Selasa, 10 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tradisi Daerah di Jawa Menyambut Ramadan, Warisan Budaya yang Sarat Makna Spiritual

Liaa - Tuesday, 10 February 2026 | 04:44 AM

Background
Tradisi Daerah di Jawa Menyambut Ramadan, Warisan Budaya yang Sarat Makna Spiritual

Bagi masyarakat Jawa, Ramadan bukan sekadar pergantian waktu ibadah, melainkan fase penting yang disambut dengan kesiapan lahir dan batin. Tradisi-tradisi yang dijalankan menjelang Ramadan menjadi penanda kolektif bahwa bulan suci akan segera tiba—bulan untuk membersihkan diri, memperbaiki hubungan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

1. Padusan – Jawa Tengah dan Yogyakarta

Padusan berasal dari kata adus yang berarti mandi. Tradisi ini dilakukan dengan mandi bersama di mata air, sungai, atau pemandian alam menjelang Ramadan.

Secara simbolik, Padusan melambangkan penyucian diri dari segala kotoran lahir dan batin. Budayawan Jawa menilai Padusan sebagai hasil akulturasi budaya Jawa dan ajaran Islam, di mana konsep kesucian sebelum beribadah diwujudkan melalui ritual kolektif (Kemendikbud RI; Kompas).

2. Nyadran – Jawa Tengah dan Jawa Timur

Nyadran adalah tradisi ziarah kubur dan doa bersama untuk leluhur. Masyarakat membersihkan makam, membawa makanan, lalu berdoa bersama menjelang Ramadan.

Tradisi ini mencerminkan nilai hormat kepada leluhur sekaligus pengingat akan kefanaan hidup. Menurut kajian antropologi, Nyadran juga berfungsi sebagai penguatan solidaritas sosial antarwarga desa sebelum memasuki bulan puasa.

3. Megengan – Jawa Timur

Megengan berasal dari kata megeng yang berarti menahan. Tradisi ini ditandai dengan kenduri dan pembagian makanan khas seperti kue apem kepada tetangga dan kerabat.

Makna Megengan sangat kuat secara spiritual: masyarakat diajak untuk "menahan diri" dan saling memaafkan sebelum menjalani ibadah puasa. Sejarawan budaya Jawa Timur menyebut Megengan sebagai sarana dakwah Islam yang halus dan membumi.

4.Dugderan - Semarang Jawa Tengah

Dugderan merupakan pesta rakyat yang menandai awal Ramadan. Nama Dugderan berasal dari bunyi bedug (dug) dan meriam (der).

Ciri khasnya adalah arak-arakan Warak Ngendog, simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa pesisir mengekspresikan kegembiraan menyambut Ramadan secara inklusif dan meriah.

Tradisi menyambut Ramadan di Jawa memiliki benang merah yang kuat, yaitu:

Penyucian diri sebelum ibadah

Penguatan silaturahmi dan gotong royong

Penghormatan terhadap leluhur dan nilai sosial

Antropolog Koentjaraningrat menyebut tradisi Jawa sebagai bentuk sistem budaya yang menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual, sosial, dan alam.