Senin, 29 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Fakta Menarik Bunglon: Alasan Ilmiah di Balik Perubahan Warnanya

Laila - Monday, 29 June 2026 | 07:30 PM

Background
Fakta Menarik Bunglon: Alasan Ilmiah di Balik Perubahan Warnanya

Membongkar Mitos Si Raja Modus: Kenapa Sih Bunglon Hobi Gonta-ganti Warna?

Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong di kafe, terus tiba-tiba ada temen yang sikapnya berubah drastis pas ada gebetannya lewat? Yang tadinya pecicilan langsung jadi kalem bin jaim. Di tongkrongan, orang kayak gini sering banget dijuluki "bunglon". Istilah bunglon emang udah telanjur identik sama orang yang nggak punya pendirian atau jago banget nyaru demi cari aman. Tapi, pernah nggak kita bener-bener nanya, si bunglon yang asli—hewan reptil yang matanya bisa muter ke mana-mana itu—sebenernya kenapa sih hobi banget gonta-ganti warna kulit?

Banyak dari kita yang tumbuh besar dengan pemahaman bahwa bunglon berubah warna itu murni buat sembunyi dari predator. Katanya sih biar nggak kelihatan kalau lagi nangkring di atas daun atau batang pohon. Istilah kerennya: kamuflase. Tapi, eh tapi, ternyata ilmuwan punya jawaban yang jauh lebih kompleks dan menarik daripada sekadar main petak umpet. Kalau kamu pikir bunglon berubah warna cuma buat jadi ninja, kamu salah besar. Itu cuma secuil dari fungsi aslinya yang jauh lebih "drama" dan emosional.

Bukan Sekadar Kamuflase, Tapi Soal Perasaan

Bayangkan kamu punya layar LED di seluruh permukaan kulitmu yang bisa menampilkan status galau atau lagi marah tanpa kamu perlu update di Instagram Story. Nah, itulah yang dilakukan bunglon. Para peneliti menemukan bahwa alasan utama reptil ini berubah warna adalah untuk komunikasi dan mengekspresikan emosi. Jadi, warna kulit bunglon itu sebenernya adalah bahasa tubuh mereka.

Misalnya nih, ada bunglon jantan yang lagi ketemu lawan jenis. Wah, dia bakal dandan habis-habisan lewat warna kulitnya biar kelihatan makin ganteng dan menarik perhatian si betina. Sebaliknya, kalau ada dua jantan yang ketemu di satu dahan, suasana bakal langsung panas. Mereka bakal berubah warna jadi terang dan mencolok banget, kayak lagi teriak, "Eh, ini daerah gue! Pergi lo!" Kalau salah satu udah ngerasa kalah atau ciut, dia bakal berubah warna jadi kusam atau kecokelatan sebagai tanda menyerah. Jadi, warna kulit itu kayak tombol volume buat suara mereka yang nggak pernah terdengar.

Rahasia di Balik Kristal Mikroskopis

Kalau kita bicara soal teknis—dan janji deh ini nggak bakal bikin pusing kayak pelajaran biologi di sekolah—bunglon itu punya struktur kulit yang ajaib banget. Dulu, orang mikir bunglon berubah warna karena ada pigmen (zat warna) yang naik-turun di sel kulitnya. Ternyata, mekanismenya jauh lebih canggih dari itu. Mereka punya sel khusus yang namanya iridophores.



Di dalam sel iridophores ini, ada kristal-kristal kecil nan imut yang ukurannya mikroskopis. Bunglon mengontrol warna kulitnya dengan cara merenggangkan atau merapatkan jarak antar kristal ini. Pas mereka santai, kristal-kristal itu bakal rapat banget dan memantulkan cahaya biru atau hijau (makanya bunglon sering kelihatan hijau kalem). Tapi pas mereka lagi emosi atau tegang, kulit mereka bakal menegang, jarak antar kristal melebar, dan cahaya yang dipantulkan jadi warna-warna panjang kayak kuning, oranye, atau merah. Canggih banget, kan? Kayak punya proyektor pribadi di bawah kulit!

AC Alami: Mengatur Suhu Tubuh

Alasan ketiga yang nggak kalah penting adalah soal termoregulasi. Kita semua tahu kalau reptil itu hewan berdarah dingin. Artinya, mereka nggak bisa atur suhu badan sendiri dari dalam kayak kita manusia yang kalau kedinginan langsung menggigil. Bunglon harus pinter-pinter memanfaatkan sinar matahari.

Pas pagi hari yang dingin, bunglon biasanya bakal merubah kulitnya jadi lebih gelap. Kenapa? Karena warna gelap itu jago banget menyerap panas. Ibaratnya kayak kamu pakai kaos item pas lagi panas-panasan di siang bolong, pasti berasa lebih gerah. Nah, pas suhu badannya udah cukup hangat atau cuaca mulai terlalu terik, dia bakal berubah warna jadi lebih terang buat memantulkan cahaya matahari biar nggak "overheat". Jadi, perubahan warna itu adalah sistem AC dan pemanas ruangan otomatis buat mereka bertahan hidup di alam liar.

Jadi, Apa Kita Salah Menilai Bunglon?

Melihat fakta-fakta di atas, rasanya agak kurang adil ya kalau kita pakai istilah "bunglon" buat mendeskripsikan orang yang plin-plan atau bermuka dua. Soalnya, di dunia hewan, kemampuan berubah warna ini adalah bentuk kejujuran yang luar biasa. Mereka nggak bisa bohong soal apa yang mereka rasakan. Kalau lagi marah ya kelihatan merah, kalau lagi takut ya kelihatan kusam.

Justru manusia yang lebih sering jadi "bunglon" dalam artian negatif—berpura-pura baik padahal ada maunya. Sementara bunglon yang asli cuma pengen bilang kalau dia lagi butuh kehangatan matahari atau lagi pengen nyari pasangan. Mereka adalah seniman komunikasi visual yang paling jujur di muka bumi.



Kesimpulannya, perubahan warna pada bunglon adalah kombinasi antara sains fisika yang rumit, kebutuhan biologis buat tetap hangat, dan cara mereka bersosialisasi di tengah kerasnya rimba. Kamuflase emang ada, tapi itu bukan menu utamanya. Kadang mereka malah sengaja tampil mencolok supaya dilihat, bukan supaya hilang ditelan rimbunnya daun. Jadi, lain kali kalau kamu lihat foto bunglon yang warnanya mentereng kayak pelangi, inget aja: dia mungkin lagi nggak nyoba buat ngumpet, dia mungkin lagi pengen pamer kalau dia lagi merasa luar biasa!

Dunia hewan emang nggak pernah berhenti bikin kita geleng-geleng kepala. Dari hal sesederhana perubahan warna, kita belajar kalau setiap makhluk punya cara uniknya sendiri buat bertahan hidup dan bicara tanpa kata-kata. Dan mungkin, kita juga bisa belajar dari bunglon: bahwa beradaptasi dengan lingkungan itu perlu, tapi menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya lewat "warna" yang kita punya itu jauh lebih penting.