Menelusuri Sejarah Keranda: Simbol Penghormatan Terakhir yang Sarat Makna
Laila - Friday, 29 May 2026 | 01:25 PM


Menelusuri Jejak Keranda: Kendaraan Terakhir yang Nggak Pernah Pilih Kasih
Pernah nggak sih, pas lagi asyik nongkrong di teras sore-sore, tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari toa masjid atau mushola terdekat? Suaranya khas, agak mendem, dan biasanya dibuka dengan kalimat "Innalillahi". Detik itu juga, suasana yang tadinya ceria mendadak jadi agak "deep" dan kontemplatif. Nggak lama setelah itu, biasanya kita bakal melihat sekelompok orang menggotong sebuah kotak panjang yang ditutupi kain hijau. Yup, itulah keranda.
Bagi sebagian orang, melihat keranda lewat itu punya vibes yang campur aduk. Ada rasa ngeri, sedih, tapi sekaligus jadi pengingat kalau kehidupan ini ada tanggal kedaluwarsanya. Tapi, pernah kepikiran nggak sih, dari mana sebenarnya asal-usul benda ini? Kenapa bentuknya harus begitu? Dan sejak kapan manusia kepikiran buat bikin "kendaraan khusus" buat nganterin jenazah ke tempat peristirahatan terakhir?
Evolusi dari Selembar Tikar ke Kotak Kayu
Kalau kita tarik benang merah ke belakang, sejarah keranda itu sebenarnya sepanjang sejarah peradaban manusia menghargai kematian. Zaman dulu banget, pas manusia masih hidup nomaden atau di awal-awal peradaban, urusan bawa jenazah itu nggak seribet sekarang. Di beberapa kebudayaan kuno, jenazah cuma dibungkus kulit binatang atau diletakkan di atas anyaman ranting dan tikar buat diseret atau dipanggul.
Namun, seiring manusia makin "beradab" dan mengenal konsep penghormatan terakhir, mereka mulai bikin alat yang lebih layak. Di Mesir Kuno, misalnya, orang-orang kelas atas punya sarkofagus yang megah banget. Tapi buat rakyat jelata, mereka pakai semacam usungan kayu sederhana. Nah, konsep usungan inilah yang jadi cikal bakal keranda modern yang kita kenal sekarang.
Di Eropa zaman pertengahan, keranda (atau disebut bier) awalnya cuma papan kayu datar tanpa penutup. Tujuannya cuma satu: biar mayat nggak menyentuh tanah langsung pas dibawa ke liang lahat. Baru deh lama-kelamaan, biar nggak kehujanan atau menjaga privasi jenazah dari mata orang yang lewat, ditambahin penutup di atasnya. Jadilah bentuknya mirip kotak atau rumah kecil.
Masuknya Keranda ke Nusantara dan Sentuhan Budaya Islam
Di Indonesia sendiri, asal-usul keranda nggak bisa dilepaskan dari penyebaran agama Islam dan proses akulturasi budaya. Sebelum Islam masuk secara masif, masyarakat Nusantara yang mayoritas memeluk Hindu-Budha punya tradisi penguburan (atau pembakaran) yang berbeda-beda. Ada yang pakai wadah berbentuk hewan seperti lembu di Bali, atau peti mati kayu yang diukir indah di Toraja.
Pas Islam datang, dibawa oleh para pedagang Arab dan Gujarat, diperkenalkanlah konsep kesederhanaan dalam kematian. Dalam Islam, jenazah harus segera dimakamkan dengan cara yang tidak berlebih-lebihan. Keranda muncul sebagai solusi praktis sekaligus simbolis. Kata "keranda" sendiri konon berasal dari bahasa Sanskerta "Karanda" yang berarti kotak atau keranjang. Namun, dalam konteks penggunaannya, ia bertransformasi menjadi alat angkut jenazah yang egaliter.
Kenapa gue bilang egaliter? Karena di dalam keranda, nggak peduli pas hidup lo itu pejabat, influencer dengan jutaan follower, atau cuma rakyat biasa yang hobi ngutang di warung, perlakuan yang lo dapet bakal sama. Kain penutupnya biasanya hijau (warna yang identik dengan surga dalam literatur Islam), dan bentuk kerandanya ya gitu-gitu aja. Nggak ada keranda edisi terbatas atau kolaborasi sama brand streetwear ternama.
Kenapa Harus Besi atau Kayu?
Kalau kita perhatiin di kampung-kampung atau perumahan, sekarang ada dua kubu besar keranda: tim kayu dan tim stainless steel. Dulu, keranda kayu jadi primadona karena bahannya gampang dicari dan bisa dibuat oleh tukang kayu lokal. Tapi masalahnya, kayu itu berat dan gampang keropos kalau nggak dirawat. Belum lagi kalau sudah kena air hujan, wah, bebannya makin berlipat-lipat buat yang gotong.
Makanya, masuklah era stainless steel. Ini kayak upgrade teknologi di dunia "per-mayatan". Stainless steel lebih ringan, tahan karat, dan kelihatan lebih bersih. Biasanya keranda jenis ini juga dilengkapi roda di bagian kaki-kakinya biar lebih gampang didorong kalau jalannya rata. Meski begitu, nilai estetikanya mungkin nggak se-klasik keranda kayu yang punya ukiran kaligrafi halus di sampingnya.
Ada hal menarik soal bentuk penutupnya yang melengkung. Ternyata itu bukan tanpa alasan. Bentuk melengkung itu terinspirasi dari bentuk kubah atau "kurung" burung. Tujuannya selain biar air hujan langsung mengalir jatuh, juga buat ngasih ruang sirkulasi udara (meskipun jenazahnya udah nggak napas, sih) dan biar kain penutupnya nggak langsung nempel di wajah atau tubuh jenazah. Sopan santun terhadap yang sudah meninggal itu nomor satu di budaya kita.
Mitos, Urban Legend, dan Sisi Gelap Keranda
Nggak afdol ngomongin keranda kalau nggak nyenggol urusan mistis. Di Indonesia, keranda itu magnet buat cerita-cerita horor. Masih inget tren film atau sinetron tahun 2000-an soal "Keranda Terbang"? Wah, itu sukses bikin anak-anak zaman dulu takut keluar malem kalau denger suara kayu berderit.
Ada kepercayaan di beberapa daerah kalau keranda itu punya "nyawa". Katanya, kalau keranda tiba-tiba terasa berat banget pas digotong, itu tanda kalau si jenazah punya banyak beban atau dosa. Sebaliknya, kalau enteng banget, katanya si jenazah orang baik. Secara logika sih, mungkin itu faktor stamina yang gotong aja lagi drop atau emang massa tubuh jenazahnya beda-beda. Tapi ya namanya juga bumbu kehidupan di masyarakat, hal-hal kayak gini yang bikin budaya kita jadi berwarna.
Bahkan, ada juga mitos kalau kita nggak sengaja nabrak atau berpapasan sama keranda di jalan, kita harus berhenti sebentar sebagai bentuk hormat biar nggak "diikutin". Terlepas dari benar atau nggaknya, ini sebenarnya mengajarkan etika sederhana: menghargai mereka yang sudah selesai dengan urusan duniawi.
Refleksi: Kendaraan yang Pasti Kita Naiki
Kalau dipikir-pikir pake logika santai, keranda itu sebenarnya kendaraan paling jujur yang pernah ada. Mobil mewah mungkin bisa pamer status, motor sport mungkin bisa pamer kecepatan, tapi keranda cuma mau ngasih tau satu hal: "Lo udah nyampe di garis finish."
Melihat asal-usul dan sejarahnya yang panjang, keranda bukan cuma benda mati dari kayu atau besi. Ia adalah saksi bisu dari jutaan cerita manusia yang sudah pamit. Ia adalah simbol transisi dari hiruk-pikuk dunia menuju keheningan liang lahat. Jadi, lain kali kalau kalian melihat keranda lewat, jangan cuma mikir seremnya doang. Anggap aja itu lagi ngeliat "bus jemputan" yang suatu saat nanti bakal mampir ke depan rumah kita masing-masing tanpa perlu kita pesan lewat aplikasi.
Misteri kematian emang nggak pernah ada habisnya buat dibahas, tapi setidaknya lewat sejarah keranda, kita jadi tahu kalau manusia itu, sejak zaman dulu, selalu punya cara buat menghargai sebuah perpisahan. Singkatnya, keranda itu pengingat kalau di akhir cerita, kita semua bakal balik ke titik yang sama, pakai kendaraan yang sama, menuju rumah yang sama pula. Tetap rendah hati ya, gaes, karena tiket buat naik keranda itu nggak ada yang tahu kapan bakal dicetak.
Next News

Anak Pintar di Rumah Nenek tapi Tantrum Sama Bunda? Ini Sebabnya
in 3 hours

Hidup Tanpa Google Maps Begini Beratnya Perjuangan Zaman Dulu
in 3 hours

Trik Rahasia Pose Foto Estetik Buat Kamu yang Suka Kagok
in 3 hours

Rahasia Cantik Artis Korea Untuk Pori-Pori Wajah Besar
in 3 hours

Sering Gatal Saat Tidur? Kenali Penyebab Gatal di Malam Hari
in 3 hours

Tips Membasmi Kepinding Agar Tidur Makin Nyenyak dan Nyaman
in 3 hours

Kenapa Mata Kucing Menyala di Malam Hari Simak Penjelasannya
in 2 hours

Menguak Mitos Punuk Unta dan Rahasia Tubuhnya yang Hebat
in 2 hours

Ternyata Begini Cara Orang Zaman Dulu Menyetrika Tanpa Listrik
in 2 hours

Sejarah dan Teknologi Popok Bayi yang Belum Kamu Tahu
a minute ago





