LEPPAMI HMI dan Komunitas Alam Gelar Go Green di Bukit Palopat, Soroti Ancaman Banjir dan Longsor


Padangsidimpuan - Merespons meningkatnya ancaman bencana ekologis berupa banjir dan tanah longsor di wilayah Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan, Lembaga Pariwisata dan Pecinta Alam Mahasiswa Islam (LEPPAMI) HMI Cabang Padangsidimpuan-Tapanuli Selatan bersama sejumlah komunitas pencinta alam menggelar kegiatan Go Green dan Camp Konservasi di Bukit Palopat, Sabtu hingga Minggu (20-21 Desember 2025).
Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian nyata terhadap kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan, sekaligus upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, khususnya di kawasan perbukitan yang rentan mengalami degradasi.
Dalam kegiatan ini, peserta melaksanakan berbagai agenda, mulai dari penanaman pohon, edukasi lingkungan hidup, diskusi bertema ekologi, hingga kemah konservasi. Seluruh rangkaian kegiatan difokuskan pada upaya pemulihan lingkungan dan penguatan peran pemuda dalam menjaga kelestarian alam.
Perwakilan LEPPAMI HMI menilai, bencana banjir dan longsor yang kerap terjadi tidak dapat dilepaskan dari kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta menurunnya daya dukung alam. Karena itu, gerakan Go Green ini diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda.
"Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah bentuk komitmen moral kami untuk terus mengawal isu-isu lingkungan dan mendorong aksi nyata pelestarian alam," ujar Rahmad Kurnia, Direktur Administrasi LEPPAMI HMI Cabang Padangsidimpuan-Tapanuli Selatan.
Melalui kegiatan tersebut, LEPPAMI HMI bersama komunitas pencinta alam juga mendorong pemerintah daerah agar lebih serius merumuskan kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Upaya tersebut dinilai penting guna meminimalkan risiko bencana ekologis di masa mendatang.
Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata, LEPPAMI HMI menegaskan bahwa persoalan banjir dan longsor tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Diperlukan kolaborasi yang konkret antara masyarakat, komunitas lingkungan, organisasi kepemudaan, serta pemerintah daerah, termasuk seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, agar upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak nyata.
LEPPAMI HMI juga menyoroti praktik pembalakan hutan liar dan aktivitas ilegal logging yang masih terjadi di sejumlah wilayah hulu dan kawasan perbukitan sebagai salah satu akar persoalan kerusakan lingkungan. Untuk itu, pemerintah daerah didorong agar bertindak tegas melalui penegakan hukum, peningkatan pengawasan lapangan, serta pemberian sanksi yang jelas terhadap para pelaku perusakan lingkungan.
Selain penindakan, pemerintah dinilai perlu segera menyusun dan memperkuat regulasi pelestarian lingkungan yang berpihak pada keberlanjutan alam dan keselamatan masyarakat. Regulasi tersebut harus dibarengi dengan edukasi publik yang berkelanjutan agar kesadaran lingkungan tumbuh secara kolektif di seluruh lapisan masyarakat.
Next News

BNPB: Korban Tewas Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar Capai 1.200 Jiwa
a month ago

Bupati Masinton Pastikan Normalisasi Sungai Aek Harse Berjalan, 12 Alat Berat Dikerahkan
a month ago

BMKG: Cuaca Indonesia Masih Didominasi Hujan dengan Intensitas Beragam
a month ago

Pusdalops Sumut Catat 121 Warga Luka dan 41 Orang Hilang Akibat Bencana Alam
a month ago

Harga Cabai Merah di Sumut Terus Turun, Humbahas Sentuh Rp18 Ribu per Kilogram
a month ago

Pemerintah Terapkan Sistem Padat Karya untuk Pulihkan Sawah Terdampak Bencana di Sumatera
a month ago

BMKG Peringatkan Mayoritas Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Disertai Petir
a month ago

TNI AD Kerahkan Puluhan Alat Berat Percepat Pemulihan Pascabencana di Tapanuli Tengah
a month ago

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah Indonesia Berawan Hari Ini
a month ago

Bobby Nasution Percepat Rehabilitasi Pascabencana di Sumut Jelang Ramadan
a month ago





