Selasa, 10 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Ketombe? Siapa Takut?!

Liaa - Tuesday, 10 February 2026 | 05:32 AM

Background
Ketombe? Siapa Takut?!

Ketombe sering dianggap sepele. Banyak orang mengira ketombe muncul karena jarang keramas atau salah sampo. Namun kenyataannya, ketombe yang terus-menerus justru sering menandakan adanya gangguan pada keseimbangan kulit kepala, bukan semata soal kebersihan.

Secara medis, ketombe dikenal sebagai bentuk ringan dari dermatitis seboroik, kondisi peradangan kulit yang umum terjadi di area kaya minyak seperti kulit kepala.

Apa saja penyebab Ketombe?

1. Jamur Malassezia yang Terlalu Aktif

Penyebab paling umum ketombe kronis adalah jamur Malassezia, mikroorganisme alami yang hidup di kulit kepala semua orang.

Menurut American Academy of Dermatology, masalah muncul ketika Malassezia berkembang berlebihan. Jamur ini memecah minyak alami kulit kepala menjadi asam lemak yang dapat memicu iritasi, mempercepat pergantian sel kulit, dan akhirnya menghasilkan serpihan putih (ketombe).

👉 Artinya: ketombe bukan karena kotor, tapi karena kulit kepala bereaksi berlebihan.

2. Kulit Kepala Terlalu Berminyak atau Terlalu Kering

Dua kondisi ekstrem ini sama-sama bisa memicu ketombe:

Terlalu berminyak → jamur lebih mudah berkembang

Terlalu kering → kulit mengelupas dan tampak seperti ketombe

Dermatolog menjelaskan bahwa salah memilih sampo—terlalu keras atau terlalu ringan—sering memperparah kondisi ini.

3. Dermatitis Seboroik

Jika ketombe disertai:

rasa gatal berat

kulit kemerahan

sisik kekuningan atau berminyak

maka kemungkinan besar itu dermatitis seboroik, bukan ketombe biasa.

Kondisi ini bersifat kambuhan dan dipengaruhi oleh hormon, stres, serta daya tahan tubuh. Mayo Clinic menyebutkan bahwa dermatitis seboroik memerlukan perawatan rutin, bukan sekali dua kali.

4. Jarang Keramas atau Terlalu Sering Keramas

Keduanya bisa sama-sama bermasalah:

Jarang keramas → minyak menumpuk

Terlalu sering keramas → kulit kepala iritasi dan kering

Ahli kulit kepala menyarankan frekuensi keramas 2–3 kali seminggu, disesuaikan dengan jenis rambut dan aktivitas.

5. Stres dan Kurang Tidur

Stres kronis dan kurang tidur tidak langsung menyebabkan ketombe, tetapi memperburuk peradangan kulit.

Menurut penelitian dermatologi, stres dapat melemahkan sistem imun kulit sehingga jamur Malassezia lebih mudah berkembang.

6. Faktor Hormon dan Kondisi Medis

Ketombe lebih sering terjadi pada::

-remaja dan dewasa muda

-pria (dipengaruhi hormon androgen)

-penderita Parkinson, HIV, atau gangguan imun

Ini sebabnya ketombe sering sulit hilang meski sudah ganti-ganti sampo.

7. Produk Rambut yang Tidak Cocok

Hair spray, pomade, atau styling product tertentu bisa:

menyumbat pori kulit kepala,memicu iritasi,

memperparah pengelupasan.

Dermatolog menyebut kondisi ini sebagai contact dermatitis pada kulit kepala.

Kapan Ketombe Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Segera konsultasi jika:

ketombe sangat gatal dan memerah

muncul luka atau infeksi

tidak membaik setelah 4–6 minggu perawatan

menyebar ke wajah, alis, atau telinga

Dokter biasanya akan meresepkan sampo medis antijamur atau kortikosteroid ringan.

Kesimpulan

Ketombe yang terus-menerus bukan karena malas keramas, melainkan akibat:

ketidakseimbangan kulit kepala

aktivitas jamur Malassezia

faktor stres, hormon, atau kondisi kulit tertentu

Kunci mengatasinya adalah memahami penyebabnya, bukan sekadar mengganti sampo.