Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya? Pakar Ungkap Ancaman bagi Pernapasan
RAU - Sunday, 06 September 2026 | 06:55 PM


Abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung ternyata memiliki risiko kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele. Material tersebut bukan seperti debu biasa karena tersusun dari partikel sangat halus yang berasal dari pecahan batuan dan material vulkanik.
Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menjelaskan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9) memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu pada umumnya.
Partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil, bahkan kurang dari 2 milimeter. Material tersebut dapat berupa pecahan kaca silika dan batuan yang berukuran mikroskopis sehingga berpotensi masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan.
Menurut Daryono, partikel yang sangat halus memungkinkan sebagian abu melewati mekanisme penyaringan alami pada hidung. Jika terhirup, material tersebut dapat mencapai bagian dalam saluran pernapasan, termasuk area paru-paru.
Risikonya tidak hanya berasal dari bentuk fisiknya. Secara kimiawi, abu vulkanik dapat membawa senyawa asam, termasuk asam sulfat dan asam klorida, serta berbagai mineral dan unsur logam.
Ketika material tersebut bersentuhan dengan jaringan tubuh yang lembap, kandungan kimianya dapat menimbulkan iritasi. Kondisi ini dapat memengaruhi saluran pernapasan, mata, maupun kulit.
Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan berbagai gangguan seperti batuk, iritasi mata, sesak napas, dan keluhan pada saluran pernapasan. Risiko tersebut dapat menjadi lebih berat pada orang yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma.
Sementara itu, paparan dalam jangka panjang juga perlu diwaspadai. Penumpukan partikel silika tertentu di paru-paru dapat berkontribusi terhadap terbentuknya jaringan parut dan berpotensi mengganggu fungsi paru-paru.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan membatasi kegiatan di luar ruangan ketika wilayahnya terdampak sebaran abu vulkanik.
Apabila harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan perlindungan yang sesuai, seperti masker dengan kemampuan filtrasi tinggi serta kacamata pelindung. Masker kain biasa memiliki kemampuan perlindungan yang lebih terbatas terhadap partikel abu yang sangat halus.
Selain melindungi pernapasan, sumber makanan dan air juga perlu dijaga agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.
Masyarakat juga diminta mengikuti informasi dan rekomendasi mitigasi dari pihak berwenang serta tidak mendekati wilayah berbahaya di sekitar kompleks Gunung Anak Krakatau.
Next News

9 Makanan Bergizi yang Mendukung Tumbuh Kembang Anak,
in 6 hours

Jarang Sarapan Bisa Berdampak pada Kesehatan, Ini 5 Masalah yang Perlu Diwaspadai
in 6 hours

4 Mitos Makanan yang Sering Disebut Bikin Jerawatan, Cokelat hingga Gluten
in 6 hours

5 Daun Herbal yang Disebut Berpotensi Mendukung Kesehatan Pankreas, Ada Kelor hingga Kangkung
in 6 hours

5 Makanan Kaya Vitamin D yang Baik untuk Tulang dan Sistem Imun
in 6 hours

Tak Harus Olahraga, 5 Aktivitas di Rumah Ini Ternyata Bisa Bakar Kalori
in 6 hours

5 Makanan yang Bisa Mendukung Kualitas Sel Telur dan Kesuburan Wanita
in 6 hours

11 Makanan dan Minuman yang Bisa Memicu Asam Lambung Naik, Ada Kopi hingga Sambal
in 6 hours

Gigit Kuku Jadi Kebiasaan Anak? Orang Tua Perlu Perhatikan Hal Ini
in 6 hours

Benarkah Kucing Indonesia Rata-rata Hanya Hidup 6 Tahun? Ini Penyebabnya
6 hours ago





