Obesitas pada Anak di Indonesia: Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan
RAU - Friday, 17 April 2026 | 11:07 AM


Obesitas pada anak terjadi ketika terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan sehingga berat badan tidak lagi sesuai dengan usia dan tinggi badannya.
Ini bukan hanya soal anak terlihat "gemuk" atau "montok".
Secara medis, obesitas pada anak dinilai melalui indeks massa tubuh (IMT) sesuai usia dan jenis kelamin, karena standar anak berbeda dengan orang dewasa.
Di Indonesia, angka ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada anak dan remaja usia 5–19 tahun mencapai 7,9% dari lebih dari 115 ribu sampel yang dianalisis.
Sementara data lain menyebut pada kelompok usia sekolah sekitar 1 dari 5 anak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Angka ini menunjukkan bahwa masalah obesitas anak bukan lagi kasus sporadis, tetapi sudah menjadi isu kesehatan masyarakat.
Kenapa Angkanya Terus Naik?
Ada beberapa faktor yang paling sering berperan.
1. Pola Makan Tinggi Kalori
Makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak sangat mudah ditemukan.
Contohnya:
•minuman manis kemasan
•gorengan
•fast food
•snack tinggi gula
•makanan ultra-proses
Anak-anak sering mengonsumsi kalori lebih banyak daripada yang dibutuhkan tubuh.
2. Kurang Aktivitas Fisik
Ini menjadi penyebab yang sangat dominan.
Waktu bermain aktif anak sering tergantikan oleh:
•menonton video
•bermain game
•scrolling gadget
•duduk terlalu lama
Data analisis SKI 2023 menunjukkan aktivitas fisik rendah meningkatkan risiko obesitas secara signifikan.
3. Lingkungan Perkotaan
Anak yang tinggal di kota memiliki risiko lebih tinggi.
Salah satu penelitian nasional menunjukkan anak di area perkotaan memiliki peluang obesitas lebih besar dibanding area non perkotaan.
Faktor yang memengaruhi antara lain:
•akses makanan cepat saji
•ruang bermain terbatas
•gaya hidup sedentari
Dampaknya Tidak Sesederhana Berat Badan
Ini yang sering tidak disadari orang tua.
Obesitas pada anak dapat meningkatkan risiko:
•tekanan darah tinggi
•kolesterol tinggi
•diabetes tipe 2
•gangguan tidur (sleep apnea)
•fatty liver
•nyeri sendi
Selain fisik, ada juga dampak psikologis.
Anak bisa mengalami:
•rasa minder
diejek teman
•penurunan kepercayaan diri
•stres emosional
Keluarga Juga Berpengaruh
Pola hidup keluarga sangat menentukan.
Jika di rumah terbiasa:
•minum teh manis berlebihan
•snack setiap hari
•jarang makan buah dan sayur
•jarang aktivitas bersama,
maka risiko anak menjadi obesitas ikut meningkat.
Penelitian juga menemukan hubungan dengan faktor pendidikan ibu, status ekonomi, dan pola konsumsi keluarga.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Pencegahan harus dimulai dari rumah.
Beberapa langkah sederhana:
•kurangi minuman manis
•biasakan sarapan sehat
•tambah buah dan sayur
•batasi screen time
•ajak anak bergerak aktif minimal 60 menit per hari
Fokusnya bukan diet ketat, tetapi membangun kebiasaan sehat.
Next News

Mengapa Rambut Rontok Lebih Banyak pada Waktu-Waktu Tertentu?
9 hours ago

Buaya dan Aligator, Dua Reptil yang Sering Dianggap Sama
9 hours ago

Buaya Menelan Batu, Ternyata Ini Fungsi di Balik Kebiasaan Uniknya
9 hours ago

Mengapa Buaya Sering Membuka Mulut Saat Berjemur?
9 hours ago

Perkembangan Gaya Bernyanyi Ayu Ting Ting dari Masa ke Masa
9 hours ago

Cara Permen Mint Memberikan Sensasi Dingin pada Lidah
9 hours ago

Apakah Permen Mint Benar-Benar Bisa Menghilangkan Bau Mulut?
9 hours ago

Perbedaan Sensasi Permen Mint Saat Dikonsumsi dengan Air Dingin
9 hours ago

Mengapa Rambut Bisa Tumbuh dengan Kecepatan yang Berbeda pada Setiap Orang?
9 hours ago

Mengapa Rambut Bisa Berdiri Saat Tubuh Merasa Kedinginan?
9 hours ago





