Seni Makan Kerang
Liaa - Sunday, 22 February 2026 | 05:00 PM


Seni Makan Kerang: Perjuangan Antara Jempol Kapalan dan Kenikmatan yang Hakiki
Pernahkah kalian duduk di sebuah warung tenda pinggir jalan, di bawah lampu kuning yang agak redup, lalu di depan kalian tersaji sebaskom kerang hijau yang uapnya masih mengepul? Kalau iya, selamat, kalian sedang memasuki salah satu ritual paling meditatif sekaligus paling brutal dalam khazanah kuliner Indonesia. Makan kerang itu bukan cuma soal mengenyangkan perut, tapi soal kesabaran, teknik tingkat tinggi, dan kerelaan untuk membiarkan tangan belepotan bumbu sampai ke sikut.
Jujur saja, makan kerang itu ribet. Kalau kalian sedang dalam agenda kencan pertama dan ingin terlihat elegan bak pangeran atau putri dari negeri dongeng, pesanlah steak atau pasta. Jangan sekali-kali pesan kerang dara rebus atau kerang bambu saus padang. Mengapa? Karena makan kerang menuntut kita untuk menanggalkan imej jaim. Tidak ada cara estetik untuk mencungkil daging kerang yang membandel di dalam cangkangnya selain dengan menggunakan kekuatan jempol dan koordinasi gigi yang mumpuni. Ini adalah olahraga jari yang sesungguhnya.
Spektrum Kerang: Dari yang Merakyat Sampai yang Eksentrik
Di Indonesia, kita punya kasta-kasta kerang yang masing-masing punya karakter unik. Mari kita bedah satu per satu. Pertama, ada si raja sejuta umat: Kerang Hijau. Bentuknya yang lebar dan warnanya yang ikonik sering kali memenuhi piring-piring di warung pecel lele atau seafood kaki lima. Harganya murah, porsinya biasanya brutal. Tapi hati-hati, kalau tidak pandai memilih warung, kalian bisa berakhir dengan kerang yang aromanya lebih mirip lumpur pelabuhan daripada aroma laut.
Lalu ada Kerang Dara. Ini adalah favorit para "pejuang keras". Kenapa? Karena cangkangnya sering kali tertutup rapat seolah memendam rahasia negara. Membukanya butuh perjuangan. Ada teknik khusus menggunakan kuku jempol, atau kalau sudah mentok, ya pakai sendok sebagai pengungkit. Tapi begitu terbuka, dagingnya yang kenyal dan gurih itu rasanya seperti sebuah reward atas keringat yang kita keluarkan. Rasanya? Ah, jangan ditanya. Apalagi kalau dicocol ke sambal nanas kacang yang asam manis pedas, dunia serasa milik berdua, yang lain cuma kontrak.
Jangan lupakan Kerang Bambu. Bentuknya panjang-panjang mirip pipa paralon versi mini. Tekstur dagingnya paling lembut di antara yang lain, hampir menyerupai daging cumi tapi lebih halus. Makan kerang bambu biasanya lebih "beradab" karena dagingnya gampang ditarik keluar. Tapi tetap saja, esensinya ada pada bumbunya yang meresap ke dalam lubang-lubang cangkangnya.
Bumbu Adalah Kunci, Tapi Kebersihan Adalah Koentji
Sebenarnya, kerang itu sendiri rasanya cukup netral. Yang membuatnya menjadi bintang adalah sausnya. Ada tim Saus Padang yang sukanya pedas nendang sampai telinga berdengung. Ada tim Saus Tiram yang lebih kalem dan gurih. Atau tim Kerang Rebus Original yang hanya mengandalkan air rebusan jahe dan serai untuk menghilangkan bau amis. Tim terakhir ini biasanya adalah para purist yang ingin merasakan rasa asli "laut" di lidah mereka.
Namun, ada satu hal yang sering jadi perdebatan: masalah kebersihan. Kita semua tahu kalau kerang adalah "penyaring" air laut. Dia menyerap apa saja yang ada di sekitarnya. Makanya, kalau makan kerang, kita harus punya insting detektif. Pastikan kerangnya bersih, tidak ada pasir yang nyelip di antara dagingnya (karena menggigit pasir itu rasanya lebih sakit daripada diputusin pas lagi sayang-sayangnya), dan pastikan sudah matang sempurna. Kerang yang kurang matang itu risikonya cuma dua: enak banget atau berakhir di IGD karena keracunan. High risk, high reward, kan?
Filosofi di Balik Tumpukan Cangkang
Ada sebuah kepuasan psikologis saat kita melihat tumpukan cangkang yang meninggi di atas meja setelah selesai makan. Itu adalah monumen kemenangan. Semakin tinggi tumpukannya, semakin besar perjuangan yang telah kita lalui. Makan kerang secara kolektif bersama teman-teman juga bisa menjadi ajang "social bonding" yang luar biasa. Sambil tangan sibuk mengupas, mulut sibuk bergosip atau membicarakan cicilan yang tidak kunjung lunas.
Anehnya, meskipun tangan sudah bau amis yang susah hilang meski sudah dicuci pakai sabun cuci piring plus jeruk nipis tiga biji, kita tidak pernah kapok. Besok lusa, kalau lewat warung seafood lagi dan mencium aroma tumisan bawang putih dan saus tiram, iman kita goyah lagi. Kaki otomatis melipir, dan mulut otomatis memesan, "Bang, kerang daranya satu porsi, saus padang ya!"
Makan kerang mengajarkan kita tentang satu hal penting dalam hidup: hal-hal yang bagus dan enak itu tidak selalu datang dengan mudah. Kadang kita harus "berdarah-darah" dulu membuka cangkang yang keras untuk mendapatkan daging yang kecil. Tapi justru di situlah letak seninya. Hidup ini seperti makan kerang, kadang isinya kosong (kerang zonk), kadang isinya berpasir, tapi kalau kita sabar, kita akan menemukan potongan daging yang paling manis di bagian dasar piring.
Jadi, kapan terakhir kali kamu memanjakan jempolmu dengan kerasnya cangkang kerang? Jangan terlalu fokus pada kolesterol, sesekali merayakan hidup dengan seporsi kerang hangat di pinggir jalan adalah bentuk self-reward yang paling jujur. Ingat, sedia tisu yang banyak dan jangan pakai baju putih kalau tidak mau kena "seni lukis" cipratan saus padang yang abadi.
Next News

Kupu-Kupu, Si Cantik yang Hidupnya Ternyata Hardcore Banget
2 hours ago

Kenapa Suara Hujan Bikin Kita Nagih?
2 hours ago

Seni Menggunakan Micin dengan Bijak pada Masakan
2 hours ago

Tanda-Tanda Penuaan Dini yang Sering Tidak Disadari
14 hours ago

Tekanan Darah Naik Saat Emosi, Apakah Berbahaya?
14 hours ago

Internet Super Cepat 5G,Apakah Indonesia Sudah Siap?
15 hours ago

Anak Kidal , Benarkah Lebih Kreatif dan Jenius?
15 hours ago

Pekerjaan yang Berpotensi Tergantikan AI di Masa Depan, Apa Saja Itu?
15 hours ago

Benarkah Musik Bisa Membuat Anak Menjadi Cerdas?
15 hours ago

Pear: Si Buah "Pasir" yang Sering Dianaktirikan Padahal Manfaatnya Gila-gilaan
8 hours ago





