Groundbreaking Percetakan Sawah Pasca Bencana di Sumut, Aceh, dan Sumbar Digelar 15 Januari


MEDAN – Pemerintah pusat akan memulai program percetakan persawahan baru di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, pada Kamis (15/1/2026).
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan, kegiatan groundbreaking akan dilaksanakan serentak oleh Kementerian Pertanian dan dibuka langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Sumut, kerusakan lahan pertanian akibat banjir dan longsor mencapai 50.539 hektare dengan nilai kerugian diperkirakan sebesar Rp1,48 triliun.
"Untuk sektor pertanian, groundbreaking akan dilakukan serentak di Aceh, Sumbar, dan Sumut. Lokasinya di Kabupaten Tapanuli Tengah dan direncanakan dihadiri Presiden," ujar Bobby, Selasa (13/1/2026).
Ia menjelaskan, proses pendataan terhadap lahan pertanian, alat produksi, dan sarana pendukung lainnya telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Pendataan tersebut dibagi dalam tiga kategori kerusakan, yaitu ringan, sedang, dan berat.
Menurut Bobby, hingga kini pemerintah daerah lebih banyak menerima pembaruan terkait pembangunan sektor perumahan. Sementara informasi mengenai perbaikan dan pembukaan kembali lahan pertanian masih terbatas.
"Masyarakat sangat menunggu kepastian terkait sawah mereka. Kami berharap bisa dilibatkan dalam rapat-rapat bersama kementerian agar informasi yang kami sampaikan ke masyarakat lebih jelas," katanya.
Sementara itu, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu membenarkan bahwa daerahnya menjadi lokasi groundbreaking percetakan sawah pasca bencana. Ia menyebut, sebagian besar lahan persawahan di wilayahnya mengalami sedimentasi parah akibat banjir dan longsor.
"Pada 15 Januari nanti, Kementerian Pertanian akan memulai pencetakan sawah baru di Tapteng karena kerusakan sawah kami cukup berat," ujarnya.
Masinton menambahkan, penanganan bencana di Tapanuli Tengah kini telah memasuki fase transisi pemulihan. Pemerintah daerah fokus melakukan pembersihan permukiman, alur sungai, serta kawasan yang tertutup sedimen, lumpur, dan material kayu.
Namun, keterbatasan alat berat masih menjadi kendala utama. Saat ini, Pemkab Tapanuli Tengah hanya mampu mengoperasikan sekitar 20 unit alat berat, jumlah yang dinilai belum mencukupi untuk penanganan kerusakan berskala besar.
"Sebaran titik terdampak sangat luas. Normalisasi sungai dan pembersihan gelondongan kayu membutuhkan alat berat dalam jumlah besar," pungkasnya.
Sumber: TribunMedan
Next News

Pemprov Sumut Tetapkan 2025 Tahun Fondasi Pembangunan, 2026 Masuk Fase Akselerasi
6 days ago

ATR/BPN Sumut Targetkan 17.148 Bidang PTSL pada 2026
7 days ago

Bulog Sumut Salurkan 5.126 Ton Beras untuk Warga Terdampak Bencana Alam
8 days ago

Satgas Kodim 0210/TU Rampungkan Jembatan Darurat di Humbang Hasundutan Pascabencana Longsor
8 days ago

Impor Sumatera Utara Januari–November 2025 Turun 5,23 Persen
9 days ago

Usulan Bobby Nasution Diterima, Presiden Prabowo Batalkan Pemotongan TKD Sumut 2026
10 days ago

Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan Ditargetkan Rampung 10 Februari 2026
12 days ago

Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana di Sumut Dimulai Serentak
12 days ago

PNBP Imigrasi Sumut Tahun 2025 Lampaui Target, Capai Rp220,8 Miliar
13 days ago

Libur Panjang Isra Miraj, KAI Sumut Sediakan 34.288 Tiket untuk Layani Mobilitas Masyarakat
14 days ago





