Jumat, 20 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Pulang ke Huta: Serba-serbi Tradisi Lebaran Ala Mandailing yang Bikin Kangen Rumah

Liaa - Friday, 20 March 2026 | 11:10 AM

Background
Pulang ke Huta: Serba-serbi Tradisi Lebaran Ala Mandailing yang Bikin Kangen Rumah

Pulang ke Huta: Serba-serbi Tradisi Lebaran Ala Mandailing yang Bikin Kangen Rumah

Kalau kita bicara soal Lebaran, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada opor ayam, rendang, atau drama pertanyaan Kapan nikah? dari tante-tante di kampung halaman. Tapi bagi masyarakat Mandailing, khususnya yang tinggal di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) seperti Mandailing Natal, Padang Lawas, hingga Tapanuli Selatan, Lebaran itu bukan cuma soal baju baru atau bagi-bagi angpao. Ada sebuah rasa, sebuah ritme, dan tradisi yang kalau nggak dilakukan, rasanya seperti makan lemang tapi nggak pakai srikaya: hambar!

Lebaran di bumi Mandailing itu punya vibrasi yang berbeda. Sejak seminggu sebelum Idul Fitri, atmosfer di Huta (desa) sudah mulai berubah. Ada aroma asap kayu bakar yang berkelindan dengan udara gunung yang sejuk, suara tawa anak-anak yang lari ke sana kemari, hingga kesibukan para Ibu yang tangannya nggak berhenti bergerak. Yuk, kita selami lebih dalam bagaimana masyarakat Mandailing menyambut hari kemenangan dengan gaya mereka yang ikonik.

Marpangir: Ritual Spa Alami Sebelum Hari Fitri

Salah satu tradisi yang paling melekat dan nggak boleh dilewatkan adalah Marpangir. Secara teknis, ini adalah ritual mandi untuk mensucikan diri. Tapi jangan bayangkan ini cuma mandi pakai sabun cair di bawah shower ya. Marpangir itu seni. Masyarakat menggunakan ramuan tradisional yang disebut Pange. Isinya macam-macam, mulai dari daun pandan, sereh, jeruk purut, daun nilam, sampai bunga-bungaan harum lainnya yang direbus jadi satu.

Biasanya, sehari sebelum Lebaran, warga berbondong-bondong pergi ke sungai. Bayangkan betapa serunya ribuan orang berkumpul di pinggir sungai yang jernih, menyiramkan air rebusan rempah tadi ke sekujur tubuh. Wanginya? Wah, jangan ditanya. Harumnya khas banget, segar, dan bikin rileks. Bagi anak muda Mandailing, Marpangir itu semacam ritual glowing alami biar pas hari H wajah terlihat lebih segar dan siap buat foto selfie berkali-kali.

Tradisi Melepeh dan Bersih-Bersih Huta

Di Mandailing, menyambut tamu saat Lebaran itu urusan serius. Makanya, ada tradisi bersih-bersih rumah besar-besaran yang sering disebut dengan istilah lokal sebagai Melepeh. Sebenarnya melepeh secara harfiah artinya mengecat atau memoles dinding rumah, terutama rumah panggung tradisional. Tapi sekarang maknanya meluas jadi dekorasi total. Gorden diganti yang paling baru, halaman disapu bersih sampai nggak ada sehelai daun pun yang berani jatuh, dan bunga-bunga di pot ditata sedemikian rupa.



Bukan cuma rumah pribadi, jalanan kampung juga dipoles. Got dibersihkan, pagar dicat ulang dengan warna-warna cerah. Ada kebanggaan tersendiri bagi warga Mandailing kalau rumahnya terlihat paling rapi saat dikunjungi kerabat dari perantauan. Ini adalah bentuk penghormatan sekaligus kegembiraan menyambut saudara-saudara yang baru pulang dari Jakarta, Medan, atau bahkan luar negeri.

Lemang Mandailing: Sang Primadona di Atas Bara

Kalau Jakarta punya ketupat, maka Mandailing punya Lemang. Membuat lemang itu butuh kesabaran tingkat dewa. Beras ketan dicampur santan, dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dilapisi daun pisang, lalu dibakar di atas bara api. Prosesnya bisa memakan waktu berjam-jam. Di malam-malam menjelang Lebaran, kalian bakal melihat kepulan asap di mana-mana. Orang-orang duduk melingkari api sambil memutar-mutar bambu lemang agar matangnya merata.

Di sinilah letak magisnya. Sambil menunggu lemang matang, terjadi obrolan-obrolan hangat. Cerita tentang masa kecil, kabar saudara di rantau, sampai gosip-gosip ringan mengalir begitu saja. Lemang Mandailing biasanya dimakan dengan srikaya yang manis atau rendang daging yang pedas gurih. Teksturnya yang pulen dan aroma bambu yang terbakar itu benar-benar nggak ada duanya. Kalau kalian cuma makan satu potong, fix, kalian sedang menahan diri!

Gordang Sambilan dan Malam Takbiran yang Bergetar

Malam takbiran di Mandailing itu berisik, tapi berisik yang bikin merinding. Selain suara takbir dari pengeras suara masjid, suara Gordang Sambilan seringkali ikut menyahut. Gordang Sambilan adalah alat musik perkusi khas Mandailing yang terdiri dari sembilan gendang besar dengan ukuran berbeda. Suaranya sangat bertenaga, dalam, dan menggetarkan dada.

Mendengarkan Gordang Sambilan di malam Lebaran itu rasanya seperti diingatkan kembali pada akar budaya yang kuat. Iramanya yang konstan seolah memanggil jiwa-jiwa yang sedang lelah untuk kembali bersemangat menyambut hari baru. Bagi para perantau, suara ini seringkali jadi pemicu utama air mata jatuh karena saking kangennya dengan kampung halaman.



Marsialap Ari: Silaturahmi yang Melampaui Sekadar Maaf-Maafan

Pas hari Lebaran tiba, setelah salat Id, mulailah tradisi kunjung-mengunjungi atau anyo-anyo. Di Mandailing, ada istilah Marsialap Ari, sebuah konsep tolong-menolong dan kebersamaan. Lebaran jadi momen untuk mempererat kekerabatan yang mungkin sempat renggang karena jarak atau kesibukan. Anak-anak muda akan mendatangi rumah orang-orang tua atau tokoh adat (Hatobangon) untuk meminta restu dan nasihat.

Uniknya, di beberapa daerah di Mandailing, ada tradisi makan bersama secara lesehan yang disebut Manganami. Semua orang, nggak peduli kaya atau miskin, duduk sejajar menikmati hidangan yang sama. Di sini, ego dilepaskan. Yang ada cuma kehangatan keluarga besar. Tak lupa, hidangan wajib seperti Sambal Kantin (sambal teri dengan kacang tanah dan irisan kecombrang) biasanya jadi pelengkap yang bikin selera makan naik berkali-kali lipat.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Seremoni

Tradisi masyarakat Mandailing dalam menyambut Lebaran sebenarnya adalah tentang menjaga identitas. Di tengah gempuran budaya modern dan tren Lebaran yang makin simpel, masyarakat Mandailing tetap memegang teguh ritual-ritual yang bagi sebagian orang mungkin dianggap ribet. Tapi ya, justru di keribetan itulah letak seninya. Di dalam asap lemang, di dinginnya air Marpangir, dan di dalam dentum Gordang Sambilan, ada nilai cinta, pengorbanan, dan kerinduan yang mendalam.

Bagi orang Mandailing, Lebaran bukan sekadar tanda berakhirnya bulan puasa, tapi momen untuk pulang ke diri sendiri, pulang ke keluarga, dan tentu saja, pulang ke Huta. Jadi, kalau kalian punya teman orang Mandailing dan diajak Lebaran ke rumahnya, jangan pernah nolak. Pengalamannya bakal jadi cerita yang nggak akan kalian lupakan seumur hidup. Horas!