Mengapa kita lebih mudah mengingat hal memalukan dan pada pujian?
Laila - Friday, 03 July 2026 | 03:55 PM


Kenapa Memori Malu Selalu Menang Telak Lawan Pujian? Sebuah Investigasi 2 Pagi
Bayangkan skenarionya begini: Kamu baru saja memenangkan penghargaan karyawan terbaik bulan ini. Bosmu memuji setinggi langit di depan semua orang, teman-teman kantormu memberikan tepuk tangan meriah, dan orang tuamu bangga bukan main. Rasanya senang, kan? Pastinya. Tapi anehnya, kebahagiaan itu cuma bertahan mungkin sekitar dua jam. Begitu kamu sampai rumah, rebahan di kasur, dan mencoba memejamkan mata, tiba-tiba otakmu memutar ulang sebuah memori dari tahun 2016.
Memori itu bukan soal prestasi, tapi soal momen di mana kamu salah menyapa orang di mal—kamu melambai dengan semangat membara, padahal orang itu melambai ke orang di belakangmu. Detik itu juga, rasa malu yang rasanya sudah basi itu mendadak jadi segar kembali. Kamu meringis, menutupi muka pakai bantal, dan mendadak merasa jadi manusia paling bodoh sedunia. Selamat datang di klub "Overthinking Tengah Malam", sebuah fenomena di mana memori memalukan selalu punya kursi VIP di otak kita, sementara pujian sering kali cuma lewat di pintu belakang.
Evolusi: Warisan dari Nenek Moyang yang Takut Dibuang
Secara ilmiah, fenomena menyebalkan ini ada namanya: Negativity Bias. Ini bukan berarti kamu orangnya pesimis atau hobi menyiksa diri sendiri, tapi memang otak manusia itu sudah di-setting sedemikian rupa sejak zaman purba. Dulu, nenek moyang kita harus lebih peka terhadap ancaman daripada hal-hal menyenangkan kalau mau bertahan hidup.
Bayangkan kamu manusia gua. Kalau kamu melihat bunga yang cantik, itu bonus. Tapi kalau kamu melihat harimau atau memakan buah beracun, itu masalah hidup dan mati. Otak kita berevolusi untuk memprioritaskan informasi yang dianggap "berbahaya" agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Nah, dalam konteks sosial modern, momen memalukan dianggap sebagai ancaman bagi posisi kita di dalam kelompok. Diusir dari komunitas karena dianggap "aneh" atau "cupu" di zaman dulu itu sama saja dengan hukuman mati. Jadi, otakmu menyimpan memori malu itu rapat-rapat supaya kamu nggak melakukannya lagi.
Amigdala yang Suka Cari Perhatian
Ada bagian kecil di otak kita yang namanya amigdala. Fungsinya mirip kayak alarm kebakaran yang sangat sensitif. Ketika kita merasa malu, takut, atau terancam secara sosial, amigdala ini langsung aktif dan mengirimkan sinyal stres ke seluruh tubuh. Masalahnya, emosi negatif seperti malu itu jauh lebih kuat "perekatnya" di otak dibanding emosi positif seperti senang dapat pujian.
Seorang neuropsikolog pernah bilang kalau otak kita itu seperti "Velcro" (perekat) untuk pengalaman negatif, tapi seperti "Teflon" (lapisan antilengket) untuk pengalaman positif. Pujian itu ibarat air yang mengalir di atas teflon, licin dan cepat hilang. Sedangkan momen kamu salah manggil nama calon mertua? Itu nempel kayak permen karet di rambut. Susah banget dibuangnya!
Kenapa Pujian Malah Terasa Canggung?
Selain karena faktor biologis, ada faktor psikologis kenapa pujian itu gampang lewat. Banyak dari kita yang merasa nggak nyaman kalau dipuji. Ada semacam suara kecil di kepala yang bilang, "Ah, mereka cuma basa-basi," atau "Mereka nggak tahu aja aslinya gue kayak gimana." Kita sering kali meragukan validitas pujian itu sendiri.
Sebaliknya, ketika kita melakukan kesalahan yang memalukan, kita merasa itu adalah representasi diri kita yang paling jujur. Kita jadi hakim yang paling kejam buat diri sendiri. Kita merasa kalau orang lain bakal ingat terus momen itu selamanya, padahal kenyataannya? Orang lain juga lagi sibuk mikirin momen memalukan mereka sendiri. Fenomena ini disebut "Spotlight Effect", di mana kita merasa jadi pusat perhatian, padahal dunia sebenarnya nggak sepeduli itu sama kesalahan kecil kita.
Budaya dan Standar Sosial yang Tinggi
Di Indonesia sendiri, budaya "malu" atau "sungkan" itu kental banget. Dari kecil, kita sering diingatkan untuk nggak bikin malu keluarga atau jangan bertingkah aneh. Ini secara tidak langsung melatih otak kita untuk selalu waspada terhadap kesalahan sosial. Ketika kita akhirnya melakukan sesuatu yang dianggap "cringe", rasa bersalahnya jadi berkali-kali lipat lebih berat.
Pujian sering kali dianggap sebagai sesuatu yang bisa bikin kita jadi sombong, jadi kita secara tidak sadar mencoba untuk nggak terlalu meresapinya. Sementara itu, rasa malu dianggap sebagai alat kontrol diri. Makanya, memori memalukan itu rasanya lebih "berguna" buat kita untuk tetap membumi, meski caranya sangat menyiksa mental di jam 2 pagi.
Terus, Gimana Biar Nggak Terus Tersiksa?
Langkah pertama adalah sadar kalau ini semua adalah kerjaan otak yang lagi berusaha melindungi kamu. Alih-alih membenci diri sendiri karena mengingat hal bodoh sepuluh tahun lalu, coba katakan pada dirimu sendiri, "Oke otak, makasih pengingatnya, tapi sekarang kita aman kok."
Kedua, cobalah untuk mulai mengoleksi pujian seserius kamu mengoleksi memori malu. Tulis pujian kecil yang kamu dapat di notes HP. Baca ulang saat kamu merasa payah. Ini cara buat "mengasari" permukaan teflon di otak kita supaya hal-hal positif bisa sedikit lebih nempel.
Terakhir, ingatlah kalau semua orang punya daftar "cringe" mereka masing-masing. Temanmu yang kelihatan paling pede sedunia pun pasti pernah mengalami momen di mana dia salah masuk mobil orang atau ritsleting celananya terbuka saat presentasi. Kita semua sama-sama manusia yang penuh cela, dan itulah yang bikin hidup jadi sedikit lebih berwarna (dan lucu, kalau sudah lewat masanya).
Jadi, nanti malam kalau memori itu muncul lagi, nggak usah dilawan. Tertawakan saja, tarik napas dalam-dalam, dan tidurlah. Kamu sudah jauh lebih keren sekarang dibanding versi dirimu yang memalukan di masa lalu itu.
Next News

3 Juli, Hari Bebas Kantong Plastik Internasional
37 minutes ago

Benarkah Mengunyah Permen Karet Bisa Mempertegas Rahang?
40 minutes ago

Kenapa Tubuh Berkeringat Saat Makan Pedas?
43 minutes ago

Mengapa Pelangi Selalu Berbentuk Lengkungan?
3 hours ago

Kenapa Kabut Lebih Sering Muncul di Pagi Hari?
3 hours ago

Benarkah Tidur Siang Terlalu Lama Bisa Membuat Pusing?
3 hours ago

Seberapa Sering Bantal Sebaiknya Dicuci?
3 hours ago

Mengapa Yogurt Memiliki Rasa Asam?
4 hours ago

Kenapa Menguap Bisa Bikin Air Mata Keluar? Ini Jawabannya
4 hours ago

Mengenal Berbagai Jenis Cabai dan Tingkat Kepedasannya
4 hours ago





