Kamis, 22 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Regional & Nasional

Puncak Hujan November-Desember, BMKG Minta Pemda Urus Kesiapan Drainase

RAU - Thursday, 22 October 2026 | 12:12 PM

Background
Puncak Hujan November-Desember, BMKG Minta Pemda Urus Kesiapan Drainase

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat di Sumatera Utara (Sumut) agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan yang diprakirakan berlangsung pada November hingga Desember 2026

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah I, Dr. Hendro Nugroho, ST M.Si mengatakan kepada Waspada pada Rabu (21/10) bahwa meski durasi musim hujan tahun ini diperkirakan lebih pendek dibandingkan kondisi normal, masyarakat diminta tidak lengah. Kesiapan saluran drainase, sungai, jaringan irigasi, serta sistem penanganan bencana perlu dipastikan untuk mengantisipasi potensi genangan dan banjir.

Hendro juga mengatakan seluruh wilayah Sumatera Utara telah memasuki awal musim hujan. Puncaknya diprakirakan terjadi pada November dan Desember.

"Puncak musim hujan di November dan Desember. Untuk kali ini, durasinya lebih pendek daripada durasi normal," ujarnya.

Dia menjelaskan, dalam kondisi normal musim hujan dapat berlangsung sekitar empat bulan. Namun, pada periode ini durasinya diperkirakan hanya sekitar tiga hingga tiga setengah bulan.



Pergeseran waktu musim hujan tersebut berkisar dua hingga tiga dasarian atau sekitar 20–30 hari. Sementara itu, sifat hujan diprakirakan normal.

Menurut Hendro, kondisi tersebut tetap perlu menjadi perhatian karena curah hujan yang biasanya tersebar dalam periode lebih panjang dapat terjadi dalam rentang waktu yang lebih singkat.

Karena itu, kesiapan infrastruktur pengendali air menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah daerah, terutama dalam menghadapi puncak musim hujan.

"Saluran air, sungai, irigasi harus disiapkan dengan baik. Apakah pada saat hujan bisa menampung debit air dan mengalirkannya? Itu harus dipersiapkan," katanya.

Selain infrastruktur, Hendro meminta masyarakat dan pemerintah daerah rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG. Informasi tersebut diperlukan sebagai dasar untuk mengambil langkah antisipasi apabila muncul potensi cuaca ekstrem.



Dia mengatakan BMKG akan terus memperbarui informasi perkembangan cuaca dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

"Kalau ada cuaca ekstrem, mohon dipantau oleh seluruh pemangku kepentingan, baik BPBD, pemerintah daerah, dinas terkait maupun masyarakat," ujarnya.

Hendro juga menekankan pentingnya tindak lanjut terhadap informasi peringatan dini. Menurutnya, penyampaian informasi cuaca harus diikuti tindakan nyata agar masyarakat dan wilayah yang berpotensi terdampak dapat mempersiapkan diri.

"Informasi yang disampaikan BMKG mohon dapat dipahami dan ditindaklanjuti dengan aksi. Kalau hanya memahami tanpa ada tindakan, apa artinya informasi yang sudah kami sampaikan?" katanya.

Dia berharap pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan informasi prakiraan cuaca, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur dan koordinasi penanggulangan bencana berjalan baik.



Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan berlangsung lama atau muncul peringatan cuaca ekstrem.

Warga di wilayah rawan banjir diharapkan mengikuti arahan petugas dan segera melakukan langkah penyelamatan apabila kondisi membahayakan.

Dengan puncak musim hujan yang diprakirakan berlangsung dalam dua bulan mendatang, kesiapan pemerintah dan masyarakat menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara.