Minggu, 1 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dilema Es Buah Saat Ramadan: Segar di Tenggorokan, Aman Nggak untuk Ginjal?

Tata - Saturday, 28 February 2026 | 03:05 PM

Background
Dilema Es Buah Saat Ramadan: Segar di Tenggorokan, Aman Nggak untuk Ginjal?

Dilema Es Buah dan Nasib Ginjal Kita Saat Ramadan

Bayangkan ini: jam lima sore, matahari mulai malu-malu mau tenggelam, dan kamu lagi berdiri di depan abang-abang penjual es buah. Warnanya yang merah menggoda, potongan melon yang hijau segar, ditambah serutan es yang menggunung, rasanya benar-benar seperti oase di tengah padang pasir. Begitu azan berkumandang, "Glek!" Langsung ludes dua gelas. Segar sih, tapi pernah terpikir nggak, gimana kabar ginjal kamu di balik keriuhan buka puasa itu?

Puasa itu ibadah, tapi bukan berarti kita abai sama onderdil tubuh, terutama ginjal. Organ yang bentuknya mirip kacang merah ini punya tugas berat: menyaring racun dan menjaga keseimbangan cairan. Masalahnya, pas puasa, asupan air kita terbatas cuma dari magrib sampai subuh. Kalau kita sembarangan atur minum, ginjal bisa "ngambek" atau bahasa kerennya kena dehidrasi kronis yang berujung pada batu ginjal atau masalah lebih serius. Biar nggak kejadian, yuk kita obrolin cara atur minum yang asik dan nggak kaku selama Ramadan.

Rumus 2-4-2: Klasik Tapi Tetap Menang Banyak

Mungkin kamu sudah sering dengar rumus ini, tapi jujur deh, berapa banyak dari kita yang benar-benar mempraktikkannya? Rumus 2-4-2 itu bukan kode buntut atau formasi sepak bola, melainkan strategi distribusi air minum biar ginjal nggak kaget dan tubuh tetap terhidrasi dengan paripurna.

Pertama, 2 gelas saat berbuka. Eits, tapi jangan langsung ditenggak sekaligus bareng es buah yang gulanya selangit itu ya. Mulailah dengan satu gelas air putih hangat atau suhu ruang buat membatalkan puasa. Air putih itu seperti "pemanasan" buat mesin tubuh yang sudah istirahat 13 jam lebih. Satu gelas lagi bisa kamu minum setelah makan takjil atau sebelum makan besar. Intinya, kasih jeda, jangan main sikat saja.

Kedua, 4 gelas sepanjang malam. Ini yang sering dilupakan karena kita biasanya sibuk salat tarawih, ngobrol, atau malah langsung tidur karena kekenyangan. Strateginya simpel: bawa botol minum ke masjid atau taruh di samping laptop kalau lagi lanjut kerja malam. Cicil satu gelas tiap jam atau setelah tarawih. Tujuannya supaya ginjal punya suplai air yang konsisten buat memproses sisa makanan yang kita santap saat buka tadi.



Ketiga, 2 gelas saat sahur. Satu gelas pas bangun tidur buat menyalakan "sistem" tubuh, dan satu gelas lagi sesaat sebelum imsak. Jangan minum lima gelas sekaligus pas mau imsak, ya! Bukannya jadi cadangan air, kamu malah bakal bolak-balik ke kamar mandi di pagi hari karena ginjal langsung membuang kelebihan cairan yang datang tiba-tiba itu.

Jangan Cuma Fokus Sama "Berapa", Tapi Juga "Apa"

Banyak orang merasa sudah cukup minum karena sudah menenggak tiga gelas es teh manis atau kopi susu kekinian. Duh, hati-hati lho. Meskipun judulnya cair, cairan yang mengandung gula tinggi, kafein berlebih, atau soda itu kerjanya beda di dalam tubuh. Kafein dalam kopi atau teh itu bersifat diuretik, alias bikin kamu lebih sering kencing. Bukannya menghidrasi, yang ada malah cairan tubuhmu makin cepat terkuras habis.

Gini lho, ginjal itu paling suka sama air putih yang polos tanpa neko-neko. Kalau bosan, kamu bisa coba bikin infused water dengan potongan lemon atau timun. Rasanya segar, tampilannya estetik buat masuk Instagram Story, dan yang penting, ginjalmu bakal berterima kasih karena beban kerjanya nggak ditambah buat nyaring pemanis buatan yang ribet itu.

Waspada Thirst Trap: Gorengan dan Makanan Asin

Kita semua tahu kalau buka puasa tanpa gorengan itu rasanya kayak ada yang kurang. Bakwan, tahu isi, tempe mendoan—semuanya menggoda. Tapi perlu diingat, makanan yang terlalu asin atau tinggi natrium itu sifatnya menarik air dari sel-sel tubuh. Hasilnya? Kamu bakal merasa haus yang luar biasa sepanjang hari.

Opini pribadi saya sih, makan gorengan boleh banget, namanya juga tradisi. Tapi jangan dijadikan menu utama pas sahur. Kalau pas sahur kamu makan yang asin-asin banget, jam sembilan pagi saja kerongkongan sudah terasa kayak aspal kering. Pilih makanan yang punya kadar air tinggi seperti sup, sayuran hijau, atau buah-buahan seperti semangka dan melon. Itu namanya investasi cairan jangka panjang buat tubuh.



Cek "Warna Keberuntungan" Kamu di Toilet

Cara paling gampang buat tahu ginjalmu sehat atau nggak selama puasa adalah dengan rajin-rajin intip warna urine pas lagi buang air kecil. Ini bukan jorok ya, ini namanya deteksi dini mandiri. Kalau warnanya bening atau kuning muda pucat, selamat! Kamu sudah melakukan pekerjaan bagus dalam menghidrasi tubuh.

Tapi kalau warnanya sudah kuning pekat, apalagi sampai mendekati warna teh botol, itu tandanya ginjal kamu lagi jerit-jerit minta tolong. Itu sinyal kuat kalau konsentrasi zat sisa di tubuhmu terlalu tinggi dan kurang pelarut (air). Kalau sudah begini, jangan ditunda lagi, segera penuhi kuota air putihmu begitu waktu berbuka tiba.

Menjaga Ginjal Adalah Bentuk Self-Love

Pada akhirnya, puasa bukan cuma soal menahan lapar dan dahaga, tapi juga soal belajar disiplin sama diri sendiri, termasuk disiplin menjaga kesehatan. Jangan sampai pas Lebaran nanti, bukannya keliling silaturahmi, kamu malah harus istirahat total karena pinggang pegal-pegal atau kena infeksi saluran kemih gara-gara kurang minum.

Atur ritme minummu dengan santai, jangan dijadikan beban. Anggap saja minum air putih itu bagian dari ritual biar tetap glowing dan segar meskipun lagi berpuasa. Jadi, sudah berapa gelas air putih yang kamu minum sejak buka tadi? Jangan lupa, ginjalmu cuma sepasang, jaga baik-baik ya!