Jumat, 29 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Anak Pintar di Rumah Nenek tapi Tantrum Sama Bunda? Ini Sebabnya

RAU - Friday, 29 May 2026 | 09:50 PM

Background
Anak Pintar di Rumah Nenek tapi Tantrum Sama Bunda? Ini Sebabnya

Kenapa Anak Kecil Jadi 'Monster' Cuma di Depan Orang Tuanya? Ini Penjelasan Ilmiahnya yang Bikin Kita Elus Dada

Pernah nggak sih kamu merasa dikerjain sama keadaan? Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja menjemput si kecil dari rumah neneknya atau dari sekolah. Gurunya atau mertua kamu bilang dengan nada bangga, "Wah, si Adek hari ini pinter banget, anteng, makannya lahap, nggak rewel sama sekali." Kamu pun tersenyum lebar, merasa sukses mendidik anak.

Tapi, baru saja pintu mobil ditutup atau baru lima menit sampai di rumah, si bocah langsung berubah 180 derajat. Tiba-tiba dia nangis jerit-jerit cuma gara-gara bentuk nugget-nya nggak simetris, atau marah besar karena warna kaos kakinya nggak senada sama mood-nya hari itu. Kamu cuma bisa bengong, elus dada, sambil membatin, "Ini anak yang tadi dibilang malaikat sama gurunya, beneran anak yang sama nggak sih?"

Fenomena ini nyata, dan kalau kamu merasakannya, tenang, kamu nggak sendirian. Fenomena "anak berubah jadi rewel maksimal pas ketemu orang tua" ini punya penjelasan yang masuk akal, bukan karena kamu nggak becus jadi orang tua atau karena si anak memang hobi nyari perkara. Mari kita bedah pelan-pelan kenapa hal ini bisa terjadi dengan gaya santai ala tongkrongan.

1. Kamu Adalah "Safe Space" Alias Tempat Paling Aman Sedunia

Alasan pertama dan yang paling utama sebenarnya cukup menyentuh hati, meskipun praktiknya bikin pusing tujuh keliling. Anak kecil itu punya insting pertahanan diri. Saat mereka di sekolah, di rumah teman, atau di tempat umum, mereka merasa harus "menjaga image" atau bersikap sopan agar diterima lingkungan. Mereka menahan semua emosi, rasa lelah, dan rasa lapar demi mengikuti aturan main di luar sana.

Nah, begitu mereka melihat wajah ayah atau ibunya, sistem pertahanan itu langsung rontok. Mereka merasa sangat aman bersamamu sehingga mereka berani mengeluarkan semua "sampah emosi" yang sudah menumpuk seharian. Istilah kerennya adalah restraint collapse. Mereka tahu, mau senakal atau se-ngeselin apa pun mereka bertingkah, kamu nggak bakal meninggalkan mereka. Kamu adalah dermaga tempat mereka bisa menumpahkan badai tanpa takut kapalnya tenggelam.



2. Kapasitas Otak yang Belum "Full Version"

Kita sering lupa kalau anak kecil itu bukan orang dewasa versi mini. Otak mereka, terutama bagian prefrontal cortex yang fungsinya buat ngatur emosi dan logika, itu belum matang sempurna. Ibarat smartphone, software mereka masih versi beta yang banyak bug-nya.

Saat mereka capek, lapar, atau sekadar merasa nggak nyaman, mereka nggak punya kosakata yang cukup untuk bilang, "Ma, aku hari ini capek banget karena tadi harus berbagi mainan sama sepuluh orang." Alhasil, cara komunikasi yang paling gampang dan instingnya dapet ya lewat tantrum atau perilaku yang bikin kita naik darah. Mereka "meledak" di depanmu karena mereka percaya kamu bisa membantu mereka memproses ledakan itu.

3. Mencari Perhatian (Meskipun Caranya Salah)

Pernah dengar istilah bad attention is better than no attention? Bagi anak-anak, perhatian orang tua adalah mata uang paling berharga. Terkadang, saat kita sibuk main HP atau asyik ngobrol sama orang lain, si kecil merasa terabaikan. Mereka tahu kalau mereka duduk manis, mungkin kita cuma bakal bilang "pinter" tanpa menoleh. Tapi kalau mereka numpahin susu ke atas karpet atau teriak-teriak kencang, dalam sekejap perhatian kita 100 persen tertuju ke mereka.

Meskipun perhatian itu berupa omelan atau ceramah panjang lebar, buat mereka, itu tetaplah interaksi. Mereka merasa "dilihat". Jadi, kalau si kecil mendadak ngeselin pas kamu lagi asyik scrolling media sosial, mungkin itu kode keras kalau mereka lagi minta jatah waktu buat main bareng.

4. Mereka Sedang Mengetes Batas (Boundary Testing)

Anak-anak adalah ilmuwan kecil yang hobi melakukan eksperimen sosial. Laboratoriumnya? Ya rumah sendiri. Kelinci percobaannya? Tentu saja orang tuanya. Mereka bakal ngetes, "Kalau aku teriak begini, Mama bakal ngapain ya?" atau "Kalau aku nggak mau makan sayur, Papa bakal luluh nggak kalau aku kasih muka melas?"



Mereka berani melakukan ini cuma sama orang tua karena, kembali lagi ke poin pertama, adanya rasa aman. Mereka nggak berani ngetes batas sama guru galak atau orang asing karena taruhannya terlalu besar. Sama kamu, mereka merasa punya privilese untuk sedikit "kurang ajar" demi mencari tahu di mana batas aturan yang sebenarnya berlaku.

5. Faktor Kelelahan Sosial

Coba posisikan dirimu jadi anak kecil. Seharian penuh kamu harus dengerin instruksi guru, harus antre buat main ayunan, dan nggak boleh lari-larian di dalam ruangan. Itu capek banget, lho! Secara mental, energi mereka habis untuk menjadi "anak baik" di mata orang lain.

Begitu ketemu orang tua, baterai sosial mereka sudah di posisi 1 persen alias lowbat. Di saat itulah mereka jadi gampang tersinggung, gampang nangis, dan nggak mau dibilangin. Mereka butuh tempat untuk bermanja-manja dan melepas semua beban itu. Dan bagi mereka, nggak ada tempat yang lebih enak buat rewel selain di pelukan (atau di depan muka) orang tuanya sendiri.

Kesimpulan: Sebuah Pujian yang Melelahkan

Jadi, kalau lain kali anakmu mendadak jadi sangat menyebalkan sesaat setelah kamu menjemputnya, cobalah tarik napas dalam-dalam. Ingatlah bahwa perilaku ajaib mereka itu sebenarnya adalah "pujian" terselubung buat kamu. Itu tandanya kamu sudah berhasil menciptakan lingkungan yang sangat aman sampai-sampai si anak berani menunjukkan sisi terburuknya tanpa rasa takut.

Memang sih, teori ini nggak langsung bikin sakit kepala hilang saat denger teriakan mereka. Tapi setidaknya, kita jadi tahu kalau anak kita nggak sedang bermaksud jahat. Mereka cuma manusia kecil yang sedang belajar mengolah rasa, dan mereka memilih kita sebagai mentor terbaiknya. Jadi, sabar ya, Mam, Pap. Kita semua sedang berjuang di kapal yang sama!