Kamis, 9 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Antara Gaya dan Encok: Suka Duka Anak Tropis Nyobain Ski di Pegunungan

Tata - Thursday, 09 April 2026 | 01:20 PM

Background
Antara Gaya dan Encok: Suka Duka Anak Tropis Nyobain Ski di Pegunungan

Antara Gaya dan Encok: Suka Duka Anak Tropis Nyobain Ski di Pegunungan

Mari jujur-jujuran saja. Kita ini adalah bangsa yang dibesarkan dengan sinar matahari yang menyengat, kelembapan udara yang bikin keringat bercucuran, dan pemandangan hijau royo-royo sepanjang tahun. Jadi, wajar banget kalau setiap kali melihat salju di layar kaca atau feed Instagram, jiwa-jiwa petualang (baca: jiwa ingin pamer) kita langsung meronta-ronta. Ada semacam obsesi kolektif bagi orang Indonesia untuk merasakan sensasi dingin yang nggak masuk akal, yang kalau di film-film terlihat sangat estetik dan romantis.

Namun, di puncak hierarki liburan musim dingin, ada satu kegiatan yang dianggap sebagai kasta tertinggi: bermain ski di pegunungan. Kelihatannya sih simpel, ya? Tinggal meluncur, zig-zag dikit, lalu difoto pakai kacamata hitam besar sambil pegang tongkat. Tapi percayalah, realitanya jauh dari sekadar pose keren. Bermain ski bagi kita yang biasa pakai sandal jepit adalah sebuah perjuangan fisik dan mental yang luar biasa berat, namun sekaligus bikin nagih.

Sepatu Robot dan Perjuangan Memulai

Pelajaran pertama saat kamu memutuskan untuk main ski adalah: lupakan soal kenyamanan. Begitu kamu sampai di tempat penyewaan alat, kamu akan disuguhi sepatu bot ski yang beratnya kayak bawa beban hidup. Sepatunya kaku, keras, dan memaksa kakimu menekuk ke depan. Berjalan dengan sepatu ski itu seninya mirip kayak robot yang lagi kebelet pipis. Kamu akan merasa sangat canggung, dan di sinilah ego kita biasanya mulai diuji.

Belum lagi soal urusan pakai baju. Berlapis-lapis thermal, fleece, jaket waterproof, sampai celana yang tebalnya minta ampun. Begitu semuanya terpasang, kamu bakal merasa kayak tokoh Michelin atau astronot yang salah nyasar ke gunung. Untuk sekadar nunduk benerin tali sepatu aja perjuangannya sudah kayak ikut olimpiade. Tapi ya itu, demi konten yang paripurna di puncak gunung, rasa gerah dan kaku itu mendadak jadi nggak terasa—sampai akhirnya kamu benar-benar berdiri di atas salju.

Seni Jatuh yang Tidak Estetik

Ekspektasi kita saat pertama kali menginjakkan kaki di papan ski adalah meluncur dengan anggun ala atlet profesional. Kenyataannya? Baru geser sepuluh sentimeter saja, keseimbangan sudah hilang. Dan kalau sudah jatuh, jangan harap bisa langsung berdiri dengan gagah. Salju itu licin, kawan. Mencoba berdiri saat kedua kakimu terikat papan panjang di atas permukaan licin adalah definisi sesungguhnya dari keputusasaan.



Di sinilah kita akan belajar istilah "pizza" dan "french fries". Bukan, ini bukan soal pesen makanan di kafe lereng gunung, melainkan teknik dasar mengerem. "Pizza" berarti ujung depan ski dipertemukan membentuk segitiga supaya berhenti, sedangkan "french fries" artinya sejajar untuk melaju kencang. Kedengarannya gampang, tapi saat gravitasi mulai menarikmu turun dari kemiringan gunung, otak seringkali mengalami lag. Yang seharusnya "pizza" malah jadi "panik", dan berakhir dengan kamu yang nyungsep masuk ke tumpukan salju atau menabrak anak kecil yang justru lebih jago mainnya daripada kamu.

Tapi jujur saja, momen-momen jatuh inilah yang bikin hidup terasa lebih berwarna. Ada rasa malu yang bercampur tawa saat kita melihat teman kita sendiri terkapar dengan posisi kaki entah ke mana. Di atas pegunungan salju, derajat semua orang itu sama: sama-sama berisiko jadi es mambo kalau nggak hati-hati.

Kenapa Jepang Jadi Destinasi Favorit?

Kalau bicara soal ski, buat orang Indonesia, Jepang biasanya jadi pilihan nomor satu. Kenapa bukan Swiss atau Prancis? Ya, selain jarak yang lebih dekat (dan visa yang lebih bersahabat), Jepang punya apa yang disebut "Japow" alias Japan Powder. Salju di sana itu lembut banget, kayak bedak bayi. Jadi kalau kamu jatuh—dan percayalah, kamu pasti jatuh—rasanya nggak terlalu sakit. Kayak mendarat di atas tumpukan kapas raksasa.

Belum lagi urusan fasilitasnya. Di tempat-tempat seperti Niseko atau Hakuba, mereka sudah paham banget cara memanjakan turis. Habis capek main ski sampai kaki gemetar, kamu bisa langsung nyebur ke onsen (pemandian air panas). Bayangkan, badan yang tadinya kedinginan dan pegal-pegal semua, tiba-tiba direndam air panas sambil melihat pemandangan salju turun di luar. Itu adalah nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan versi anak gunung.

Vibe Après-Ski: Sisi Lain dari Gunung Salju

Ada satu istilah yang harus kamu tahu kalau mau kelihatan pro: Après-ski. Secara harfiah artinya "setelah ski". Ini adalah budaya nongkrong, makan, dan minum-minum santai setelah seharian beraksi di salju. Buat sebagian orang, momen inilah yang paling ditunggu-tunggu. Bukan skInya, tapi gaya hidup setelahnya.



Duduk di kafe kayu yang hangat, menyeruput cokelat panas dengan marshmallow, atau makan ramen kuah kental saat suhu di luar minus sepuluh derajat adalah kemewahan yang sulit dijelaskan kata-kata. Di sini, cerita-cerita soal jatuh tadi jadi bahan obrolan yang seru. Kita jadi lupa kalau tadi sempat nangis kecil gara-gara nggak bisa berhenti saat meluncur. Suasana hangat di tengah dinginnya gunung ini punya daya magis yang bikin kita lupa sama saldo rekening yang terkuras buat sewa peralatan.

Kesimpulan: Apakah Sebanding dengan Encoknya?

Main ski itu mahal, melelahkan, dan bikin badan pegal-pegal berhari-hari. Belum lagi risiko cedera kalau kita terlalu sok tahu. Tapi, kalau ditanya apakah worth it? Jawabannya adalah seribu persen iya. Ada perasaan bebas yang luar biasa saat kamu berhasil meluncur stabil, meskipun cuma di trek pemula. Ada rasa kagum yang tak henti-hentinya saat melihat puncak gunung yang tertutup salju putih bersih, berkilauan kena sinar matahari.

Bermain ski mengajarkan kita untuk berani mencoba sesuatu yang benar-benar di luar zona nyaman kita sebagai penghuni khatulistiwa. Ini bukan cuma soal olahraga, tapi soal menertawakan diri sendiri saat terjatuh dan bangga pada diri sendiri saat berhasil bertahan di atas dua papan tipis tersebut. Jadi, buat kamu yang punya tabungan lebih dan pengen ngerasain pengalaman hidup yang beda, cobalah sekali-kali main ski. Siapkan mental, siapkan fisik, dan yang paling penting, siapkan koyo yang banyak buat dipakai setelahnya. Selamat meluncur!