Kamis, 26 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Healing Tak Harus ke Bali: Cara Menemukan Ketenangan Tanpa Menguras Dompet

Tata - Thursday, 26 February 2026 | 08:25 AM

Background
Healing Tak Harus ke Bali: Cara Menemukan Ketenangan Tanpa Menguras Dompet

Healing Gak Harus ke Bali: Seni Menemukan Ketenangan Tanpa Bikin Saldo Menangis

Belakangan ini, kata "healing" rasanya sudah bergeser makna. Kalau kita buka Instagram atau TikTok, istilah ini identik dengan pemandangan pantai di Canggu, staycation di villa mewah yang harganya bikin cicilan motor megap-megap, atau minimal ngopi cantik di kafe estetik yang harga satu gelas lattenya setara dengan jatah makan siang tiga hari. Seolah-olah, kalau belum posting foto dengan latar belakang sunset atau gunung, proses pemulihan batin kita belum dianggap sah oleh algoritma semesta.

Tapi coba deh kita jujur pada diri sendiri. Apakah benar setelah pulang dari liburan mahal itu jiwa kita langsung tenang secerah langit musim panas? Atau malah kita makin stres karena pas balik ke rumah, tagihan kartu kredit sudah melambai-lambai minta perhatian? Inilah jebakan Batman dari tren gaya hidup masa kini. Kita seringkali menganggap bahwa ketenangan jiwa bisa dibeli dengan tiket pesawat, padahal yang kita butuhkan sebenarnya hanyalah jeda sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas.

Mitos Healing dan Tekanan Media Sosial

Fenomena ini sering kali didorong oleh rasa FOMO atau Fear of Missing Out. Kita melihat teman kantor baru saja pulang dari Labuan Bajo dan terlihat sangat bahagia di fotonya. Lantas, otak kita secara otomatis memproses pesan: "Oh, saya juga butuh ke sana biar stres kerjaan ini hilang." Padahal, yang kita lihat hanyalah 15 detik dari realita mereka. Kita gak tahu kalau di balik foto estetik itu, mereka mungkin berantem sama pasangan soal jadwal atau malah tetap buka email kerjaan di pinggir pantai.

Healing yang sebenarnya itu urusan internal, bukan eksternal. Liburan mahal seringkali hanyalah "distraksi" sementara. Begitu mendarat lagi di bandara asal, masalah yang kemarin kita tinggalkan masih ada di sana, menunggu dengan sabar untuk diterkam kembali. Kalau kita cuma melarikan diri tanpa memperbaiki cara kita mengelola stres, maka mau sejauh apapun kita terbang, perasaan hampa itu bakal tetap ikut di dalam koper.

Healing Tipis-Tipis yang Lebih Manusiawi

Lantas, gimana caranya healing tanpa bikin kantong jebol? Jawabannya ada pada hal-hal kecil yang sering kita sepelekan. Bayangin, kapan terakhir kali kamu duduk diam di teras rumah sore-sore tanpa memegang ponsel? Cuma duduk, dengerin suara burung atau suara tukang bakso lewat, sambil nyeruput teh anget. Terdengar membosankan? Mungkin. Tapi di situlah letak kekuatannya. Memberi ruang bagi pikiran untuk berkelana tanpa harus diarahkan oleh notifikasi WhatsApp adalah bentuk kemewahan yang paling murni saat ini.



Jalan kaki pagi juga bisa jadi opsi. Gak perlu ke car free day yang penuh sesak kalau kamu malah makin stres liat kerumunan. Cukup keliling kompleks atau taman kota terdekat. Gerakan fisik ringan dikombinasikan dengan udara pagi yang belum terlalu polusi itu terbukti secara ilmiah bisa menurunkan level kortisol alias hormon stres kita. Murah, meriah, dan gak perlu sewa fotografer pribadi buat bikin konten.

Kekuatan "Ngalamun" dan Membaca Buku

Ada satu kegiatan yang menurut saya sangat underrated di zaman yang serba cepat ini: ngalamun. Iya, beneran ngalamun. Orang zaman sekarang kayaknya takut banget kalau gak produktif walau cuma lima menit. Padahal, memberikan otak waktu untuk "idle" atau diam itu penting banget buat proses kreativitas dan kesehatan mental. Healing bisa sesederhana mematikan lampu kamar, dengerin playlist lo-fi, dan membiarkan imajinasi liar kita bekerja.

Atau kalau kamu tipe yang suka cerita, membaca buku fisik (bukan scrolling artikel pendek di HP ya!) bisa jadi pelarian yang sehat. Saat kita baca buku, fokus kita terarah pada satu hal secara mendalam. Ini semacam meditasi tanpa kita sadari. Kita masuk ke dunia lain tanpa perlu beli tiket pesawat. Sensasi bau kertas dan suara lembaran yang dibalik itu punya efek menenangkan yang gak bisa digantikan oleh layar gadget secanggih apa pun.

Social Detox: Healing Paling Ampuh dan Gratis

Kalau ditanya apa sumber stres paling besar anak muda zaman sekarang, jawabannya pasti gak jauh-jauh dari layar smartphone. Kita terus-menerus membandingkan hidup kita yang berantakan dengan hidup orang lain yang (kelihatannya) sempurna. Jadi, salah satu bentuk healing paling radikal tapi paling manjur adalah melakukan social media detox. Coba deh hapus aplikasi media sosial selama akhir pekan saja.

Awalnya mungkin bakal terasa aneh, jari-jari kita secara otomatis bakal nyari-nyari ikon Instagram. Tapi setelah beberapa jam, kamu bakal ngerasa lebih "hadir" di dunia nyata. Kamu bakal lebih menikmati rasa makananmu, lebih fokus ngobrol sama orang di depanmu, dan gak perlu pusing mikirin sudut pengambilan foto yang pas buat diunggah. Inilah esensi healing: kembali terhubung dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar secara jujur.



Kesimpulan: Ketenangan Itu Gak Ada Harganya

Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa healing itu bukan soal seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa dalam kita mengenali kebutuhan diri. Kalau kamu memang punya budget lebih dan ingin jalan-jalan, silakan. Itu bagus. Tapi jangan jadikan liburan mahal sebagai syarat mutlak untuk bisa merasa tenang. Jangan sampai niatnya mau menyembuhkan diri, eh malah jadi sakit kepala gara-gara saldo ATM jadi kritis.

Coba cari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di sekitarmu. Masak makanan kesukaan, berkebun, main sama kucing, atau sekadar tidur siang yang berkualitas tanpa gangguan alarm. Hal-hal ini mungkin gak terlihat keren kalau dijadiin konten, tapi dampaknya buat kesehatan mental jauh lebih nyata dan bertahan lama. Jadi, sudah siap healing murah meriah hari ini? Yuk, matikan dulu HP-nya dan ambil napas panjang. Kamu pantas mendapatkan ketenangan itu, gratis, tanpa syarat.