Waspada Saat Membeli! Kenali 3 Ciri Kurma Oplosan dengan Pemanis Buatan
RAU - Sunday, 01 March 2026 | 06:35 PM


Waspada Saat Membeli! Kenali 3 Ciri Kurma Oplosan dengan Pemanis Buatan
Bulan Ramadan atau momen-momen menjelang hari raya biasanya jadi waktu di mana kurma naik kasta. Dari yang tadinya cuma nangkring di pojokan rak supermarket, tiba-tiba jadi primadona yang dicari semua orang. Ibaratnya, kurma itu sudah jadi starter pack wajib buat buka puasa. Tapi ya gitu, di mana ada permintaan tinggi, di situ pula ada oknum-oknum kreatif—dalam konotasi negatif—yang mencoba ambil untung dengan cara curang. Salah satunya adalah fenomena kurma oplosan alias kurma yang sengaja ditambah pemanis buatan supaya rasanya makin legit dan beratnya nambah.
Jujurly, sebagai konsumen, kita sering kali terjebak dalam jebakan Batman yang namanya "tampilan visual". Kita pikir kalau kurmanya mengkilap dan manisnya nendang, itu berarti kualitas premium. Padahal, bisa jadi itu cuma trik sulap pedagang nakal yang merendam kurma kualitas rendah ke dalam larutan gula atau pemanis kimia. Biar nggak boncos dan malah dapet penyakit pas buka puasa, yuk kita bedah pelan-pelan gimana cara membedakan kurma yang beneran alami sama kurma yang sudah "dimodifikasi" secara ilegal.
1. Tampilan yang Mengkilapnya Nggak Wajar dan Lengket di Tangan
Pernah nggak sih kamu lagi milih kurma, terus ngelihat ada satu box yang tampilannya kinclong banget kayak abis dipoles pakai wax mobil? Nah, di sini kamu harus mulai pasang mode curiga. Kurma yang alami memang punya kandungan minyak atau gula alami yang bikin dia terlihat sedikit glowing, tapi biasanya teksturnya nggak lebay. Kalau kurma itu terlihat basah kuyup oleh cairan bening dan sangat lengket saat disentuh, besar kemungkinan itu adalah lapisan sirup gula.
Logikanya gini, kurma asli itu manisnya ada di dalam daging buahnya, bukan numpuk di permukaan kulit. Kalau pas kamu pegang tanganmu langsung terasa lengket banget kayak abis pegang gulali, itu tanda-tanda kurma tersebut sudah "dimandikan" dalam larutan pemanis. Efek visualnya memang menggoda, tapi rasanya bakal beda jauh. Selain itu, kurma yang terlalu lengket karena pemanis buatan biasanya lebih gampang dihinggapi semut. Meskipun ada mitos yang bilang semut nggak suka pemanis buatan, nyatanya semut zaman sekarang juga doyan-doyan aja sama cairan manis yang "overkill" kayak gitu.
2. Manisnya "Nancep" di Leher dan Ada Aftertaste Pahit
Indra perasa kita sebenarnya adalah detektor paling canggih. Manis dari buah alami, seperti glukosa dan fruktosa yang ada di kurma asli, itu rasanya lembut dan cepat hilang di mulut. Ibaratnya, manisnya itu sopan, nggak teriak-teriak. Begitu kamu kunyah, rasa manisnya menyebar perlahan dan memberikan sensasi segar yang nyaman di tenggorokan.
Berbeda cerita kalau kamu ketemu sama kurma oplosan yang pakai sakarin atau aspartam. Manisnya itu agresif banget, sekali gigit langsung bikin leher terasa "serik" atau gatal. Kamu bakal ngerasa haus yang luar biasa setelah makannya. Istilah anak sekarang mungkin "manisnya bikin enek". Selain itu, ciri paling khas dari pemanis buatan adalah adanya rasa pahit yang tertinggal di pangkal lidah (aftertaste) setelah rasa manisnya hilang. Kalau kamu ngerasa ada yang aneh kayak sensasi minum obat setelah makan kurma, fiks, itu kurma oplosan. Jangan dipaksain habis, mending kasih tahu temen atau keluarga supaya nggak beli di lapak yang sama.
3. Tekstur Daging Buah yang Terlalu Lembek dan Mudah Mengelupas
Coba deh perhatikan tekstur kulitnya. Kurma yang alami punya serat yang jelas. Meski jenisnya kurma basah (seperti Sukari atau Mozafati), kulitnya tetap menempel dengan baik pada daging buahnya. Ada integritas tekstur di sana. Sedangkan kurma yang sudah diproses dengan cara direbus atau direndam air gula supaya terlihat besar dan manis, biasanya punya tekstur yang "benyek".
Karena proses perendaman yang lama, air gula itu masuk ke sela-sela kulit dan daging, bikin kulit kurmanya gampang banget terlepas atau mengelupas sendiri. Pas dimakan, daging buahnya nggak terasa berserat lagi, tapi lebih kayak bubur yang langsung hancur. Sensasi "chewy" atau kenyal yang harusnya jadi kenikmatan utama makan kurma pun hilang. Secara visual, kurma oplosan ini seringkali terlihat bengkak karena menyerap cairan tambahan. Jadi jangan gampang ketipu sama kurma yang kelihatan gede-gede tapi harganya miring, karena bisa jadi itu cuma berat air gula doang.
Tips Tambahan: Jangan Cuma Tergiur Harga Murah
Kita semua tahu kalau hidup lagi keras, dan nyari yang murah itu sudah jadi insting bertahan hidup. Tapi khusus buat makanan yang efeknya langsung ke kesehatan, mendingan kita agak selektif dikit. Kurma kualitas bagus, apalagi yang impor langsung dari Timur Tengah dengan brand yang jelas, punya standar kontrol kualitas yang ketat. Biasanya kurma-kurma ini dijual dalam kemasan yang rapat dan punya tanggal kedaluwarsa yang jelas.
Kalau kamu beli kurma curah di pinggir jalan yang terpapar debu dan panas matahari secara langsung, risikonya memang lebih gede. Bukan berarti semua penjual curah itu nakal, tapi setidaknya kamu harus lebih teliti pakai tiga ciri di atas. Perhatikan juga apakah ada lalat atau semut yang mengerubungi secara berlebihan. Kadang, insting hewan jauh lebih jujur daripada label harga di pasar.
Sebagai penutup, menjadi konsumen yang cerdas di zaman sekarang itu wajib hukumnya. Jangan sampai niat kita buat hidup sehat dengan konsumsi sunnah nabi malah jadi bumerang karena kita malas buat riset kecil-kecilan. Kurma itu berkah, tapi kalau sudah dioplos pakai bahan kimia, ya jatuhnya jadi sampah buat tubuh. Jadi, mulai sekarang, lebih teliti lagi ya pas milih kurma buat takjil nanti sore. Stay safe, stay healthy, dan jangan lupa bahagia walau dompet lagi tanggal tua!
Next News

Puasa Bikin Mata Berkunang-kunang? Ini Penjelasan Ahli Kesehatan
in 5 hours

Misteri Timbangan Naik Padahal Lagi Puasa? Mungkin Jam Tidurmu yang Berantakan
in 4 hours

Benarkah Banyak Makan Micin Bisa Ganggu Otak?
8 hours ago

Ingin Hidup Mapan Sebelum 30? Coba Deh Pelan-Pelan Stop 4 Kebiasaan Toxic Ini
in 3 hours

Ubah Kulkas Jadi Tempat Segar, Bukan Gudang Makanan Lama
in 4 hours

Hati-Hati, 7 Alat Dapur Ini Ternyata Diam-Diam Nyumbang Mikroplastik ke Perut Kita
in 4 hours

Mi Instan Boleh Dimakan, Tapi Ada Batasnya! Ini Kata Dokter
in 2 hours

Benarkah Tulang Diam-Diam Menyusut Setelah Usia 30?
12 hours ago

Benarkah Kita Makan Plastik Setiap Hari?
12 hours ago

Nail Art Bisa Sebabkan Infeksi Jamur dan Gangguan Pernapasan, Benarkah?
12 hours ago





