang membosankan. Nggak gitu konsepnya. Micin itu alat, bukan tujuan utama. Gunakan secukupnya untuk memperkuat (enhance) rasa, bukan untuk mendominasi. Analoginya kayak pakai parfum; kalau pakainya pas, orang bakal nyaman di dekat kita. Tapi kalau pakainya satu botol disemprot semua, orang malah pusing dan mau muntah.



Tips buat kamu yang suka masak di rumah: coba deh kurangi jatah micin setengah dari biasanya, lalu ganti dengan teknik lain. Misalnya, pakai bawang putih yang lebih banyak, atau pakai sedikit terasi yang sudah dibakar. Rasa gurihnya bakal lebih "deep" dan nggak meninggalkan rasa lengket yang aneh di langit-langit mulut. Kalau pun harus pakai penyedap rasa, sekarang sudah banyak pilihan kaldu jamur atau kaldu ayam non-MSG yang rasanya lebih "clean" di lidah.

Pada akhirnya, kuliner itu soal kenyamanan. Kita makan bukan cuma buat kenyang, tapi buat bahagia. Dan kebahagiaan itu nggak harus didapat dari rasa gurih yang memaksa. Sesekali, cobalah untuk detoks lidah. Rasakan bagaimana manisnya nasi putih yang dikunyah lama-lama, atau segarnya tomat dalam sambal tanpa tambahan kristal putih itu. Kamu bakal kaget betapa kayanya rasa yang selama ini tertutup oleh dominasi micin.

Jadi, buat kalian para pejuang kuliner dan hobi jajan, nggak apa-apa kok kalau mau tetap setia sama micin. Tapi ingat, kalau abang baksonya sudah mulai mengambil sendok besar buat nuang micin, jangan ragu buat bilang, "Micinnya dikit aja ya, Bang, biar nggak makin bingung ngerjain revisi skripsi." Karena hidup sudah cukup pusing, jangan ditambah lagi dengan kepala keliyengan gara-gara kebanyakan micin.

Tags