Mengenal Anatomi Gurita Makhluk Mirip Alien dengan 3 Jantung
Liaa - Sunday, 17 May 2026 | 03:40 PM


Kenapa Gurita Punya Tiga Jantung? Sebuah Flex Anatomi yang Bikin Kita Merasa Cupu
Bayangkan sejenak kalau kamu lagi jatuh cinta, terus patah hati. Sakitnya tuh di sini, kan? Di satu jantung yang cuma segede kepalan tangan itu. Nah, sekarang bayangkan jadi seekor gurita. Dengan tiga jantung di dalam tubuhnya, apakah kalau mereka galau, rasa sakitnya jadi tiga kali lipat? Atau malah mereka lebih santai karena punya "cadangan" perasaan? Ya, ini jelas pertanyaan receh, tapi kalau kita ngomongin soal anatomi, gurita itu emang makhluk yang nggak masuk akal. Mereka seolah-olah didesain oleh alien yang lagi bosan sama hukum biologi Bumi.
Jujurly, kita sebagai manusia sering merasa jadi puncak evolusi. Tapi kalau dibandingin sama gurita, kita ini sebenarnya agak "standar" banget. Kita cuma punya satu jantung, darah merah yang membosankan, dan tulang yang sering encok kalau kelamaan duduk. Sementara itu, gurita muncul dengan gaya nyentrik: punya tiga jantung, darah warna biru, nggak punya tulang sama sekali, dan kepintaran yang bikin ilmuwan geleng-geleng kepala. Mari kita bedah pelan-pelan kenapa si makhluk tentakel ini butuh jantung sebanyak itu.
Dua Jantung Buat Insang, Satu Buat Seluruh Badan
Kalau kamu kira tiga jantung itu fungsinya sama semua, kamu salah besar. Gurita itu penganut prinsip pembagian kerja yang sangat efisien, nggak kayak grup WhatsApp kantor yang isinya cuma nanya "udah dikerjain belum?". Dua jantung pertama mereka disebut jantung brankial (branchial hearts). Tugasnya spesifik banget dan nggak mau diganggu gugat: memompa darah ke insang agar gurita bisa mendapatkan oksigen dari air laut.
Setelah darah itu kaya akan oksigen, barulah jantung ketiga yang disebut jantung sistemik (systemic heart) mengambil alih. Jantung inilah yang bertugas memompa darah ke seluruh bagian tubuh lainnya, mulai dari ujung tentakel sampai ke otak mereka yang encer itu. Bisa dibilang, jantung sistemik ini adalah "si paling sibuk" yang memastikan semua organ tetap hidup. Skema ini sebenarnya jenius banget karena memastikan tekanan darah tetap stabil saat proses pertukaran oksigen, sesuatu yang sangat krusial di lingkungan bawah laut yang tekanannya sering bikin kuping kita pengeng.
Darah Biru Bukan Karena Ningrat, Tapi Karena Tembaga
Ini bukan soal silsilah keluarga kerajaan, tapi soal kimia dasar. Darah kita merah karena mengandung hemoglobin yang berbasis zat besi. Nah, gurita beda lagi. Mereka menggunakan protein bernama hemosianin yang berbasis tembaga untuk mengikat oksigen. Hasilnya? Darah mereka berwarna biru transparan yang estetik parah.
Kenapa sih harus repot-repot pakai tembaga? Jawabannya adalah efisiensi di suhu ekstrem. Hemosianin jauh lebih jago dalam mengikat oksigen di lingkungan air laut yang dingin dan minim oksigen dibandingkan hemoglobin. Jadi, sistem tiga jantung ini sebenarnya adalah cara gurita buat mengompensasi kekurangan hemosianin yang secara teknis kurang efisien dalam mengangkut oksigen dibanding hemoglobin kalau di daratan. Dengan tiga mesin pompa sekaligus, aliran oksigen ke seluruh sel tubuh mereka tetap terjaga meski mereka lagi mager di dasar laut yang gelap.
Dilema Berenang: Jantung yang Suka Ngambek
Ada satu fakta yang agak menyedihkan sekaligus lucu tentang gurita. Kamu tahu nggak kalau jantung sistemik mereka bakal berhenti berdetak saat mereka berenang? Iya, kamu nggak salah baca. Begitu gurita pakai mode "jet" alias menyemprotkan air buat berenang cepat, jantung utama mereka langsung mogok alias berhenti berdetak sementara. Ini kayak kamu lagi lari maraton tapi tiba-tiba napas kamu ditahan paksa.
Karena alasan inilah, gurita sebenarnya lebih suka merayap atau jalan pelan-pelan pakai tentakelnya di dasar laut daripada berenang jarak jauh. Berenang itu melelahkan banget buat mereka karena bikin jantung berhenti, yang ujung-ujungnya bikin mereka cepat capek. Makanya, kalau kamu lihat gurita di dokumentari National Geographic, mereka itu sebenarnya kaum "slow living" yang lebih suka sembunyi di balik karang daripada pamer skill renang. Mereka hanya bakal berenang kalau emang beneran darurat, kayak lagi dikejar hiu atau pengen ngejar gebetan.
Bukan Cuma Jantung, Tapi Juga Sembilan Otak
Membahas tiga jantung rasanya kurang lengkap kalau nggak nyenggol soal otak mereka. Gurita itu seolah-olah makhluk yang dikasih fitur "overpowered" sama alam. Selain tiga jantung, mereka punya sembilan otak. Satu otak utama di kepala, dan delapan "otak mini" di setiap tentakelnya. Ini yang bikin tentakel gurita bisa bergerak secara mandiri.
Bayangin kalau kamu lagi makan seblak pakai tangan kanan, terus tangan kiri kamu secara otomatis ngetik laporan tanpa perlu kamu perintah. Itulah hidup gurita sehari-hari. Tentakel mereka bisa ngerasain tekstur, nyicipin makanan, bahkan memutuskan buat nangkep mangsa tanpa harus nunggu instruksi dari otak pusat. Kombinasi tiga jantung yang memompa darah biru ke sembilan otak ini menjadikan mereka predator yang sangat taktis dan cerdas.
Filosofi di Balik Tiga Jantung
Mungkin kita bisa belajar dikit dari gurita. Hidup itu butuh energi yang besar, dan kadang satu sumber tenaga aja nggak cukup. Gurita rela punya sistem yang ribet—pakai tiga jantung yang salah satunya suka berhenti—supaya mereka bisa survive di lingkungan yang nggak ramah. Mereka adalah bukti kalau alam semesta itu suka banget bereksperimen dengan desain-desain yang nggak lazim.
Tapi sayangnya, meski punya tiga jantung, umur gurita itu relatif pendek. Kebanyakan cuma hidup 1 sampai 5 tahun. Bahkan, setelah bereproduksi, kondisi fisik mereka biasanya menurun drastis dalam proses yang disebut senescene, di mana jantung-jantung mereka mulai melemah secara perlahan sampai akhirnya mati. Ironis ya? Makhluk yang punya cadangan jantung sebanyak itu tetap nggak bisa lari dari takdir penuaan yang cepat.
Akhir kata, kalau nanti kamu merasa hidup ini berat dan merasa nggak punya cukup energi buat menghadapi hari Senin, ingatlah gurita. Mereka harus mengelola tiga jantung, sembilan otak, dan darah biru yang ribet cuma buat sekadar nyari makan di dasar laut. Kita yang cuma punya satu jantung ini sebenarnya udah cukup beruntung karena nggak perlu pusing mikirin jantung mana yang lagi mogok pas kita lagi buru-buru berangkat kerja. Jadi, tetap semangat ya, wahai manusia berdarah merah!
Next News

Wisata Unik di Pulau Kucing Jepang
5 hours ago

Keindahan dari Taj Mahal
in 6 hours

Nostalgia Film Harry Potter
in 6 hours

Rok Hijau Cocok dengan Baju Warna Apa? Ini Dia 5 Rekomendasinya
in 6 hours

3 Resep Tahu Cabe Garam yang Crispy dan Gurih, Bikin Nagih!
6 hours ago

Sejarah dan Fakta Unik dari Tembok Besar China
in 6 hours

Otak Tetap Sibuk Saat Tidur? Simak Penjelasan Ilmiahnya di Sini
in 5 hours

Buaya tidak bisa menjulurkan lidah
in 5 hours

Kenapa Jendela Pesawat Bentuknya Bulat?
7 hours ago

Benar Gak Sih Hampir Semua Lipstik Mengandung Sisik Ikan
in 5 hours





