Rabu, 5 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Regional & Nasional

BPS: Angka Kemiskinan Sumatera Utara Turun Jadi 7,10 Persen pada Maret 2026

RAU - Wednesday, 05 August 2026 | 09:35 AM

Background
BPS: Angka Kemiskinan Sumatera Utara Turun Jadi 7,10 Persen pada Maret 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat angka kemiskinan di wilayah tersebut kembali mengalami penurunan pada Maret 2026. Persentase penduduk miskin turun dari 7,24 persen pada September 2025 menjadi 7,10 persen.

Penurunan tersebut setara dengan berkurangnya sekitar 17,7 ribu jiwa dibandingkan periode sebelumnya. Jika dibandingkan dengan Maret 2025, jumlah penduduk miskin juga berkurang sekitar 30 ribu jiwa.

Kepala BPS Provinsi Sumatera Utara, Asim Saputra, mengatakan jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara pada Maret 2026 tercatat sebanyak 1,11 juta jiwa.

"Penurunan kemiskinan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan," ujar Asim Saputra, Rabu (5/8/2026).

Kemiskinan Turun di Perkotaan dan Perdesaan

BPS mencatat persentase penduduk miskin di wilayah perkotaan turun menjadi 7,05 persen. Sementara itu, di wilayah perdesaan persentasenya mencapai 7,17 persen.



Menurut Asim, penurunan angka kemiskinan didukung oleh sejumlah faktor, antara lain pertumbuhan ekonomi yang membaik, penurunan tingkat pengangguran, inflasi yang tetap terkendali, meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP), serta berbagai program bantuan sosial yang dijalankan pemerintah.

Garis Kemiskinan Meningkat

Di sisi lain, BPS mencatat Garis Kemiskinan pada Maret 2026 meningkat menjadi Rp743.301 per kapita per bulan.

Dari nilai tersebut, sekitar 77,02 persen merupakan kebutuhan makanan. Beras masih menjadi komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pembentukan garis kemiskinan di Sumatera Utara.

Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Naik

Meski jumlah penduduk miskin mengalami penurunan, BPS mencatat Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) justru meningkat dibandingkan September 2025.

Kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin masih semakin jauh dari garis kemiskinan. Selain itu, ketimpangan pengeluaran di antara kelompok masyarakat miskin juga mengalami peningkatan meskipun jumlah penduduk miskin secara keseluruhan terus menurun.