Senin, 29 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Benarkah Blue Light dari HP Bisa Merusak Kulit? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Laila - Monday, 29 June 2026 | 07:15 PM

Background
Benarkah Blue Light dari HP Bisa Merusak Kulit? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Di era digital, sebagian besar orang menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel, laptop, atau komputer.

Tak heran jika muncul berbagai klaim bahwa blue light dari gadget dapat menyebabkan kulit cepat tua, muncul flek hitam, hingga mempercepat keriput.

Bahkan, tidak sedikit produk skincare yang mengklaim mampu melindungi kulit dari paparan blue light.

Lalu, apakah semua itu benar?

Jawabannya adalah ya, tetapi tidak sesederhana yang sering dibayangkan.



Apa Itu Blue Light?

Blue light adalah bagian dari cahaya tampak (visible light) yang memiliki panjang gelombang sekitar 400–500 nanometer. Karena energinya lebih tinggi dibandingkan warna cahaya tampak lainnya, blue light juga dikenal sebagai High Energy Visible (HEV) Light.

Blue light sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Sumber terbesar blue light justru berasal dari matahari.

Selain itu, cahaya ini juga dipancarkan oleh lampu LED, televisi, komputer, tablet, dan ponsel.



Artinya, setiap hari kita memang terpapar blue light, baik saat berada di luar maupun di dalam ruangan.

Bedanya Blue Light dengan UVA dan UVB

Banyak orang menganggap blue light sama dengan sinar ultraviolet (UV).

Padahal keduanya berbeda.

UVA menembus lapisan kulit lebih dalam dan berperan besar dalam penuaan dini serta munculnya flek.



UVB terutama menyebabkan kulit terbakar (sunburn) dan berperan dalam pembentukan vitamin D.

Blue light (HEV) bukan sinar ultraviolet, melainkan bagian dari cahaya tampak yang masih terus diteliti dampaknya terhadap kulit.

Hingga saat ini, paparan sinar matahari tetap menjadi faktor lingkungan terbesar yang mempercepat penuaan kulit.

Benarkah Blue Light dari HP Bisa Merusak Kulit?

Secara ilmiah, ya, blue light dapat memengaruhi sel kulit, tetapi ada hal penting yang sering terlewat.



Sebagian besar penelitian yang menemukan efek blue light dilakukan menggunakan paparan dengan intensitas tinggi dalam kondisi laboratorium, bukan penggunaan ponsel seperti sehari-hari.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan blue light dalam jumlah besar dapat meningkatkan stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas lebih banyak daripada kemampuan tubuh menetralisirnya.

Jika berlangsung terus-menerus, stres oksidatif dapat merusak kolagen, elastin, dan komponen penting lain yang menjaga kulit tetap sehat.

Namun, hingga saat ini para dermatolog menyatakan bahwa energi blue light dari layar ponsel jauh lebih rendah dibandingkan blue light dari sinar matahari. Dengan kata lain, berjalan kaki 15–30 menit di bawah terik matahari memberikan paparan yang jauh lebih besar daripada berjam-jam menatap layar ponsel.

Siapa yang Perlu Lebih Waspada?



Meski dampak gadget masih diperdebatkan, beberapa kelompok dinilai lebih sensitif terhadap blue light, antara lain:

•orang dengan melasma (bercak kecokelatan pada wajah),

•pemilik PIH (Post-Inflammatory Hyperpigmentation) atau bekas jerawat yang menghitam,

•orang dengan warna kulit sedang hingga gelap, yang cenderung lebih mudah mengalami hiperpigmentasi akibat cahaya tampak.

Pada kelompok ini, paparan cahaya tampak, termasuk blue light, diduga dapat memperparah pigmentasi pada sebagian kasus.



Apakah Sunscreen Bisa Melindungi dari Blue Light?

Tidak semua sunscreen memberikan perlindungan terhadap blue light.

Sunscreen biasa dirancang untuk melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB.

Jika tujuanmu juga ingin mengurangi paparan cahaya tampak, beberapa dermatolog menyarankan mempertimbangkan tinted sunscreen yang mengandung iron oxides. Bahan ini diketahui dapat membantu mengurangi dampak cahaya tampak pada kulit, terutama pada penderita melasma atau PIH.

Meski begitu, memilih sunscreen tetap harus mengutamakan perlindungan broad spectrum terhadap UVA dan UVB.



Bagaimana Jika Bekerja di Depan Komputer 8 Jam?

Banyak pekerja kantoran menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar.

Kabar baiknya, hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa penggunaan komputer atau ponsel dalam kondisi normal menyebabkan kerusakan kulit yang setara dengan paparan sinar matahari.

Namun, jika meja kerja berada di dekat jendela, justru paparan sinar matahari melalui kaca lebih perlu diperhatikan dibandingkan layar komputer itu sendiri.

Karena itu, penggunaan sunscreen saat bekerja di dekat jendela tetap dianjurkan.



Cara Mengurangi Dampak Paparan Cahaya Sehari-hari

Untuk menjaga kesehatan kulit, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan:

•Gunakan sunscreen broad spectrum setiap pagi.

•Jika memiliki melasma atau bekas jerawat, pertimbangkan tinted sunscreen dengan kandungan iron oxides.

•Batasi paparan sinar matahari langsung pada pukul 10.00–14.00.



•Konsumsi makanan kaya antioksidan seperti buah dan sayuran berwarna cerah.

•Tidur yang cukup agar proses perbaikan sel kulit berlangsung optimal.

Menurut American Academy of Dermatology (AAD), penyebab utama penuaan dini akibat lingkungan tetap berasal dari paparan sinar ultraviolet matahari.

Bukti mengenai dampak blue light dari perangkat elektronik terhadap kulit masih terus diteliti dan belum sekuat bukti mengenai UVA maupun UVB.

Sementara itu, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa blue light berpotensi memengaruhi pigmentasi kulit pada kondisi tertentu, tetapi tingkat paparannya dalam kehidupan sehari-hari masih menjadi bahan penelitian lebih lanjut.



Blue light memang dapat memberikan efek biologis pada kulit dalam kondisi tertentu. Namun, hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa penggunaan ponsel atau komputer sehari-hari menjadi penyebab utama penuaan kulit.

Yang justru lebih perlu diwaspadai adalah paparan sinar matahari, khususnya UVA, karena dampaknya terhadap kulit telah terbukti melalui banyak penelitian.

Jadi, daripada terlalu khawatir pada layar ponsel, lebih baik tetap disiplin menggunakan sunscreen, menjaga pola tidur, dan membatasi paparan sinar matahari langsung.