Kamis, 5 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Hobi Jajan Pinggir Jalan? Ini Risiko Kesehatan yang Sering Tak Disadari

Tata - Thursday, 05 March 2026 | 08:20 PM

Background
Hobi Jajan Pinggir Jalan? Ini Risiko Kesehatan yang Sering Tak Disadari

Jajan Sembarangan: Antara Kenikmatan Hakiki dan Risiko Bolak-balik Kamar Mandi

Siapa sih di antara kita yang nggak punya memori indah bareng abang-abang cilok di depan gerbang sekolah atau aroma gorengan yang manggil-manggil pas kita lagi neduh kehujanan? Jujur aja, jajan itu sudah jadi bagian dari DNA kita sebagai orang Indonesia. Mau statusnya masih mahasiswa akhir yang isi dompetnya kritis, atau karyawan kantoran yang baru gajian, godaan buat "nyemil lucu" di pinggir jalan itu susah banget ditampik. Istilahnya, godaan mantan mah lewat kalau dibandingin sama aroma bumbu kacang atau wangi micin yang semerbak ditiup angin sore.

Tapi ya gitu, di balik kenikmatan hakiki seporsi batagor seharga lima ribu perak atau segelas es sirup warna-warni yang segernya minta ampun, ada sebuah realita pahit yang sering kita tutup mata: risiko kesehatan. Kita seringkali pakai prinsip "ah, perut gue kan perut karet" atau "kuman juga takut sama sambel." Padahal, urusan perut nggak sesederhana itu, kawan. Jajan sembarangan itu ibarat main Russian Roulette; kadang kamu selamat dan kenyang, tapi kadang kamu harus pasrah naruh kasur di depan pintu toilet karena diare yang nggak berkesudahan.

Seni Memilih Jajanan: Antara Higienis dan "Halah, yang Penting Enak"

Mari kita bicara jujur. Kita semua tahu kalau standar kebersihan beberapa lapak jajanan itu seringkali berada di zona abu-abu. Coba perhatikan baik-baik. Ada abang penjual yang tangannya lincah banget masukin plastik ke kantong, megang uang kembalian yang kotornya minta ampun, terus sejurus kemudian langsung ngeracik bumbu pakai tangan yang sama. Belum lagi lalat-lalat yang ikut reuni di atas nampan makanan, atau debu knalpot motor yang nempel manis di atas gorengan terbuka. Estetik sih buat difoto pakai filter vintage, tapi buat usus kita? Itu mah bencana.

Masalahnya bukan cuma soal debu atau lalat. Ancaman yang lebih nyata seringkali nggak kasat mata. Bahan tambahan pangan alias BTP yang nggak sesuai aturan itu lho yang ngeri. Pernah nggak kamu beli kerupuk atau minuman yang warnanya terang banget sampai-sampai kalau lampunya mati mungkin dia bisa nyala sendiri? Nah, warna-warni mencolok itu seringkali datang dari pewarna tekstil, bukan pewarna makanan. Belum lagi urusan pengawet macam formalin atau boraks supaya makanan nggak gampang basi meski udah dipajang seharian di bawah terik matahari Jakarta yang panasnya kayak simulasi neraka.

Dampak Jangka Pendek: Drama Kamar Mandi dan Teman-temannya

Dampak jajan sembarangan yang paling sering kita rasakan itu biasanya "instan". Baru sejam yang lalu makan bakso urat di pinggir jalan yang kuahnya berminyak banget, tiba-tiba perut keroncongan tapi bukan karena laper. Ada rasa mulas yang luar biasa, keringat dingin mulai bercucuran, dan pandangan mata mulai nggak fokus nyari tulisan "Toilet". Inilah yang namanya diare atau disentri. Penyebabnya jelas: bakteri E. coli atau Salmonella yang ikut "numpang" di makanan yang proses pengolahannya nggak bersih.



Selain diare, ada juga risiko tipes. Penyakit ini sudah kayak langganan buat kaum muda yang hobi jajan sembarangan. Tipes atau demam tifoid itu disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Kalau udah kena, rasanya luar biasa nggak enak. Badan lemes, demam tinggi, dan nafsu makan hilang total. Ujung-ujungnya apa? Budget jajan yang harusnya buat nongkrong di kafe malah habis buat bayar dokter dan beli obat. Rugi bandar, kan?

  • Diare: Serangan fajar di toilet gara-gara bakteri nakal.
  • Tifus: Penyakit "elit" para pejuang jajan yang bikin harus bed rest berminggu-minggu.
  • Keracunan Makanan: Mual, muntah, dan pusing yang datang tiba-tiba setelah makan sesuatu yang basi atau terkontaminasi zat kimia.

Bahaya Laten di Balik "Micin" dan Minyak Hitam

Kalau tadi kita bahas yang instan, sekarang kita bahas yang efeknya baru terasa beberapa tahun ke depan. Pernah perhatikan nggak minyak goreng yang dipakai abang gorengan? Warnanya seringkali sudah hitam pekat mirip oli motor yang lupa diganti setahun. Minyak yang dipakai berulang-ulang sampai menghitam itu mengandung zat radikal bebas yang bersifat karsinogenik alias pemicu kanker. Mungkin sekarang kita merasa baik-baik saja, tapi tumpukan zat berbahaya itu ibarat bom waktu di dalam tubuh kita.

Lalu ada urusan penyedap rasa alias micin. Sebenarnya micin atau MSG itu aman-aman saja kalau dikonsumsi dalam batas wajar. Masalahnya, standar "wajar" abang jajan itu seringkali beda sama standar kesehatan. Satu porsi makanan bisa dikasih micin satu sendok penuh supaya rasanya "nendang". Dalam jangka panjang, konsumsi MSG berlebih ditambah asupan garam yang tinggi dari bumbu-bumbu instan bisa memicu hipertensi alias darah tinggi. Ingat, penyakit ini nggak cuma buat orang tua, sekarang banyak anak muda yang sudah kena tekanan darah tinggi gara-gara pola makan yang berantakan.

Gimana Caranya Tetap Bisa Jajan Tanpa Tumbang?

Terus, apakah kita nggak boleh jajan sama sekali? Ya nggak gitu juga, dong. Hidup bakal terasa hambar kalau kita cuma makan salad organik setiap hari. Kuncinya adalah menjadi "Smart Jajaner". Kita harus punya radar sendiri buat menilai mana tempat jajan yang minimal "layak" dan mana yang mending kita hindari jauh-jauh.

Pertama, lihat lingkungan sekitarnya. Kalau lapaknya ada di samping selokan terbuka yang baunya aduhai, mending cari tempat lain deh. Kedua, perhatikan cara penjualnya menyajikan makanan. Kalau dia pakai alat penjepit atau minimal pakai sarung tangan plastik saat pegang makanan, itu poin plus banget. Ketiga, jangan gampang tergiur sama harga yang terlalu murah dengan porsi yang terlalu banyak. Ada harga, ada rupa, dan ada kualitas bahan baku.



Selain itu, biasakan buat selalu bawa minum sendiri dari rumah. Banyak minuman pinggir jalan yang airnya nggak dimasak sampai mendidih atau pakai es batu balokan yang kita nggak tahu asalnya dari air apa. Membawa botol minum sendiri nggak cuma bikin kita lebih sehat, tapi juga membantu mengurangi sampah plastik sekali pakai. Lumayan kan, sehat dapet, pahala buat bumi juga dapet.

Kesimpulan: Sayangi Ususmu Sebelum Menyesal

Jajan sembarangan itu emang punya sensasi tersendiri. Ada faktor nostalgia, faktor rasa, dan faktor harga yang ramah di kantong. Tapi jangan sampai kenikmatan sesaat itu malah bikin kita harus bayar mahal dengan kesehatan. Ingat, tubuh kita bukan tempat sampah yang bisa menampung segala macam zat kimia dan bakteri jahat tanpa protes. Sekali-kali memanjakan lidah itu boleh, tapi tetap pakai logika dan kewaspadaan.

Jadi, buat kamu yang sore ini rencana mau berburu takjil atau sekadar cari camilan buat nemenin nonton drakor, coba lebih selektif lagi ya. Perhatikan kebersihan tempatnya, cermati warna makanannya, dan jangan lupa cuci tangan sebelum makan. Karena sejatinya, nggak ada makanan yang lebih enak daripada makanan yang bikin kita kenyang tanpa bikin kita meriang. Stay healthy, kawan-kawan jajan!