Selasa, 10 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Sejarah Tempe: Dari Dapur Tradisional Nusantara hingga Mendunia sebagai Superfood

Nanda - Monday, 09 February 2026 | 04:53 AM

Background
Sejarah Tempe: Dari Dapur Tradisional Nusantara hingga Mendunia sebagai Superfood

Awal Mula Tempe di Nusantara

Tempe diyakini berasal dari Pulau Jawa dan telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa tempe sudah dikonsumsi masyarakat Jawa sejak abad ke-16, bahkan tercatat dalam naskah kuno dan serat sastra Jawa.

Berbeda dengan tahu yang berasal dari Tiongkok, tempe berkembang sebagai produk fermentasi lokal yang lahir dari kebiasaan masyarakat memanfaatkan kedelai secara kreatif. Proses fermentasi ini menjadikan tempe bukan hanya tahan lebih lama, tetapi juga lebih mudah dicerna.

Peran Fermentasi dalam Lahirnya Tempe

Kunci keunikan tempe terletak pada proses fermentasinya. Kedelai yang telah direbus difermentasi menggunakan kapang Rhizopus, yang kemudian membentuk tekstur padat berwarna putih.

Fermentasi ini:

  • Mengubah struktur protein kedelai
  • Meningkatkan daya cerna
  • Membentuk cita rasa khas

Inilah yang membuat tempe berbeda dari olahan kedelai lainnya.

Tempe dan Budaya Makan Masyarakat Indonesia

Selama berabad-abad, tempe menjadi bagian penting dari pola makan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Tempe dikenal sebagai makanan rakyat karena:

  • Mudah dibuat
  • Bahan bakunya terjangkau
  • Bergizi tinggi

Tempe diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari tempe goreng, bacem, orek, hingga campuran sayur tradisional.

Proses Pembuatan Tempe Secara Tradisional

Pembuatan tempe pada dasarnya melalui beberapa tahap utama:

  1. Pemilihan dan Perendaman Kedelai
  2. Kedelai direndam untuk melunakkan biji dan memudahkan pengupasan kulit.
  3. Perebusan
  4. Kedelai direbus untuk menonaktifkan mikroba liar dan menyiapkan kondisi ideal bagi fermentasi.
  5. Pendinginan dan Penambahan Ragi
  6. Setelah dingin, kedelai dicampur ragi tempe yang mengandung kapang fermentasi.
  7. Fermentasi
  8. Kedelai dibungkus dan disimpan pada suhu tertentu selama 24-48 jam hingga terbentuk tempe padat.

Proses ini mencerminkan pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Popularitas tempe mulai meluas ke dunia internasional pada abad ke-20, terutama melalui:

  • Penelitian ilmiah tentang nilai gizinya
  • Diaspora Indonesia
  • Tren makanan sehat dan berbasis nabati

Di berbagai negara, tempe dikenal sebagai sumber protein nabati berkualitas tinggi dan menjadi alternatif daging bagi vegetarian dan vegan.

Berbagai penelitian menyebut tempe kaya akan:

  • Protein
  • Serat
  • Vitamin B
  • Senyawa hasil fermentasi yang baik untuk pencernaan

Keunggulan ini membuat tempe kerap masuk dalam daftar makanan sehat dunia dan diolah dalam berbagai masakan modern internasional.

Dalam beberapa dekade terakhir, tempe semakin mendapat pengakuan sebagai warisan kuliner Indonesia. Banyak restoran internasional dan produsen pangan global mengadaptasi tempe dalam menu mereka, menjadikan tempe simbol keberhasilan pangan tradisional Nusantara di kancah global. Tempe adalah bukti bahwa kearifan lokal Indonesia mampu melahirkan pangan bernilai tinggi dan mendunia. Dari dapur tradisional Jawa hingga meja makan internasional, tempe terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Lebih dari sekadar makanan, tempe adalah bagian dari sejarah, budaya, dan identitas bangsa.