Jumat, 29 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Menghadapi Teman yang Takut Gelap Saat Menginap Bersama

Laila - Wednesday, 27 May 2026 | 07:30 PM

Background
Menghadapi Teman yang Takut Gelap Saat Menginap Bersama

Team Lampu Terang vs. Team Gelap Gulita: Kenapa Selera Tidur Kita Bisa Beda Jauh?

Pernah nggak sih kalian ngalamin momen awkward pas lagi nginep di rumah temen atau staycation bareng geng, terus pas udah waktunya rebahan, muncul perdebatan sengit soal saklar lampu? Ada satu orang yang udah siap-siap narik selimut sambil bilang, "Eh, matiin ya lampunya, gue nggak bisa tidur kalau terang." Eh, di pojok satunya lagi ada yang langsung protes keras, "Jangan dong! Gue takut kalau gelap banget, taruh remang-remang kek atau nyalain aja semuanya!"

Masalah sepele soal lampu ini sering banget jadi pemicu perang dingin di kasur. Bagi tim lampu mati, cahaya sekecil apa pun berasa kayak sinar laser yang menusuk mata. Tapi buat tim lampu nyala, kegelapan total itu rasanya kayak lagi syuting film horor yang siap-siap ada tangan muncul dari kolong kasur. Tapi sebenarnya, kok bisa sih preferensi kita sejauh itu bedanya? Kenapa ada manusia yang bisa nyenyak di tengah silau lampu neon, sementara yang lain harus merasa seperti berada di dalam gua purba biar bisa mimpi indah?

Melatonin: Si Hormon Pemalu yang Takut Cahaya

Kalau kita bicara soal sains tapi tenang, ini bukan pelajaran biologi yang bikin ngantuk sebenarnya tubuh manusia itu punya jam internal yang namanya ritme sirkadian. Nah, aktor utamanya adalah hormon melatonin. Melatonin ini ibaratnya "tombol tidur" alami tubuh kita. Masalahnya, melatonin ini tipikalnya pemalu banget sama cahaya. Begitu saraf di mata kita menangkap ada cahaya, produksi melatonin bakal langsung drop atau malah berhenti total.

Makanya, secara medis, tidur di ruangan gelap gulita itu memang juaranya. Saat lampu mati, otak kita dapet sinyal kuat: "Oke guys, matahari udah nggak ada, waktunya istirahat." Kualitas tidur di ruangan gelap biasanya jauh lebih dalam (deep sleep). Lo bakal bangun dengan perasaan lebih segar, nggak merasa kayak habis digebukin massa. Sebaliknya, kalau lo tidur dengan lampu menyala, otak lo bakal terus-terusan bingung. Dia kayak kerja lembur buat mastiin ini tuh sebenarnya sudah malam atau masih siang sih? Hasilnya? Tidur lo mungkin cuma di permukaan aja, alias gampang kebangun.

Tim Lampu Nyala: Antara Rasa Aman dan Trauma Masa Kecil

Tapi kalau emang gelap itu lebih sehat, kenapa masih banyak orang yang keukeuh mau nyalain lampu? Apakah mereka semua aneh? Ya nggak juga. Ternyata faktor psikologis pegang peranan yang gede banget di sini. Bagi sebagian orang, kegelapan itu bukan soal istirahat, tapi soal hilangnya kontrol terhadap lingkungan sekitar. Ada kondisi yang namanya nyctophobia, alias ketakutan berlebih pada kegelapan.



Banyak dari kita yang dari kecil udah dicekokin sama cerita hantu atau film horor yang setting-nya selalu gelap. Alhasil, pas lampu mati, imajinasi kita malah lari kemana-mana. Suara gesekan plastik di pojokan kamar yang harusnya cuma sampah, tiba-tiba kedengeran kayak suara langkah kaki kuntilanak. Buat orang-orang kayak gini, cahaya lampu itu ibarat pelukan hangat yang bilang, "Tenang, nggak ada apa-apa kok di sini." Cahaya memberikan rasa aman secara visual karena mereka bisa melihat setiap sudut ruangan dengan jelas.

Bahkan ada juga orang yang bisa tidur dalam kondisi terang benderang karena emang udah terbiasa dari kecil. Mungkin dulu orang tuanya selalu nyalain lampu, atau emang mereka tipikal orang yang gampang "pelor" alias nempel molor di mana aja. Mau di bus yang lampunya terang atau di ruang tunggu bandara, ya hajar aja.

Kebiasaan Modern yang Merusak Ritme

Kita juga nggak bisa tutup mata kalau zaman sekarang, musuh terbesar tidur kita bukan cuma lampu langit-langit kamar, tapi "lampu kecil" yang kita pegang setiap saat: smartphone. Sinar biru (blue light) dari HP itu jahat banget buat melatonin. Banyak dari kita yang ngakunya "nggak bisa tidur kalau gelap", padahal sebenarnya kita cuma nggak bisa lepas dari scroll TikTok atau Twitter sebelum tidur.

Efeknya mirip sama tidur pakai lampu nyala. Otak terstimulasi terus, mata capek tapi pikiran masih lari-lari. Akhirnya, kita malah baru bisa tidur pas mata udah bener-bener perih, dan seringnya kita lupa matiin lampu utama karena udah tepar duluan. Kebiasaan ini kalau dipelihara terus bisa bikin siklus tidur kita berantakan, dan ujung-ujungnya kita jadi kaum "zombie" di kantor atau di kampus esok harinya.

Mencari Jalan Tengah: Lampu Tidur Remang-Remang

Terus gimana dong kalau lo harus tidur bareng pasangan atau temen yang seleranya beda? Ya masa harus berantem tiap malam? Solusinya biasanya ada di jalan tengah, yaitu lampu tidur atau lampu hias yang cahayanya kuning redup (warm white). Cahaya jenis ini nggak se-agresif lampu putih neon dalam menekan melatonin.



Lampu remang-remang ini ibarat kompromi politik yang adil. Yang takut gelap masih bisa ngelihat bayangan benda biar nggak parno, dan yang pengen gelap nggak bakal merasa silau-silau amat. Atau kalau lo emang tim lampu mati tapi harus tidur di tempat terang, penutup mata (sleep mask) adalah investasi terbaik dalam hidup lo. Murah, simpel, dan langsung bikin dunia berasa gelap seketika.

Kenali Dirimu Sendiri

Pada akhirnya, mau lo tim lampu nyala atau tim lampu mati, yang paling penting adalah gimana kualitas tidur lo pas bangun. Kalau lo tidur pakai lampu nyala tapi ngerasa sehat-sehat aja dan produktif, ya silakan lanjut. Tapi kalau lo sering merasa capek, pusing, atau mood swing nggak jelas, coba deh sesekali tantang diri lo buat tidur dalam gelap total. Siapa tahu, selama ini lo cuma butuh kegelapan buat bener-bener "off" dari penatnya dunia.

Tidur itu bukan cuma soal menutup mata, tapi soal memberikan hak tubuh buat memperbaiki diri. Jadi, mau gelap atau terang, pastikan lo dapet istirahat yang layak. Karena di dunia yang makin berisik dan terang ini, tidur nyenyak itu adalah sebuah kemewahan yang hakiki. Jadi, malam ini, saklarnya mau di-klik ke bawah atau tetap di atas, nih?