Senin, 2 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Pura-Pura Kuat: Kebiasaan Berbohong pada Diri Sendiri yang Diam-Diam Jadi Budaya Modern

Tata - Monday, 02 March 2026 | 07:30 PM

Background
Pura-Pura Kuat: Kebiasaan Berbohong pada Diri Sendiri yang Diam-Diam Jadi Budaya Modern

Pura-Pura Kuat: Seni Berbohong pada Diri Sendiri yang Sudah Jadi Hobi Kolektif

Pernah nggak sih kamu lagi merasa dunia kayak mau runtuh, hati rasanya berantakan banget, tapi pas ada teman yang nanya "Lagi kenapa lo? Kok lesu?", jawaban yang keluar otomatis dari mulut cuma satu kata sakti: "Gapapa". Padahal di balik kata "gapapa" itu ada ribuan paragraf kesedihan, kekecewaan, dan rasa capek yang kalau diketik mungkin bisa jadi skripsi setebal kamus bahasa Inggris. Fenomena pura-pura kuat ini sudah kayak hobi kolektif yang kita lakukan sehari-hari tanpa sadar.

Di era sekarang, jujur soal perasaan itu rasanya kok malah jadi beban ya? Kita lebih milih pakai topeng "I'm fine" daripada harus menjelaskan ke orang lain kenapa kita sedih. Tapi kenapa sih kita hobi banget membohongi diri sendiri dan orang lain? Kenapa kejujuran emosional itu mahal harganya? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi, karena urusan perasaan ini emang nggak pernah sederhana.

Ekspektasi Sosial dan Jeratan "Toxic Positivity"

Salah satu alasan kenapa kita sering pura-pura kuat adalah karena lingkungan kita kadang nggak siap menerima sisi rapuh kita. Kita hidup di zaman di mana "good vibes only" jadi semacam aturan nggak tertulis. Kalau kamu curhat di media sosial atau di tongkrongan, seringnya malah dapat balasan kayak "Ah, lo kurang bersyukur aja," atau "Aduuh, jangan sedih terus dong, nanti rezekinya jauh."

Kalimat-kalimat kayak gitu, yang sering kita sebut sebagai toxic positivity, akhirnya bikin kita ngerasa bersalah kalau sedih. Kita ngerasa kalau menunjukkan rasa sakit itu tandanya kita lemah atau kurang iman. Akhirnya, daripada dibilang tukang ngeluh atau beban buat orang lain, kita pilih buat memendam semuanya dalam-dalam. Kita jadi ahli akting kelas Oscar yang selalu bisa senyum lebar di depan kamera, meski di belakang layar batin lagi chaos banget.

Budaya "Gengsi" dan Takut Terlihat Lemah

Jujur aja, kita ini dibesarkan di lingkungan yang kadang melihat kerentanan sebagai kelemahan. Terutama buat para cowok, nih. Dari kecil sudah sering dengar kalimat "Cowok jangan nangis, cowok harus kuat." Padahal, ya namanya juga manusia, punya kelenjar air mata dan sistem syaraf yang sama. Mau cowok atau cewek, rasa sedih itu valid dan manusiawi.

Gengsi ini yang sering jadi tembok besar. Kita takut kalau kita jujur soal perasaan kita yang lagi hancur, orang lain bakal melihat kita nggak kompeten, nggak bisa diandalkan, atau malah jadi bahan omongan di belakang. Ada ketakutan kalau kita menunjukkan sisi "telanjang" emosi kita, orang lain bakal punya senjata buat menyakiti kita lebih dalam lagi. Jadi, pura-pura kuat itu sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri supaya kita nggak merasa terancam secara sosial.

Media Sosial dan Kompetisi Kebahagiaan

Coba deh buka Instagram atau TikTok. Isinya apa? Orang-orang lagi liburan, makan enak, healing sana-sini, atau pamer pencapaian karir yang mentereng. Secara nggak sadar, kita jadi merasa harus ikut dalam kompetisi kebahagiaan itu. Kita merasa malu kalau postingan kita isinya cuma keluhan atau foto muka sembab habis nangis semalaman. Kita pengen divalidasi sebagai orang yang hidupnya "baik-baik saja" dan "seru".

Masalahnya, apa yang kita lihat di layar itu kan cuma highlight reel alias bagian bagusnya aja. Kita membandingkan "behind the scene" hidup kita yang berantakan dengan "trailer" hidup orang lain yang estetik. Akibatnya, kita makin merasa terisolasi. Kita merasa cuma kita satu-satunya orang di dunia ini yang lagi menderita, padahal sebenarnya hampir semua orang di balik layar HP-nya juga lagi berjuang keras menghadapi masalahnya masing-masing.

Dampaknya Kalau Kita Terus-terusan Pura-Pura

Sifat pura-pura kuat ini kalau dibiarkan terus-menerus bisa jadi bom waktu. Perasaan yang dipendam itu nggak bakal hilang, dia cuma ngumpet di bawah alam bawah sadar. Suatu saat, dia bakal meledak lewat cara yang nggak enak. Bisa dalam bentuk emosi yang tiba-tiba nggak terkontrol, stres fisik kayak asam lambung naik, pusing nggak sembuh-sembuh, atau bahkan burnout total.

Kita juga jadi makin sulit buat membangun hubungan yang tulus sama orang lain. Gimana orang mau mengerti dan bantu kita, kalau kita sendiri selalu pasang tembok setinggi langit? Hubungan yang sehat itu butuh kejujuran dan kerentanan. Kalau kita terus-terusan pakai topeng, kita nggak bakal pernah ngerasa benar-benar diterima apa adanya, karena yang diterima orang lain hanyalah topeng kita, bukan diri kita yang sebenarnya.

Lalu, Harus Gimana?

Belajar jujur soal perasaan itu emang nggak gampang, apalagi kalau kita sudah terbiasa "nrimo" atau menahan diri. Tapi, langkah pertamanya bisa dimulai dengan mengakui ke diri sendiri dulu. Kalau lagi sedih, ya bilang "Oke, gue lagi sedih banget hari ini." Nggak perlu langsung diceritain ke seluruh dunia lewat status WhatsApp, cukup akui saja perasaan itu tanpa menghakimi diri sendiri.

Selanjutnya, cari satu atau dua orang yang emang kamu percaya banget. Support system itu penting banget. Kamu nggak perlu jadi pahlawan super setiap saat. Sesekali jadi manusia yang butuh sandaran itu bukan dosa kok. Kita semua punya jatah gagal, jatah sedih, dan jatah merasa kalah. Itu semua bagian dari paket lengkap jadi manusia.

Ingat, menjadi kuat bukan berarti nggak pernah jatuh, tapi tahu kapan harus minta tolong dan gimana caranya bangkit lagi dengan cara yang jujur. Kejujuran emosional adalah bentuk keberanian yang sesungguhnya. Jadi, buat kamu yang hari ini lagi pura-pura kuat, nggak apa-apa kok kalau hari ini mau istirahat dulu dari topeng itu. Kamu berhak buat merasa nggak baik-baik saja.