Jumat, 3 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Berbagai Jenis Cabai dan Tingkat Kepedasannya

Laila - Friday, 03 July 2026 | 02:45 PM

Background
Mengenal Berbagai Jenis Cabai dan Tingkat Kepedasannya

Seni Menyakiti Diri yang Nikmat: Mengenal Kasta Cabai dari yang Kalem Sampai yang Bikin Istighfar

Mari kita jujur satu hal: bagi sebagian besar orang Indonesia, makan tanpa rasa pedas itu ibarat nonton konser tapi lupa bawa tiket. Bisa sih masuk, tapi rasanya hambar dan ada yang kurang di hati. Kita ini bangsa yang punya hubungan cinta-benci yang sangat toksik dengan cabai. Sudah tahu bakal sakit perut atau keringetan sebesar biji jagung, tapi kalau lihat sambal ulek yang merah merona di atas meja makan, pertahanan iman langsung runtuh seketika.

Cabai bukan cuma sekadar bumbu dapur. Di negeri ini, cabai adalah status sosial, identitas budaya, bahkan kadang jadi tolok ukur "kejantanan" seseorang saat nongkrong di tukang bakso. Tapi, tahukah kamu kalau dunia per-cabai-an itu luas banget? Nggak cuma soal cabai keriting atau rawit yang biasa kita temui di pasar. Ada hierarki kepedasan yang diukur dengan satuan Scoville Heat Units (SHU). Semakin tinggi angka SHU-nya, semakin besar kemungkinan kamu bakal memanggil nama Tuhan saat mencicipinya.

Si Kalem yang Cuma Cari Perhatian: Cabai Merah Besar dan Hijau

Kita mulai dari kasta paling bawah, yaitu Cabai Merah Besar. Kalau diibaratkan karakter film, cabai ini adalah aktor pendukung yang fungsinya cuma buat mempercantik visual. Warnanya merah menyala, menggoda banget, tapi pas digigit? Yah, biasa aja. Level pedasnya cuma sekitar 500 sampai 5.000 SHU. Biasanya cabai ini dipakai untuk bikin masakan jadi lebih "berwarna" atau buat kamu yang pengen sok-sokan makan pedas padahal lambungnya baperan.

Lalu ada Cabai Hijau Besar. Ini sering kita temukan di masakan Padang atau buat pelengkap tahu isi. Pedasnya sopan banget, nggak nendang, cuma sekadar lewat buat kasih aroma segar. Buat para pemula atau mereka yang kalau kena pedas sedikit langsung meler, dua jenis cabai ini adalah zona nyaman yang paling aman.

Si Pekerja Keras: Cabai Merah Keriting

Nah, kalau ini adalah tulang punggung kuliner Indonesia. Hampir semua jenis sambal dasar di warteg sampai restoran bintang lima pakai Cabai Merah Keriting. Bentuknya panjang, langsing, dan sedikit berkerut—mungkin karena dia capek harus jadi bahan utama di mana-mana. Level pedasnya ada di kisaran 30.000 hingga 50.000 SHU. Ini adalah level "pedas standar" orang Indonesia. Cukup buat bikin lidah menari, tapi belum sampai bikin kita pengen kayang.



Si Kecil-Kecil Cabai Rawit (Literally)

Jangan pernah meremehkan yang kecil. Ungkapan "kecil-kecil cabai rawit" itu lahir bukan tanpa alasan medis yang jelas. Cabai Rawit, terutama yang jenis Rawit Merah (sering disebut Cabai Setan di beberapa daerah), punya daya ledak yang luar biasa. Angka SHU-nya bisa mencapai 50.000 sampai 100.000.

Coba deh perhatikan orang yang lagi makan gorengan. Mereka bisa dengan santainya mengunyah satu biji cabai rawit hijau bareng bakwan hangat. Tapi begitu kena yang rawit merah, suasana langsung berubah jadi horor. Keringat mulai bercucuran di dahi, telinga mulai terasa panas, dan tiba-tiba saja mereka butuh es teh manis seember. Rawit merah adalah gerbang pembuka menuju dunia pedas yang sebenarnya.

Level Internasional: Habanero dan Saudara-Saudaranya

Pindah ke luar negeri, kita punya Habanero. Dulu, cabai ini sempat memegang rekor sebagai yang terpedas di dunia sebelum akhirnya dikudeta oleh jenis-jenis baru hasil persilangan. Habanero punya level kepedasan antara 100.000 sampai 350.000 SHU. Bentuknya unik, agak bulat dan gemoy, warnanya orange atau merah. Tapi jangan tertipu tampilannya yang lucu. Sekali gigit, rasanya seperti ada kembang api yang meledak di dalam mulut kamu.

Banyak orang bilang Habanero punya aroma buah (fruity), tapi jujur saja, siapa yang sempat merasakan aroma buah kalau lidahnya sudah mati rasa karena terbakar?

Level Bos Terakhir: Bhut Jolokia dan Carolina Reaper

Kalau kamu merasa sudah jadi jawara pedas karena sanggup makan mi instan level 100, mungkin kamu perlu kenalan sama Bhut Jolokia atau Ghost Pepper. Cabai asal India ini punya level pedas menembus angka 1.000.000 SHU. Namanya saja sudah "Ghost", karena setelah memakannya, mungkin kamu bakal merasa melihat arwah saking sakitnya. Di India, cabai ini bahkan dipakai buat pagar tanaman agar gajah-gajah liar nggak berani mendekat. Bayangkan, gajah yang kulitnya setebal itu saja takut, apalagi usus kita?



Tapi, tahta tertinggi saat ini masih dipegang oleh Carolina Reaper. Dengan rekor rata-rata 1,6 juta hingga 2,2 juta SHU, cabai ini bukan lagi bahan makanan, tapi lebih mirip senjata biologis. Bentuknya ngeri, ada buntut kecil seperti sengat kalajengking. Orang yang nekat makan ini biasanya bukan karena lapar, tapi karena tuntutan konten YouTube atau memang punya hobi menyiksa diri sendiri secara sadar.

Kenapa Kita Begitu Terobsesi dengan Rasa Pedas?

Pertanyaan besarnya: kenapa kita suka menyakiti diri sendiri dengan cabai? Secara sains, saat kita makan pedas, zat capsaicin dalam cabai mengirimkan sinyal "sakit" ke otak. Sebagai respon, otak melepaskan endorfin dan dopamin—hormon kebahagiaan—untuk meredam rasa sakit itu. Jadi, sensasi "nagih" setelah makan sambal itu sebenarnya adalah efek fly alami dari tubuh kita sendiri. Kita ini sebenarnya masokis yang dibalut dengan kedok pecinta kuliner.

Selain itu, di cuaca Indonesia yang seringnya panas membara, makan pedas justru membantu mendinginkan tubuh. Saat kita berkeringat setelah makan pedas, proses penguapan keringat di kulit bakal bikin suhu tubuh terasa lebih sejuk. Teori yang sangat ironis, bukan? Membakar lidah demi mendinginkan badan.

Tips Singkat Buat Para Pejuang Pedas

Kalau kamu terjebak dalam situasi di mana mulutmu terasa seperti disembur naga setelah salah makan cabai, tolong jangan minum air putih banyak-banyak, apalagi air hangat. Itu cuma bakal meratakan rasa pedasnya ke seluruh penjuru rongga mulut. Carilah susu atau produk olahan susu seperti yoghurt. Lemak dalam susu mengandung kasein yang bisa mengikat capsaicin dan membilasnya dari lidahmu.

Akhir kata, dunia cabai adalah dunia yang penuh warna dan kejutan. Dari yang cuma bikin bibir sedikit merah sampai yang bikin pandangan mata jadi blur, semuanya punya tempat di hati (dan perut) kita. Tetaplah makan pedas, tapi ingat, cintai lambungmu sebagaimana kamu mencintai diskonan di tanggal kembar. Jangan sampai hobi makan sambal malah bikin kamu jadi penghuni tetap toilet selama tiga hari ke depan. Selamat makan, Sobat Pedas!